Menantu Terkeren

Menantu Terkeren
hadiah untuk Edi


__ADS_3

"kalau bukan karena kamu aku tidak mungkin menyinggung pak Edi! Aku bukan tidak hanya batal menandatangani kontrak tapi juga akan pergi ke kantormu, dan bilang kalau kamu melakukan bisnis secara pribadi, perusahaan tempatmu bekerja sudah menetapkan kalau pegawai tidak boleh menjalankan bisnis secara pribadi, kamu tunggu saja gugatan dari kantormu."


Bang!


Seketika wajah cantik Citra seolah dihantam sesuatu, wajah wanita iti berubah menjadi pucat pasi.


Citra menggigit bibirnya erat-erat dia berpikir kalau perusahaan tempatnya bekerja membawa kasus ini sampai kepengadilan bukan hanya sangsi yang akan dia terima tetapi bahkan hukuman penjara.


"pak Edi..." Citra tiba-tiba melangkahkan kakinya tepat di hadapan Edi, dia lalu menggenggam sebelah tangan Edi seperti gadis polos.


"pak Edi aku sangat menyesa." suara Citra terdengar sangat kecil, bahkan hampir tidak terdengar semua orang di ruangan itu.


Citra tidak menyangka kalau suatu saat dirinya akan meminta maaf kepada si pecundang tidak berguna iti, Citra tidak menyangka kalau dia akan merendahkan harga dirinya dan berlutut dihadapan pria tidak berguna ini.


Edi hanya memandang kosong, lalu menatap Citra sambil tersenyum tipis "bukannya tadi kamu menyuruhku berlutut dihadapanmu dan memanggilmu mommy?"


"aku sudah salah dan aku benar-benar menyesal"ujar Citra sambil menggigit bibir bawahnya erat-erat sangking erat nya sampai dia bisa merasakan bibirnya hampir berdarah.


"aku yang akan berlutut." Citra yang masih menjabat sebelah tangan Edi dengan kedua tanganya tiba-tiba merasa seluruh harga diri dan martabatnya luruh seketika ditanah begitu dia menekuk lututnya dan berlutut di hadapan Edi.


"pak Edi aku mohon maafkan aku" Citra menarik pelan ujung celana Edi seperti anak kecil, dia lalu berkata dengan lembut "pak Edi, kalau bos ku tahu aku menjalankan bisnis secara pribadi, konsekuensi yang aku trima sangat besar aku mohon aku.... Aky mohon anda untuk berbelas kasih kepada sahabat Clara ini, aku mohon maafkan aku kali ini saja."


"baiklah!" ujar Edi riang "tapi kamu tahu harus panggil aku apa kan?" Edi menatap Citra sambil menarik telinganya.

__ADS_1


Kedua mata Citra terlihat terbelalak, tubuhnya yang masih dalam posisi berlutut semakin terasa lemas, mana mungkin dia tidak paham maksud Edi?


" Dad....Daddy" Citra menggigit bibirnya erat-erat lalu berbisik lirih.


Wajah Citra seketika memerah, sebelum nya Edi adalah orang yang paling dia pandang rendah, dia bahkan merasa jijik jika melihat Edi di depannya, tapi sekarang di depan Edi, Citra sudah melepaskan semua harga diri dan martabatnya.


"nanti kalau kamu bertemu lagi dengan ku jangan lupa untuk memanggilku seperti itu paham?" ujar Edi sambil tersenyum.


Citra mengangguk berulang kali.


"Oh iyah, selain itu aku tidak mau Clara mengetahui identitasku yang sebenarnya" ujar Edi sambil mengeluarkan sebatang rokok dari dalam kantong jasnya, dia lalu menghela nafas dalam-dalam "kamu tahukan harus bagaimana?"


"aku tahu aku tahu" ujar Citra sambil melirik Edi "Daddy kamu tenang saja aku tidak akan mengatakan apa yang terjadi hari ini kepada siapa pun.,"


"Den Edi maafkan aku yang tidak bisa mendisiplinkan anakku" ujar Dendi sambil membukuk 90 drajat begitu semua orang yang tidak berkepentingan meninggalkan kamar 888.


Pada saat yang sama Hery,Liam,Amelia,Abraham mrlangkah maju dan memberikan salam hormat kepada Edi.


"Den kami ini dulu bahkan bukanlah siapa-siapa" ujar Amelia seraya mengambil langkah maju "kalay bukan karena anda tidak akan ada kami yang seperti sekarang begitu kami tahu anda berada disini kami sudah menyiapkan sebuah hadiah untukmu"


Selesai berbicara demikian Amelia lalu mengeluarkan sebuah kotak.


Estee Company yang di pimpin Amelia Lin adalah sebuah perusahaan kosmetik, dan sekarang kosmetik merek Estee Beauty sangatlah terkenal.

__ADS_1


Tiga tahun yang lalu Amelia masih membagikan selembaran brosur di pinggir jalan suatu saat dia tidak sengaja membuat lecet mobil Edi yang terparkir di pinggir jalan, tetapi ketika itu dia tidak kabur begitu saja, dia menunggu Edi kembali kemobilnya sepanjang malam.


Ketika itu Edi merasa bahwa karakter Amelia sangatlah baik, jadi dia menyerahkan 600 juta kepada Amelia untuk memulai bisnis, tanpa terasa waktu berlalu sangat cepat.


Kembali ke masa sekarang, Amelia yang masih berdiri di hadapan Edi perlahan-lahan membuka kotak yang sedari tadi dipegangnya perlahan-lahan terlihat sebuah lukisan yang ada di dalamnya.


Begitu penutup kotak itu terbuka sempurna, Edi langsung menarik nafas dalam-dalam.


Itu adalah sebuah lukisan kuno yang sepertinya sudah ada sejak lama, dibawahnya ada sebuah tulisan tipis "Lee Man Fong"


Itu adalah lukisan berjudul Balines Procession, karya Lee Man Fong. Pernah diberitahkan kalo lukisan ini pernah dilelang dengan harga yang sangat tinggi di pelelangan hongkong.


"kami tahu kalo anda sangat menyukai barang antik, lukisan dan kali grafi jadi kami mengumpulkan uang dan membelinya dari kolektor!" ujar Liam sambil tersenyum, kulitnya yang gelap membuat dua baris giginya yang berbaris rapi terlihat sangat mencolok.


"Den Edi tiga hari lagi anda ulang tahun kan? Ini adalah hadia ulang tahun untuk mu dari kami" lanjut Liam


Ulang tahun?


Edi lantas menepuk dahinya, dia bahkan lupa dengan hari ulang tahunnya sendiri, ulang tahunnya sama dengan ulang tahun nenek keluarga Yu, yaitu tiga hari lagi.


Sebelumnya tidak ada orang yang mengingat ulang tahun Edi, semua orang di keluarga istrinya hanya merayakan ulang tahun nenek mereka, sehingga ulang tahun Edi sendiri di kesampingkan.


Tanpa di duga masih ada orang yang mengingat hari kelarinnya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2