
Dalam beberapa tahun terakhir, Hery telah sukses dalam memulai bisnis, dia telah beberapa kali mengirim orang untuk mencari Edi, namun dia malah mendapat kabar kalo pria itu telah di usir dari kediaman keluarga Simon dan sejak itu keberadaannya tidak lagi di ketahui.
Kini, meskipun hanya melihat punggung Edi, Hery bisa mengenalinya.
"Den apakah itu kamu....?"
Suara Hery sedikit bergetar, sungguh sulit dibayangkan, seorang pria yang sudah melihat luasnya dunia, kini malah terlihat seperti anak kecil,
Sial! Aku tidak bisa bersembunyi lagi!
Edi kemudian menggertakkan giginya dan berbalik menatap kedua mata Hery.
Brak!
Sedetik kemudian, Hery dengan lemas langsung berlutut di tanah.
"akhirnya aku bertemu lagi denganmu, aku sudah mencarimu selama 3 tahun penuh aku tidak akan pernah melupakan kebaikan mu" ujar Hery penuh emosi, tanpa sadar wajah nya penuh dengan air mata.
Pada saat yang bersamaan, semua orang yang ada di hotel mutiara Timur membelalakkan mata mereka sangking tidak percayanya.
Mereka semua benar-benar kaget!
Seorang bos miliarder pemilik hotel ternama dikota D. Berlutut di tanah dan merasa sangat senang seperti seorang anak kecil,
Terlebih lagi Edi berdiri disana dan tampak tidak terkejut sedikitpun dan tidak ada emosi sedikitpun diwajah nya.
Situasi macam apa ini?!
"Pak Hery apa yang anda lakukan? Kenapa bisa jatuh?" Edi lalu dengan cepat membungkuk dan menopang tubuh Hery, dia mengedip-ngedipkan mata pada Hery tanpa henti.
Hery adalah orang yang cerdas, begitu melihat gerak-gerik Edi, dia langsung paham dengan maksud pemuda itu, Hery tahu kalau Edi tidak ingin mengungkapkan identitasnya, di depan anggota keluarga besarnya.
"aku tersandung...." ujar Hery yang akhirnya bisa berbicara dengan lancar, dia lalu menghela nafas "maaf aku salah orang..."
Huft!
Mendengar hal itu seluruh anggota keluarga Yu merasa legah, ternyata hanya tersandung saja,
Benar bagaimana mungkin pecundang itu bisa kenal dengan pak Hery?
__ADS_1
"dengarkan Oma" ketika itu Oma akhirnya membuka matanya dan melihat sekeliling.
"makanan ini lebih dari 60 miliar, kita tidak bisa membiarkan Heru mengatasinya sendiri" ujar sang nenek.
Mendengar ucapan neneknya, Heru seketika tampak legah, dia merasa kalau neneknya masih sangat baik kepadanya.
"makanan ini satu orang habis sekitar 200 juta, setiap orang bayar makanan masing-masing" tambah nenek.
Orang-orang dikerumunan itu langsung mengangguk satu persatu, meskipun keluarga Yu adalah keluarga kelas dua di dalam masyarakat, tetapi membayar 200 juta perorang bukanlah perkara sulit.
Hanya wajah dua orang yang beruba pucat pasi diantara kerumunan anggota keluarga!
Tentu saja mereka adalah Clara dan Julia saat ini perusahaan mereka sedang mengalami masalah, mereka baru saja menutup kekurangan uang sebesar 10 miliar. Ditambah lagi uang tabungan mereka yang baru saja kandas beberapa hari yang lalu.
"Clara kok wajahmu kebingungan hahaha masak meskipun sudah patungan kamu nggak bisa bayar?" tiba-tiba Heru berteriak menghina, dia tahu kalau Clara sudah kehabisan uang, dia berkata dengan keras hanya untuk menjelek-jelekkan Clara saja.
"Aku....aku" masalah Clara sudah diketahui oleh orang lain, dan seketika itu wajahnya pun memerah, setelah sekian lama dia pun berkata "aku..... Aku lupa membawah kartu ATM"
"hahaha nggak bawah kartu ATM katanya? Alasan yang bagus Clara!" Heru kembali tertawa kini pandangannya berali pada Julia yang berdiri di sebelah Clara "kalau tante Julia gimana? Tante bawah kartu ATM nggak?"
"nge...."
Tiba-tiba saja seorang wanita muda berkata "Edi pasti juga pasti nggak bawah, kalian bertiga ini, memang datang untuk makanan bangsawan ya"
Clara menggigit bibir bawahnya kuat-kuat sangking bingungnya, hingga akhirnya Edi mengambil langkah maju.
"aku bawah kartu, hanya saja..."
Sebelum Edi menyelesaikan kata-katanya , Heru sudah merampas kartu ditangan Edi dan langsung menyerahkannya kepada pelayan.
"pelayan coba lihat apa isi kartu ini cukup untuk membayar 600 juta?"
Telapak tangan Clara sudah dingin, dia sangat cemas jika uang dikartu ATM suaminya tidak cukup untuk membayar tagihan makanan mereka bertiga, dia setiap hari hanya memberi Edi 200 ribu, jadi mana mungkin suaminya punya 600 juta di kartu ATMnya.
Bukankah ini hanya akan mempermalukan dirinya sendiri?!
Clara bisa merasakan bahwa orang-orang di sekelilingnya sudah tidak bisa menahan senyum mereka, siap melihat lelucon dihadapan mereka.
Namun, ketika itu tidak ada yang memperhatikan bahwa Rahel bangkit perlahan-lahan dari kursinya, wajah cantiknya terlihat sangat terkejut
__ADS_1
"aku nggak salah kan? Bank amathyst ?black card?!"
Sedetik kemudian hotel yang tadinya penuh cemoohan seketika menjadi sunyi perkataan Rahel barusan seperti mantra sihir, yang membuat semua orang terganggu tak bersuara.
Kartu bang itu sangat indah berwarna hitam dengan berlian dan emas yang terukir di atas nya, di sudut kanan bawah itu ada dua kata Edi Simon.
Black Card dari bank Amathyst!?
Ada apa ini?! Platinum card milik Heru saja membutuh kan deposit minimal 20 miliar!
Di atas Platinun card ada Diamon Card yang membutuhkan deposite sebesar 200 miliar.
Di atas Diamond Card ada Supreme Card yang membutuhkan deposite minimal sebesar 1 triliun.
Lalu di tingkat tertinggi ada Black Card yang deposite minimalnya mencapai 20 triliun.
Mungkin saja di seluruh kota D, hanya dimiliki tiga orang, tidak ada yang bisa memilikinya bahkan seorang Hery Donka sekalipun.
Clara dan Julia membeku di tempat, mereka berdua tidak bisa berkata apa-apa selain membelalakkan mata mereka seperti orang lain
"itu.... Hanya kartu yang di tempeli stiker kan?" tiba-tiba seseorang dari kerumunan muncul dan berkata demikian.
Seketika semua orang merasa legah, itu pasti bukanlah kartu apa-apa yang di tempeli stiker saja, orang miskin seperti Edi mana mungkin punya Black Card.
"hahaha Edi kamu benar-benar menggelikan" Heru tertawa dengan keras "kalau orang miskin, miskin saja jangan berpura-pura jadi orang kaya.
Edi hanya diam sambil memasang seulas senyum tipis di wajahnya.
Tiba-tiba saja, Clara bergegas maju, dia melihat pelayan sudah menggesek kartu milik Edi, mau tidak mau dia berbisik di samping telinga milik suaminya,
"Edi cepat ambil kembali kartumu malu tahu! Tapi uang di dalam kartu itu apa cukup?"
"cukup uang yang kamu kasih setiap hari semuanya aku tabung, selain itu masih ada uang deposito milik ku semuanya cukup!" ujar Edi lembut.
Hahahaha.
Meskipun nada bicara Edi sangat renda, masih banyak orang yang bisa mendengarnya, dan begitu mereka mendengarnya gelak tawa kembali terdengar bahkan lebih keras.
Setelah selesai membayar dan seluruh anggota keluarga Yu pergi dari hotel Mutiara Timur, Hery diam-diam mengamit lengan Edi dan membawanya menuju ke mobil
__ADS_1
Bersambung.......