
tentu saja lagu ciptaan dan nyanyian titek puspa itu sudah menjadi legenda di blantika musik indonesia, meskipun lagu tersebut diciptakan pada tahun 1977, namun pesonanya masih tetap dasyat...
"hahaha!"
tidak tahu dari mana datangnya suara tawaan tersebut, tapi seketika membuat seluruh tamu di ruangan pun ikut tertawa terbahak- bahak.
"ngakak ya, Gramafon imitasi ini kok bisa terlihat begitu asli?! hahaha!"
"makanya! mana mungkin barang kuno dan piring antik bisa kita lihat di sini? ada- ada saja hahaha!"
"Gramafon kuno seperti ini biasanya hanya bisa di temukan di museum sejara, museum sejara kota D saja belum pasti ada!"
Heru tertawa terbahak- bahak sambil mengelus perutnya yang mulai keram dengan satu tangan, tangan yang lain menunjuk ke arah Edi dan mencibur. "memang konyol kamu, hahaha, miskin tenan ya."
"di hari ulang tahun Oma ini, apa kamu nggak bisa keluatin uang yang lebih banyak buat beliin kado bagus untuk Oma? hahaha, coba bilang ke kita dari mana kamu dapat mesin kuno ini?" tanya Hery.
"titipan teman" jawab Edi singkatm
sebenarnya Edu ingin menghadiahkan lukisan Balinese Procession karya Lee Man Fong untuk nenek, tapi mengingat lukisan itu adalah pemberian dari Hery sebelumnya, maka tidak cocok kalau di jadikan untuk kado ulang tahun orang lain.
sebab itu Edi pun meminta bantuan Amelia untuk memilikan hadiah lain. siapa sangka kalau Amelia malah memilih Gramafon kuno ini.
Amelia mengatakn bahwa temannya kebetulan adalah seorang kolektor barang bersejarah dalam negeri, dan butuh waktu cukup lama untuk bisa mendapat kan Gramafon ini, Dengar- dengar mesin ini adalah mesin kuno pemutar piring hitam yang paling populer di masa itu.
"titipan teman?" Heru menahan tawa dan mulai mencibir. "kamu bayar berapa untuk bisa dapat mesin bobrok ini?"
__ADS_1
"Gratis, temanku itu nggak mau di bayar" jawab Edi "katanya, lain kali aku hanya perlu mentraktirnya makan mie saja." lanjut Edi.
hahaha semua orang pun ikut heboh.
kocak kali sih Edi ini, beneran nggak tahu malu ya, komentar Edi dalam hati.
nenek menatap Edi dengan tatapan dingin dan berkata, "kamu nggak tahu malu ya? memang sial Clara menikahimu!"
nenek melitik ke arah pintuh daj memerintahkan "buang mesin bobrok itu sekarang juga!"
"baik!" kedua pembantu itu segera mengangguk, memasukkan Gramafon tersebut kembali ke dapam kotaknya yang usang dan melemparkan nya ke depan pintu.
mendengar cemoohan dari orang di sekelilingnya, Edi pun menghela nafas panjang dan kembali ke tempat duduk.
melihat kejadian ini, nenek yang awalnya gembira pun seketika berubag kesal, dia memberi isyarat tangan dan mulai berkata, "baiklah, izinkan Oma memberi sepata dua kata."
"hari ini, ada dua pria datang ke kediaman keluarga Yu untuk meminang cucu Oma, dan Oma sudah putusin siapa pria yang beruntung itu, di akhir pesta nanti, akan Oma umumkan" lanjut nenek.
nenek kemudian berdiri dan berkata, "para tamu terhormat! Oma senang bisa dapat hadiah berharga dari kalian dan Oma sudah siapan hidangan istimewa untuk kalian!"
nenek menepuk- nepuk tangnya dan puluhan pelayan pun keluar dengan hidangan istimewa di tangan mereka.
"premium abalone."
"Shark fin soup."
__ADS_1
"bird's nest soup"
"......"
satu per satu hidangan mewah di hidangkan dan membuat semua orang terkejut.
tampak tersusun rapi sepuluh hidangan mewah di atas meja dan harga hidangan di setiap meja di perkirakan tidak kurang dari 200 juta.
ketika semua orang sedang terpana dengan hidangan di meja, mendadak terdengar suara panggilan lain.
"Oma, non Rahel sudah sampai."
"ayo persilakan dia masuk" pesan nenek.
keluarga Su sudah lama menjalankan bisnis barang antik secara turun- temurun, dan dua keluarga ini mempunyai hubungan yang cukup akrab, Rahep juga datang ketika nenek mengadakan pesta perayaan untuk Clara waktu itu.
Clara tersenyum kepada Rahel, dia masih ingat bahwa Rahel sebelumnya perna menanyakan tentang Crystal Heels miliknya dan dia juga bersedia membayar harga dua kali lipat untuk sepatu hak tinggi itu, tapi pada saat itu Clara masih belum tahu kalau Tedy lah yang mengirimkan sepatu tersebut.
dia pun berencana untuk meminta bantuan Tedt agar memesan sepasang Crystal Heels juga untuk Rahel nanti, sesaat dimana Rahel muncul semua pandangan pria pun tertuju pada wanita cantik itu, sangat menawan!
Rahel datang dengan mengenakan kemeja putih dan celana ketat jeands, lekuk badannya terlihat sangat seksi.
"maaf ya, jalanan macet tadi" senyum Rahel dambil minta maaf dan berjalan masuk.
akan tetapu Rahel hendak menghentikan langkahnya dan berkata, "ini... ini kan....." ucapannya sambil menunduk ke bawah dan memperhatikan kotak Gramafon yang di letakkan di depan pintu tadi.
__ADS_1
walaupun Gramafon kuno tersebut masih tersimpan di dalam sebuah kotak usang, tapi sepertinya Rahel bisa menebak apa yang ada di dalam sana.