
Setengah jam kemudian Edi tiba di depan gerbang perusahaan Clara, baru saja dia mau memasuki gerbang tiba-tiba petugas keaman mengulurkan tongkat listrik ke dada Edi dan berkata dengan dingin "pergi, kami tidak menerima pengemis disini!"
Edi baru saja bangun dan masih belum mandi apalagi dia saat ini menggunakan kaos oblong dan celana pendek yang berlubang sehingga benar-benar seperti seorang gelandangan di pinggir jalan.
Edi sendiri sudah terbiasa dengan perlakuan seperti ini sehingga dia hanya tersenyum dan berkata "pak satpam, aku datang kemari untuk mengantarkan dokumen untuk istriku"
"laki-laki sepertimu masih punya istri?" petugas keamanan itu tampak curiga "apakah istrimu mbak yang jadi petugas kebersihan atau yang bekerja di dapur belakang?"
"istriku adalah Clara" ujar Edi
Petugas keamanan itu terkejut, setelah beberapa saat dia tertawa dan berkata "oh kamu rupanya jadi kamu menantu yang menumpang hidup di keluarga Yu, hahahaha....."
Edi menggelengkan kepalanya dia tidak diduga ternyata dia sangat terkenal .
"baiklah berikan dokumennya padaku Bu Clara sudah berpesan jika kamu datang berikan saja dokumennya padaku" ujar petugas keamanan itu.
"tidak bisa" Edi menggelengkan kepalanya dan berkata dengan tegas "katanya dokumen ini sangat penting, jadi aku harus mengantarkanya secara pribadi kepada istriku, jadi tolong izinkan aku...."
"kamu" petugas keamanan menunjuk Edi dengan exspresi tidak percaya, apakah anak ini sakit jiwa? Memangnya dia tidak tahu ada berapa banyak keluarga YU yang tidak menykainya? Sekarang dia ingin masuk menggunakan pakaian seperti ini? Apakah dia tidak takut menjatuhkan citra perusahaan?
Saat keduanya sedang berbicara tiba-tiba terdengar raungan mesin dibalakang, sesaat kemudian BMW seri 5 berhenti di samping motor listrik Edi, detik berikutnya terlihat Tedy turun dari mobilnya sambil membawa buket bunga mawar ditangannya,
"hallo pak Tedy!" melihat Tedy, petugas keamanan yang tadinya berbicara dengan nada tinggi itu mengangguk dan membungkuk dengan hormat "pak Tedi silakan kearah sini Bu Clara sudah lama menunggu anda di kantor"
__ADS_1
Tedy mengangguk sama sekali tidak melihat ke arah Edi, dia berbalik dan langsung memasuki pintu perusahaan.
Tepat saat Edi hendak mengikuti langkah Tedy, petugas itu kembali mengangkat kembali tongkat listrik dan menghentikannya sekali lagi,
"apa maksudmu? Mengapa dia boleh masuk sedangkan aku tidak boleh?" bentak Edi sambil memelototi petugas keamanan.
Petugas keamanan menghela nafas dan berkata "Edi, bagaimana kamu sebagai menantu yang numpang hidup di keluarga Yu bisa dibandingkan dengan pak Tedy? Coba kamu lihat parfum dan mawar yang dibawa pak Tedy di tangannya paling murah harganya jutaan mampukah kamu mengeluarkan uang sebanyak itu? Menurutku sebentar lagi kamu tidak perlu menjadi manantu keluarga Yu Lagi"
Edi tertegun sejenak dan mengerutkan keningnya "apa maksudmu?"
"apa maksud ku? Apakah kamu benar-benar bodoh apa berpura-pura bodo? Yang terjadi di pesta ulang tahun tadi malam sudah tersebar luas siapa yang tidak tahu pak Tedy sedang mengejar Bu Clara? Merak berdua pasangan yang serasi melihat penampilan konyolmu ini aku benar-benar tidak mengerti Bu Clara bisa menikahimu" pertugas keamanan itu mengomel
........
Saat melihat Tedy dia mengangguk sambil tersenyum dan berkata "pak Tedy saya sudah lama menunggu anda"
Tedy menyipitkan matanya seberkas sinar keserakahan yang hampir tak terlihat melintas di matanya
Tanpa sadar dia menjilat bibirnya kemudian mengulurkan buket bunga di tangan nya dengan anggun "ada pepatah mengatakan hadiahkanlah pedang terkenal kepada kesatria dan hadiahkanlah bunga segar kepada wanita cantik Clara kamu lebi cantik dari pada bunga jadi hanya kamu yang pantas menjadi pemiliki buket bunga ini"ujarnya sambil tersenyum.
Clara mengerutkan keningnya adegan semalam terlintas di benak nya saat Tedy melamarnya ke keluarga Yu di depan umum berita itu tersebar luas di kota D. dan hari ini Tedy kembali mengejar dirinya secara terang-terangan,
Awalnya Clara tidak mau bertemu dengan Tedy, tetapi sekarang perusahaan nya sedang kekurangan dana dan dia terpaksa meminta bantuan kepada Tedy.
__ADS_1
Memikirkan hal ini Clara tersenyum dan berkata "pak Tedy terlalu sungkan hari ini saya yang mengundang pak Tedy datang untuk membahas tantang kerja sama kita, bagaimana saya bisa menerima hadiah dari pak Tedy?"
"hanya hadiah kecil tidak ad maksud lain, apakah Clara menolak hadia dariku karena merasa niatku kurang tulus? Nah bagaimana jika aku meminta seseorang kengirimkan mawar melalui udara dari praha?" ujar Tedy sambil tersenyum
"tidak perlu produksi mawar praha tahun ini kurang baik, kabarnya harga satu tangkai mawar adli sudah mendekati 200 juta benar-benar tidak sepadan..."Clara menggelengkan kepalanya meskipun dia dangat menyukai mawar praha, tapi dia juga tidak tahan dengan harganya yang menjulang tinggu.
" dua ratus juta satu tangkai?" Tedi menggerak kan sudut matanya dia tidak mungkin membeli hanya satu tangkai sebagai hadia bukan? Mawar yang diawanya sekarang ad 100, jika dia benar-benar ingin menghadiah kannya mawar praha setidaknya harus dengan jumbla yang sama dan itu berati lebih dari 20 miliar.
Memikirkan hal itu Tedy, yang biasanya selalu bangga dengan kekayaan nya tanpa sadar menjadi sedikit malu.
Dan saat ini Edi yang tadinya berada di luar lobi tiba-tiba melewati petugas keamanan dan bergegas masuk, dia merai bunga yang ad ditangan Tedy langsung melemparnya ke lantai.
"istriku kamu tidak boleh menerima pemberian dari orang lain, jika kamu suka suamimu akan mebelikanya untuk mu cuma mawar bukan?" Edi tidak tahu keberadaan nya datang dari mana dia merai tangan mungil Clara lalu hendak menariknya masuk ke lift
"Edi lepaskan omong kosong apa yang kamu bicarakan?" Clara berteriak dengan suara renda.
Tempat ini adalah lobi perusahaan dimana banyak orang berlalu lalang sebagai seorang manajer umum, dia tidak mau menjadi lolucon dihadapan orang banyak oleh karena itu saat ini Clara secara tidak sadar ingin menarik tanganya namun tangannya dipegang erat-erat oleh Edi.
"brengsek kembali kesini" Tedy pada awalnya merasa sedikit canggung, namun sekarang dia gemeteran karena marah,buket bunga ini di pilih sendiri oleh nya dengan cermat, harganya hampir 20 juta sebelumnya dia sempat memberikanya kepada Clara sebelum di lempar ke lantai mungkin dia tidak marah
Yang paling penting adalah si pecundang itu memengang tangan daru pujaannya, sedangkan dia sendiri belum sempat menyentuh nya.
"mampuh kah kamu mengganti bunga yang kamu rusak ini? Kamu kira kamu siapa?" Tangan kiri Tedy menahan pintu lift yang akan tertutup lalu membanting sampai terbuka "pecundang jika kamu tidak memberikan penjelasan yang memuaskan hari ini aku akan menghajarmu" teriak Tedy dengan penuh amarah
__ADS_1