
Budi masih asik berkutat dengan pikirannya sendiri sambil terus berteriak, sedetik kemudian, terlihat sekitar dua puluh orang-orang bertubuh kekar yang segera masuk memenuhi ruangan untuk mengawasi kondisi sekitar
"Bos Yuli ada apa ini" tanya salah satu pria kekar yang baru masuk tadi.
Yuli lantas memandang Citra lalu berkata sambil "bu Citra kamu mau aku apakan anak ini?"
Wanita itu lalu mengangkat kakinya tinggi-tinggi lalu menghentak kan sepatu haknya kuat-kuat ke lantai, suara yang di timbulkan pun sangat nyaring.
"suruh dia memanggilku Mommy lalu tendang dia keluar!"
"hey brandal kecil, kamu dengarkan yang dikatakan Bu Citra? Cepat lakukan permintaannya atau....." Yuli lalu menggeram keras.
Begitu kata-kata Yuli tergantung di udara, puluhan pria di belakangnya langsung mengambil tongkat yang tergantung di pinggang mereka masing-masing.
"atau jangan salahkan aku karena bersikap kasar, aku akan menunjukkan padamu kepada mu dengan jelas sekarang, sebaiknya cepat panggil dia Mommy." ujar Yuli sambil menoleh ke arah Citra dan tersenyum kepada wanita itu.
Yuli lalu kembali menambahkan "setelah itu berlutut lah di tanah dan akui kesalahanmu, dengan begitu kamu bisa pergi dengan tenang dari sini kalau tidak mau, aku akan membuatmu terbaring di tanah"
Citra tidak lagi bisa menahan senyumnya lagi, dia lalu berjalan maju dua langkah dan mengambil ponsel dari tasnya.
Kalau Edi menurut dan memanggil Citra dengan sebutan Mommy, dia hendak merekamnya dan mengirimkan vidio itu kepada Clara.
"bagai mana kalau aku nggak mau?" tanya Edi yang merasa konyol dengan permintaan Citra, dia lalu meandang Citra dari ujung kaki hingga ujung kepala wanita itu.
Melihat Edi yang masih belum juga tunduk pada ancamannya, kening Citra langsung berkerut-kerut "kak, Yuli buat dia berlutut."
"baiklah"
Yuli langsung mengayunkan lengannya dua kali dan merai kerah Edi dan sedetik kemudia dia mendaratkan tindunya pada wajah Edi,
"Hey, hentikan!"
Tiba-tiba dari arah pintu terdengar suara teriakan dan bunyi pintu di banting pintu kamar itu terbuka dan menampilkan 5 orang yang berdiri sambil tercengang memandangi situasi di dalam kamar 888
__ADS_1
Bos dari Blosom Spring Dendi adinata.
Bos dari Mutiara Timur Hery Donka
Bos Real Estate Liam Li
Pemilik Este Company Amelia Lin
Bos Shoutheast Oil Company sekaligus manajer umum kota D, abraham jati.
Orang-orang ini semuanya bernilai triliunan.
Yang barusan berteriak adalah Dendi Adinata.
Begitu melihat orang-orang ini seulas senyum muncul di bibir Edi, mereka semua yang berdiri didepan pintu adalah kawan lamanya orang-orang ini dulunya mereka semua tidak memiliki uang dan Edi sudah banyak membantu mereka, dan tampak nya bantuan yang diberikan Edi tidaklah sia-sia sebab semua usaha mereka sangat berhasil.
"brengsek!" Dendi kini benar-benar marah, dia tak habis pikir berani-beraninya Yuli menghajar Den Edi? Dia lalu lekas mengayunkan tangannya ke wajah Yuli
Plak!!
Yuli dengan tangan yang kekar langsung menutup i pipinya yang merah membengkak
"ayah!" teriak Yuli dia hampir saja menangis.
"ayah buruh migran ini datang mencari gara-gara! Dia tiba-tiba duduk di private room nomor 888"
Plak!
Sekali lagi temparan Dendi mendarat di pipi Yuli, dia lalu berteriak kepada pria itu "apa yang salah dari buruh migran? Apa dia sudah merugikanmu? Kamu makan sampai kenyang hanya untuk belajar merendakan orang lain? Apa seperti ini caraku mendidikmu?"
"Ayah!" Yuli kembali berteriak tetapi suaranya merenda kedua matanya memerah.
"Ayah tetapi anak ini gimanapun juga dia adalah orang asing! Kenapa ayah memukuliku..."
__ADS_1
Tubuh Dendi kini gemetar dia lalu menunjuk Edi dan berkata "orang asing? Apa kamu tidak tahu kalau tidak ada orang ini maka aku tidak akan menjadi aku yang sekarang! Dia adalah putra kedua dari keluarga Simon! Uang saku hariannya cukup untuk menggajimu selama 10 tahun!"
Apa?!
Seketika seluruh ruangan itu menjadi hening.
Yuli benar-benar merasa bodoh, dia perna mendengar ayah angkatnya berkata, sebelum Dendy membuka Blosom Spring dia bekerja untuk keluarga Simon, untungnya dia sangat dihargai oleh putra kedua keluarga itu, Yuli tidak perna menyangka kalau pemuda yang kumal ini adalah anggota keluarga Simon yang pernah diceritakan Dendi padanya.
Citra juga sama bodohnya.
Seketika wanita itu merasa kedua kakinya melemas, tubuhnya juga bergetar, dia lalu mengambil dua langkah mundur.
Citra hanya memandang takjub Dendi yang berdiri di depan Edi saat ini dan memandang pria itu dengan penuh hormat.
Bagaimana mungkin? Edi jelas-jelas hanyalah menantu di keluarga Yu.
Setiap kali pergi kerumah Clara, Citra selalu melihat pecundang itu sedang melakukan pekerjaan rumah, bahkan setiap kali Citra malas mencuci pakaiannya, dia selalu membawanya keruma Clara untuk minta di cucikan.
Tapi...tapi pria ini adalah putra kedua keluarga Simon?!
"pak Edi... Pak Edi aku telah salah aku menyesal.." ujar Yuli terbata-bata sambil terus menangis dan terus membungkuk sembari meminta maaf kepada Edi.
"Pak Edi salah kan wanita ini!" tiba-tiba Yuli berteriak sambil menunjuk ke arah Citra "ini semua gara-gara kamu! Gara-gara kamu aku jadi menindas pak Edi! Cepat kamu pergi dari sini!"
Citra dengan suara bergetar berkata "ta....tapi kamu masih belum menandatangani kontrak..."
Citra bekerja di perusahaan dekorasi dan kebetulan Blosom Spring mau direnovasi, ini adalah Proyek besar jika kontrak ini berhasil di spakati paling tidak Citra akan mendapatkan 2 miliar karena Citra bermaksud melakukan bisnis ini secara pribadi tanpa sepengetahuan perusahaan tempatnya bekerja.
Uang senilai 2 miliarjangankan menghasilkannya membicarakannya saja jarang, jadi ini adalah kesempatan yang sangat langkah bagi Citra dan dia tidak boleh memyerah demi 2 miliar!
"tanda tangan gundulmu! Mata Yuli memerah dia menggeram kepada Citra.
"kalau bukan karena kamu aku tidak mungkin menyinggung pak Edi! Aku bukan tidak hanya batal menandatangani kontrak tapi juga akan pergi ke kantormu, dan bilang kalau kamu melakukan bisnis secara pribadi, perusahaan tempatmu bekerja sudah menetapkan kalau pegawai tidak boleh menjalankan bisnis secara pribadi, kamu tunggu saja gugatan dari kantormu."
__ADS_1
Bersambung....