Menantu Terkeren

Menantu Terkeren
benar-benar tidak spadan


__ADS_3

"kamu...... Edi?"


Dimas menatap Edi dengan tatapan bingung, setelah beberapa saat dia mrncibir dan memarkirkan mobilnya dan langsung masuk kedalam hotel.


Edi benar-benar malu, dia berinisiatif menyapa Dimas, namun Dimas tidak mengindah kannya.


Keduanya berjalan memasuki ruang an, saat ini semua teman sekelas mereka telah hadir disana saat pintu dibuka pandangan semua orang tertuju ke pintu,


"apakah ketua kelas sudah tiba? Ketua kelas sudah jadi orang sukses sekarang! Tampan sekali!'' seseorang berteriak, saat ini dimas menggunakan jas dan sepatu dari kulit, serta kunci mobil audi tergantung di pinggangnya benar-benar terlihat sangat tampan.


Dengan segerah seseorang menyadari Edi yang berjalan di belakang Dimas, meskipun setelan yang ia gunakan tidak pas, namun setelan itu terlihat sangat inda, mewah, dan merek terkenal.


Seorang teman sekelasnya melihat lalu tertawa dan berkata "Edi tampaknya kamu juga sudah menjadi orang sukses sekarang, mari-mari, dua tempat utama ini untukmu dan ketua kelas"


Dimas melirik Edi, dan menggelengkan kepalanya dan tidak berkata apa-apa untuk sementara, dia tidak mengungkap kan fakta bahwa Edi mengendarai motor listrik butut kesini.


Edi menggumamkan "Oh" dan tidak terlalu peduli dengan aturan tempat duduk melainkan melihat sekelilingnya. Para murid wanita di kelas meraka tidak benyak yang cantik, tetapi anak populer Andini masih saja sangat, dan pantas disebut dewi.


Hari ini Andini menggunakan satu set pakaian formal ketat, yang memperlihat kan sosoknya yang indah seperti buah persik yang matang, sangat menarik perhatian.


Bahkan Dimas yang akuh juga memperhatikan Andini saat ini dan matanya berbinar seketika, dia langsung menghampiri andini dan tersenyum "ternyata dewi Andini, sudah lama tidak bertemu mengapa dewi tidak pernah berinisiatif menghubungiku? Kerja dimana sekarang?"


Andini tersenyum simpul dan berkata dengan rendah "aku bukan orang sukses, tidak sehebat ketua kelas yang mengendarai mobil audi"


Mata Dimas berbinar begitu mendengar kata-kata andini, tampaknya dia punya harapan, bisakah audi yang ia beli dengan cicilan itu membuatnya mendapat perhatian sang dewi?


Sebelum Dimas menjawab, sudah ada seorang gadis yang suka bergosip disebelahnya dan menyeringai dan berkata "ketua kelas, kamu jangan sampai tertipu oleh dewi kita, kamu tidak tahu kalau Andini luarbiasa sukses sekarang, dia akan segera menjadi selebriti! Katanya dia akan segera menandatangani kontrak dengan Company entertaimen"


"wow!"


Semua orang langsung gempar karena mendengarnya siapa yang tidak tahu kekuatan company entertaimen di kota D, entah sudah berapa banyak perusahaan dan wiraswasta yang mendapat suntikan dana dari Company Entertaimen, walaupun perusahaan itu tidak menggunakan melakukan bisnis fisik, namun dia memiliki pengaru di semua lapisan masyarakat.


Jika Andini menjadi selebriti diusia yang begitu muda, itu berarti dia memiliki pengaruh yang tinggi, jika ad pria yang bisa mendapatkan Andini, pria itu tidak hanya mendapatkan kecantikannya juga dapat menguasai banyak sumber daya keuntungan yang didapat sulit dibayangkan banyaknya.


Apalagi wanita ini begitu cantik sehingga dia tidak kalah dengan beberapa selebriti pringkat atas, banyak pria disana yang merasa malu pada diri mereka sendiri dan tidak dapat menahan diri untuk menelan air liur.


Awalnya Edi tidak terlalu tertarik pada Andini namun begitu mendengar nama Company Entertaimen, Edi pun tertarik seketika bagai mana pun perusahaan itu sudah menjadi miliknya sekarang dengan kata lain, Andini adalah salah satu artis yang dikontrak oleh perusahaannya.


Memikirkan hal itu Edi tersenyum lalu menghampiri dan duduk di sebelah Andini, bersiap untuk berbicara dengan nya.

__ADS_1


Andini tersenyum kecil pada awalnya, namun dia langsung mengerutkan keningna setelah menilai Edi dari atas kebawah lalu berkata "Edi bisa kah kamu tidak duduk disini?"


"ha? Apakah ad orang yang duduk disini?" tanya Edi sambil berdiri


"tidak ad aku hanya tidak ingin kamu duduk di sampingku" kata Andini "jas yang kamu pakai memang bagus, tapi sandalmu tidak jangan-jangan jas yang kamu pakai ini pinjam dari seseorang?"


Begitu mendengar pertanyaan Andini, banyak orang baru memperhatikan bahwa meskipun setelan yang dipakai Edi memiliki tekstur yang bagus,namun ukurannya tidak terlalu sesuai


Yang paling pentinga adalah dia menggunakan sepasang sendal dengan beberapa lubang di atasnya, dan jempol kaki kirinya terlihat benar-benar tidak spadan.


Edi tampak tidak berdaya, seharusnya dia tadi membeli sepasang sepatu baru.penampilannya saat ini memang terlihat kurang sopan.


"hahaha..dewi Andani matamu memang sangat hebat, karena kita semua adalah teman sekelas, ada beberapa hal yang tadi nya tidak ingin aku katakan, tetapi melihat orang yang sangat tidak tahu diri, ibarat kodok yang ingin makan angsa, jadi menurutku lebibaik memberi tau semua orang tentang sifat aslinya"


Dimas bejalan keluar dari balakang, dan tersenyum pada Andini dengan ekspresi menjilat.


"teman sekelas kita Edi, datang dengan motor listrik, awalnya kupikir mungkin karena dia kerepotan mancari tampat parkir, jadi dia menggunakan pengemudi pengganti, lagi pula pakaian yang ia kenakan sangat mewah, tidak disangka ternyata ia hanya meminjam baju dan lupa mengganti sepatunya benar-benar memalukan..."


Ekspresi Dimas tampak seperti orang yang melihat sebuah kebenaran "Edi apakah pakaian mu ini dibeli dengan harga diskon? Atau jangan-jangan kamu bahkan tidak menggunting lebelnya supaya setelah reuni selesai kamu bisa


mengembalikan pakaian ini ke tokonya?"


"Tapi Edi sepertinya benar-benar mengendarai motor listrik aku melihat kuncinya"


"selain itu sandal yang di pakainya juga sandal yang sudah di pakai bertahun-tahun...."


"benar,benar"


Dalam sekejap teman-teman sekelas Edi ramai membicarakan dirinya. Terutama beberapa pria yang ingin mengambil hati Andini, mereka berusaha keras menjatuhkan Edi.


Awalnya Edi ingin menjelaskan beberapa patah kata, namun hannah, mantan teman semejanya tiba-tiba berdiri dan berbicara dengan lantang "kalian keterlaluan kita semua adalah teman sekelas, bahkan jika Edi tidak menggenakan pakaian yang bagus, kalian juga tidak perlu menghinanya seperti itu bukan?"


Saat berada disekolah menengah Edi sering menyalin pekerjaan rumah hannah, oleh karena itu hubungan keduanya sangat baik, Edi tidak menyangka hanya hannah yang maju untuk membelanya di reuni kelas ini.


Melihat hannah berbicara untuk Edi si sampah ini, Dimas tiba-tiba mengambil langkah kedepan dan merai kerah Edi.


Dia mengeluarkan label dari balik kerah Edi, kemudian tertawa sambil berkata "hannah kok kamu masih membantunya berbicara, coba lihat ini labelnya masih belum di lepas harganya puluhan juta, apakah menurutmu dia mampu membelinya dengan keadaan menyedihkan seperti ini?"


"dan jika aku ingat dengan benar, Edi sudah menjadi menantu yang menumpang hidup di rumah keluarga Yu sejak tiga tahun lalu, apakah menurutmu seorang seperti dia akan mampu memakai setelan armani, hahahaha..."

__ADS_1


"Mungkin pakaian ini milik salah seorang pria anggota keluarga Yu yang di curi Edi mabgkanya ukurannya terlalu pas"


"Edi lebih baik kamu berkata jujur di kota D siapa yang tidak tahu kamu adalah menantu yang menumpang hidup di keluarga Yu tidak perlu berpura-pura di depan kami untuk hal semacam ini, kita adalah teman sekelas mengapa berpura-pura?


Edi mengangkat tangannya menepis tangan Dimas dan menatap dengan dingin


Melihat sorot mata Edi, Dimas mencibir dan berkata "aku telah mengungkapkan warna aslimu apakah kamu ingin memukulku? Atau ingin memberi tahuku bahwa pakaian yang kamu kenakan ini adalah milik mu sendiri? Jika kamu bisa membuktikan pakaian ini adalah milik mu maka aku akan berlutut pada mu!"


Edi hendak berbicara saat terdengar bunyi dering ponsel


Edi segera mengeluarkan ponsel model lamanya dan sebelum terhubung semua orang sudah tertawa terbahak-bahak


Lucu sekali bukankah ini ponsel model lama seharga duaratus ribu termasuk tagian telepon selama tiga tahun?


Edi masih menggunakan ponsel semacam ini, masih pamer dengan pakaian armani?


Apakah otaknya cacat? Atau sudah jadi bodo? Karena sudah menjadi menantu tidak berguna?


Pada saat ini Edi sudah tidak peduli dengan reaksi mereka malainkan buru-buru mengangkan telepon, dengan segera dia mendengar raungan ibu mertuanya julia dari sisi telepone "Edi kamu pergi kemana kenapa hari ini kamu tidak membersihkan toilet?"


Gawat bisa-bisa nya dia melupakan hal itu! Edi tampak tidak bisa berkata-kata, tahu begini dia tidak akan datang kereuni kelas ini batinnya.


"benar saja datang menghadiri reuni kelas saja dimarahi di telepone"


"yang memarahinya itu sepertinya ibu mertuanya bukan, Edi disuruh pulang untuk membersihkan toilet?"


"uh! Seorang pria sampai seperti ini, jika terjadi pada diriku. Lebih baik aku membenturkan kepalaku ke tanah, meskipun aku tidak banyak menghasilkan uang, aku juga tidak akan menjadi menantu yang menumpang hidup dirumah mertua, dibunuh pun aku tidak akan melakukannya!"


"kemiskinan dan kesulitan membuat orang sulit mempunyai cita-cita yang tinggi, sungguh tidak disangka"


Semua orang ramai mengomentari Edi saat ini, bahkan hannah pun menghela nafas dia sendiri merasa sendi melihat keadaan Edi


Kebetulan perumahan tempat tinggalnya sedang merekrut petugas keamanan, sepertinya dia harus membantu Edi untuk mendapatkan pekerjaan agar Edi dapat menghasilkan uang dan tidak sampai tidak mampu membeli sepasang sandal baru...


"sudah keluarlah dari sini secepatnya, teman sekelas kita tidak menerima sampah seperti kamu!"


Dimas melirik Edi dengan jijik kemudian berjalan mendekati Andini, berusaha untuk menyenangkannya dan berkata sambil tersenyum "dewi Andini jangan sampai suasanah hatimu rusak, gara-gara orang ini, hotel ini adalah milik sahabat sepupuku"


Bersambung........

__ADS_1


__ADS_2