
Setelah selesai membayar dan seluruh anggota keluarga Yu pergi dari hotel Mutiara Timur, Hery diam-diam mengamit lengan Edi dan membawanya menuju ke mobil
"den akhirnya aku bisa bertemu lagi denganmu" ujar Hery penuh semangat, dia menyetir sambil mengobrol dengan Edi.
"kamu mau membawaku kemana?"
"aku ingin mengajak mu bertemu dengan beberapa orang mereka semua ingin sekali bertemu denganmu!" tangan Hery sampai bergetar sangking antusiasnya."pokoknya kamu harus ikut denganku!"
"oke,oke aku akan ikut denganmu, asal kamu menyetir dengan hati-hati!"
Gila! Bukan kah ini benar-benar luar biasa? Kemudian Dihadapan Edi sampai-sampai tak terkendali.
Mobil itu laku melaju kencang menuju Bar, Bar paling mewah di kota D, Blosom spiring Bar, bisa di bilang biaya untuk dua orang menghabiskan malam disini bisa mencapai 20 juta.
Ada begitu banyak mobil mewah yang terparkir di depan lobi pintu masuk Blosom Spiring Bar, orang-orang yang datang kesini biasanya, hanya untuk bermain-main saja, mereka umumnya berasal dari orang dengan tingkat ekonomi menengah ke atas.
"mau apa datang ke sini?" tanya Edi setelah turun dari mobil Hery.
Tempat itu terlalu berisik bagi Edi dan dia benar-benar tidak menyukainya.
"ini kejutan untukmu!" ujar Hery sambil tersenyum, "Den pemilik Blosom spring juga kenalan lamamu, Dendi Andinata."
Dendi?
Oh, Edi ingat sekarang, dulu Dendi hanyalah pagawai biasa di keluarga Simon, lambat laun Edi berpikir Dendi adalah orang yang cerdas, sehingga dia mempromosikan Dendy sebagai manajer rumah,
Dendy menjalani jabatan barunya itu selama 2 tahun dan menabung sejumblah uang kemudian keluar dari kediaman Simon dan memulai bisnisnya sendiri.
Tanpa di duga dia berhasil membuka Blosom spring yang sudah terkenal di seantaro kota D, dan ini sama sekali tidak mengecewakan Edi sebagai bos lamanya.
"Den, kamu silakan masuk duluan, tunggu aku di private room 888,'' ujar Hery sambil setengah membungkuk "aku dan Dendi sedang menyiapkan kejutan untukmu, aku jamin kamu pasti akan menyukainya"
Tanpa menunggu jawaban dari Edi, Hery langsung pergi dari hadapan pria itu.
__ADS_1
Edi yang tidak bisa memprotes hanya menghela nafas panjang, sambil berjalan masuk ke Blossom Spring,
Tidak heran mengapa Blosong Spring menjadi sangat terkenal di kota D, sebab gadis yang penyambut di pintunya saja cantik sekali.
Edi berjalan masuk sambil tersenyum tipis seketika, suara musik yang begitu ramai langsung memekakkan telinganya.
Saat itu Blosom Spring sangat ramai banyak pria dan wanita yang mengayunkan tubu mereka di lantai dansa.
Huft! Aku ini benar-benar sudah kuno, tempat ini tidak cocok untuk ku.
"hei, beneran?kamu bukan Edi si pecundang kan?"
Tiba-tiba terdengar suara dari belakang tubuh Edi, tanpa sadar dia menoleh kebelakang dan langsung terkejut bukan main.
Di belakang Edi, berdiri seorang wanita cantik, dia menggenakan celana skyyni jeans yang sangat seksi.
Bukankah itu Citra?
"tadi kamu memanggilku apa? Kok nggak memanggilku Deddy" ujar Edi sambil tersenyum.
Citra menggigit bibir bawahnya erat-erat, hari ini dia sangat senang karena baru saja mendapatka, seorang klien besar, kalau dia bisa menandatangani kontrak dengan klien ini, maka dia bisa dapatkan komisi setidaknya 2 miliar.
Jadi hari ini Citra meminta klien itu untuk datang kesini, setelah dia menyiapkan beberapa minuman dia menyiapkan surat kontrak untuk klien tersebut. Tanpa di duga Citra justru ketememu Edi di Blossom spring.
"justru kamu itu yang miskin! Kok bisa-bisanya datang ke tempat seperti ini?" Citra lantas memandang Edi dari ujung kaki hingga ujung kepala pria itu.
"200 ribu perhari, dikumpulkan selama satu tahun, lalu datang kesini, menarik"
"membosankan" Edi lalu terkeke sedikit "aku cuma penasaran 1 hal, jadi kapan kamu akan memanggilku Deddy?"
Dua detik kemudian, seorang pria bertubuh besar tiba-tiba berjalan ke depan Citra, dia lalu berkata kepada wanita itu "Non, Citra siapa dia? Kenapa dia berbicara kurang ajar pada anda? Apa perlu saya kasih pelajaran?"
Seketika tawa Citra meledak "Edi apa kamu tahu siapa orang ini? Dia adalah kepala keamanan di Blosom Spring kalau aku memintanya untuk mengusirmu, kamu pasti akan menangis"
__ADS_1
Benar saja pria bertubuh besar itu adalah klien Citra, yuli susanto.
Kepala keamanan hanyalah julukan untuknya, yang tahu pasti sudah paham kalau dia hanya mengawasi situasi dan kondisi di dalam bar.
Lagi pula, tidak ada banyak masalah yang perlu di urusi di tempat ini, Yuli santoso juga cukup terkenal di kota D, dia bersama dengan tiga puluh anak buahnya memantau wilaya disekitar sini.
"Heh! Brengsek kamu dengar tidak? Cepat pergi dari sini!" Yuli melangkah maju dan berbicara kepada Edi dengan nada menghina.
Sial! Para wanita penyambut di pintu ini kerjanya apa sih?! Kok mereka bisa-bisanya membiarkan seorang lelaki miskin masuk kedalam bar? Coba lihat barang yang dikenakannya! Gaji bulanannya paling-paling tidak sampai 4 juta! Berani-braninya dia datang ketempat ini.
Edi hanya tersenyum dan mengabaikan pria berbadan besar itu, dia langsung berjalan santai menuju privet room nomor 888.
Semua private room di Bar ini dindingnya terbuat dari kaca, kamat nomor 888 terletak di tengah dan dari luar bisa terlihat interior kamar ini yang begitu mewah bak istana negri dongeng.
"Hey, berhenti!"
Yuli yang melihat Edi berjalan menuju ruangan 888 langsung meraung dari tempatnya, dia yakin kalau Edi datang hanya untuk mencari gara-gara.
Di dalam kamar nomor 888 semua barang-barangnya berlapis emas asli, biayah sewah kamar ini mencapai 1,6 miliar perjam.
Saat ini Edi sudah duduk manis di atas sebuah sofa di dalam kamar nomor 888 dia mengulurkan tanganya, hendak mengambil cangkir teh yang tersedia diatas meja.
Hahaha! Edi tamatlah riwayatmu sekarang!
Hati Citra merasa sangat senang apakah Edi begitu bodoh? Pikirnya, memangnya kamar mewah seperti itu bisa di duduki sembarangan orang?
Tadi, ketika Citra berbicara dengan Yuli, Yuli sempat membicarakan kamar 888 ini, katanya private room ini sudah tidak pernah ditempati selama setengah tahun.
Bahkan Yuli yang sudah diangkat sebagai anak oleh bosnya tidak bisa sesuka hati memasuki kamar itu.
"brengsek apakah kamu tuli? Kamu nggak mendengarkanku yah?" Yuli berteriak sambil melangkah maju dan merai kerah baju Edi.
Hahaha ada dewi Citra disini, jadi Yuli berpikir kalau dia bisa mengalahkan pecundang ini, wanita itu pasti akan berpikir kalau dia sangatlah kuat.
__ADS_1
Budi masih asik berkutat dengan pikirannya sendiri sambil terus berteriak, sedetik kemudian, terlihat sekitar dua puluh orang-orang bertubuh kekar yang segera masuk memenuhi ruangan untuk mengawasi kondisi sekitar...
Bersambung.......