
melihat gelagat teman-teman sekelas Dimas, azkara langsung mengerti, dia berjalan menghampiri Dimas perlahan, mengulurkan tangannya lalu menepuk wajah Dimas dua kali dan berkata "nak, jika kamu tidak punya uang jangan sok jadi orang kaya jadilah orang yang rendah hati ok!"
"baik, baik"
Azkara pun tanpa sengaja melihat Wanita cantik di sebelah Dimas lalu berkata "bagaimana jika kamu tinggal kan wanita ini dan kamu boleh pergi?"
"ha?" Dimas tertegun.
"tidak setuju?" Azkara bertanya kepada Dimas dengan senyum mengejek ia tidak rugi sepeserpun jika Dimas menolak tawarannya justru lelaki itulah yang akan rugi justru akan jadi miskin dalam waktu semalam.
''tidak brani tidak brani bersenang-senanglah kak Azkara bersenang-senanglah...."setelah berkata seperti itu Dimas tidak berani melihat ekspresi Andini melainkan mengambil kinci mobilnya diatas meja bersiap melarikan diri dari sana.
"Dimas! kamu bajingan!" Andini gemetaran karena marah, dia tidak mengira Dimas yang memiliki penampilan seperti pria elit ternyata sampah, sedangkan teman sekelasnya yang lain juga sibuk menghindar, semuanya sepertinya tampak takut mendapatkan masalah.
Hanya Edi yang tidak memiliki ekspresi apapun diwajah nya. Bukan karena hal lain, melaikan karena Azkara adalah orang yang di bimbingnya secara diam-diam saat dia masih tinggal di keluarga Simon.
Saat itu Azkara sudah terjun ke masyarakat pada usia muda, tetapi dia tidak punya uang dan tidak mempunyai kekuasaan, beberapa kali dia hampir mati di jalan karena dibacok orang, begitu Edi bertemu dengannya, Edi melihat potensi pada diri Azkara lalau dia memutuskan untuk membantunya.
Tidak diduga hanya dalam beberapa tahun saja, Azkara sudah berkembang dengan baik.
Namun Edi tidak bermaksud untuk menyatakan identitasnya kepada Azkara, beberapa tahun telah berlalu dan dia bukan lagi pewaris keluarga Simon dan Azkara belum tentu ingin bertemu dengannya lagi.
Jadi saat ini dia memilih untuk diam saja di tempatnya, walaupun mungkin sebenarnya bisa saja dia menghampiri Azkara dan mengatakan untuk menyudahi semua keributan ini.
Pada saat ini Azkara yang awalnya tampak bengis, akhirnya melirik orang lain di dalam ruangan, ketika pandanganya menyapu tubu Edi dia terhenyak.
Detik berikutnya wajah Azkara beruba aura arogan,mendominasi dan bengis yang dipancarkannya sirna seketika, sebaliknya ia berjalan cepat ke sisi Edi dan bekata dengan suara pelan "pak, Edi ternyata kamu ada disini, mataku sudah rusak mohon maaf kan aku!"
__ADS_1
Melihat adegan itu semua orang di dalam ruangan tercengan, bagaimana bisa orang seperti Azkara bisa mengenal Edi?
Azkara yang baru saja berlagak sangat angku,
seorang mafia yang mampu mematikan meraka semua dengan hanya mengangkat jari-jarinya, malah berdiri disamping Edi dengan sikap hormat, bagaikan murid yang mendengarkan omelan gurumya
Bahkan para bawahan Azkara juga terlihat terkejut, bos mereka ini terkenal tidak takut pada siapapun. Bahkan terkenal kejam! Sejak kapan dia bersikap begitu hormat kepada seseorang?
Hanya Edi satu-satunya yang tidak memiliki ekspresi disana, tidak terlihat kesenangan,kemarahan,kesedihan, maupun kegembiraan di wajah nya, Azkara berpikir kalo Edi tidak mengenalnya lagi, tapi ia salah saat Edi akhirnya menyahut.
"lama tidak bertemu" setelah beberapa saat Edi menghela nafas mengulurkan tangan dan menepuk bahu Azkara "sudahlah bagaimanapun mereka adalah teman sekelasku"
"baik! Aku mendengarkan kata pak Edi mari kita lupakan semua ini! Usir mereka semuanya keluar jangan mempengaruhi pertemuan ku dengan pak Edi" Azkara tampak sangat bersemangat,
Dengan segera, teman sekelas Edi yang penampilanya ane-aneh diusir keluar dari hotel platinum rasah penasaran membayang di wajah mereka semua, tapi dengan atmosfer yang benar-benar berbeda disana tidak ada yang berani melawan atau bahkan bertanya mengapa Edi tetap berada di dalam hotel mewah tersebut.
......
"tidak disangka ternyata Edi yang menyelamatkan kita, tp mengapa dia bisa mengenal bos hotel platinum?" gumam hannah, gumamannya disetujui banyak orang di sana.
Mereka semua tentu saja terkejut akan. Fakta yang baru mereka ketahui itu, tapi tak banyak yang berani menyuarakannya, bisa saja Azkara mendengarnya dan membuat mereka kembali dalam masalah.
"Apakah kita semua telah salah menilainya? sebenarnya dia orang yang sangat hebat "Andini berbisik pelan,
"mana mungkin salah?" Dimas di satu sisi, benar-benar panik saat ini, dia merasa teramat malu malam ini, sehingga sekarang berusaha mengembalikan reputasinya kembali.
"oh aku tahu Edi pasti seles anggur, dia telah berkolusi dengan hotel platinum sejak lama dan ingin menipu uang kita.."ujar Dimas dengan getir
__ADS_1
"kalau dia ingin menipu uangmu, mengapa membiarkanmu keluar?" protes hannah, ia tak terima Dimas bicara macam-macam mengenai Edi padahal Edi lah yang menyelamat kan mereka semua
"itu karena dia mendengar kalau aku akan lapor polisi mangkanya dia merasa takut" sahut dimas dengan suara gemetar tapi ia berusaha menyembunyikannya "ya pasti jika tidak bagaimana mungkin masalah ini bisa selesai semuda ini! Dasar Edi bajinag! Masalah ini masih belum selesai!" Dimas berseru dengan gusar.
Yang lain saling memandang dan merasa yang dikatakan Dimas masuk akal.
"ya! Masalah ini masih belum berakhir..." sahut salah satu teman Dimas.
"Edi menantu yang tidak berguna itu, teman sekelas saja dia tipu, lain kali kalo bertemu dia lagi, aku akan memberikan pelajaran padanya...."
Meskipun marah-marah tapi tidak ada seorang pun yang berani masuk ke dalam hotel platinum, untuk mencari masalah dengan Edi, setelah beberapa saat mereka pun meninggalkan tempat tersebut dengan muram.
Setelah Andini menolak ajakan Dimas untuk mengantarnya dia masuk kedalam mobil porche dengan segera dia meninggalkan tempat itu, dan menyisakan Dimas yang menggertakkan giginya dengan kesal.
......
Saat ini di ruangan pribadi hotel platinum, hanya tersisa Edi dan Azkara. Azkara mengusir semua bawahannya agar bisa berbicara dengan leluasa dengan Edi.
Azkara masih tetap berdiri dengan kepala tertunduk. Namun dia melihat keluar jendela dan berkata dengan dingin "pak, orang-orang ini benar-benar tidak tahu berterimakasih apakah anda mengingin kan saya....."
"lupakan" Edi tersenyum dan tidak memasukkannya kedalam hati, jika bukan karena hannah sendiri dia malas bertindak.
"baik!" Azkara tidak berani membantah, Azkara lebih memili untuk membicarakan hal lain yang selama ini membuatnya penasaran "pak anda kerja dimana sekarang? Saya tidak berhasil menemukan anda selama beberapa tahun terakhir.....?
"pelan-pelan kamu akan tahu" Edi tidak menjawab pertanyaan Azkara "ingat saat kamu bertemu dengan ku lagi dimasa depan panggil nama ku saja"
"baik pak"
__ADS_1
Bersambung.......