Mencintai Tuan Muda CEO

Mencintai Tuan Muda CEO
Chapter10. Siasat


__ADS_3

Di sebuah salon kecantikan Anya berjalan masuk dengan didampingi oleh Radit. Ia tampak takjub dan terpesona dengan gedung salon tersebut. Langkah kecilnya menuju sebuah meja rias. Di sana sudah ada MUA yang stand by untuk merias Anya.


"Bobby, tolong kau rias gadis ini dengan sangat sempurna," pinta Radit pada MUA tersebut.


MUA yang ternyata bernama Bobby tampak mengangguk dan menyetujui permintaan Radit.


"Baik, Tuan Radit." balas Bobby.


Anya pun duduk di kursi rias itu, wajah polosnya menatap cermin di depannya. Ini adalah waktu pertama kalinya wajah polosnya akan berbaur dengan polesan makeup. Selama ini ia tak pernah memakai makeup ataupun lipstik.


Anya tersenyum sambil sesekali memperhatikan wajahnya yang sudah setengah dipoles dengan makeup. Terlihat berbeda dan cantik.


Usai menunggu beberapa jam, Anya telah selesai dimakeup oleh sang MUA. Anya tersenyum memperhatikan wajahnya di depan cermin. Penampilannya sangat sempurna dengan rambut sedikit di sanggul.


Begitu juga dengan Radit, ia tersenyum melihat kecantikan Anya.


"Begini kan kau terlihat sempurna," puji Radit pada Anya.


"Aku merasa kagum pada diriku. Aku hampir tidak mengenali diriku sendiri, terima kasih, ya?" ujar Anya pada Radit.


"Sama-sama. Yaudah, Ayo kita cari pakaian untuk mengganti gaunmu." ajak Radit.


Anya pun mengangguk. Setelah Radit membayar semua biaya tersebut, ia kembali berjalan bersama Anya menuju sebuah mall untuk mencari pakaian.


***


"Pokoknya, aku akan mencari cara supaya Gavin dan Mawar tidak jadi bertunangan." ketus Cecilia sambil memperhatikan Gavin dan Mawar yang tengah memilih gaun pertunangan.


Cecilia pun memulai aksinya untuk meneror mereka berdua. Diam-diam Cecilia memperhatikan mereka dari jauh. Ia tampak memikirkan sebuah siasat menggagalkan rencana mereka.


Cecilia pun mengambil ponselnya dan mencoba mengirim sebuah pesan teks kepada Mawar.


[Jika kau ingin tahu siapa yang membuat namamu merosot di dunia entertainmen, kau harus menemuiku sekarang juga. Di lantai tiga, sendirian.]


Klunggg kluungg


Mawar terdiam dan membaca sebuah pesan teks tersebut. Sementara Gavin tengah asik memilihkan gaun terbaik untuk calon tunangannya itu.

__ADS_1


"Mawar … sepertinya gaun ini cocok untukmu," ujar Gavin pada Mawar.


"Gaviin, sepertinya aku ingin ke toilet. Tidak apa-apa, kan?" ujar Mawar sambil menggenggam ponselnya.


"Oh, yasudah. Tidak apa-apa. Aku akan menunggumu,"


Mawar pun beranjak pergi meninggalkan Gavin sendirian. Ia tampak masih memperhatikan gaun tersebut sambil tersenyum. Ia membayangkan betapa cantiknya calon tunangannya itu saat mengenakan gaun pilihannya itu.


"Mbak, simpan dulu gaun ini, ya? Nanti saya akan kembali lagi," pinta Gavin pada kasir toko.


"Baik, Tuan." balas kasir tersebut.


Gavin pun berlalu pergi mengambil tempat duduk untuk menunggu Mawar. Wajahnya tampak tersenyum dan terpana kala ia menatap gaun tersebut.


***


Tampak Radit dan Anya berjalan menuju sebuah toko pakaian bermerek limited edition. Di sana mereka melihat-lihat gaun dengan berbagai model.


Begitu juga dengan Anya, ia tersenyum mengamati sebuah gaun berwarna putih dengan balutan tutu dan berbahan brukat branded.


"Sepertinya itu pantas untukmu," ujar Radit pada Anya.


"Mbak, saya pesan gaun ini saja," ucap Radit pada kasir toko.


"Maaf, Tuan. Gaun ini sudah dipesan oleh seseorang," balas kasir toko.


Radit menghela napas.


"Saya akan membayar dengan harga tertinggi, bagaimana?"


Sesaat kasir toko membuka mata lebar. Kedua matanya berbinar-binar dengan tawaran Radit.


"Berapa harga gaun ini?" tanya Radit.


"Ini gaun bermerek limited edition keluaran terbaru, Tuan. Harganya senilai tujuh puluh lima juta," jawab kasir tersebut.


Radit mengangguk dan menatap ke arah kasir tersebut. Ia memberikan sebuah kartu kredit kepada kasir tersebut.

__ADS_1


"Saya akan membayar seratus juta, bagaimana?"


Seketika kasir tersebut terbelalak lebar dan menatap Radit. Ia pun mengangguk dan menerima kartu tersebut lalu menggeseknya. Radit tersenyum simpul.


Kasir tersebut mengambil gaun itu dan memarselnya ke dalam paper bag berwarna hitam, dan menyerahkan kepada Radit. Anya tersenyum dan mengikuti langkah Radit menuju pulang.


***


Di lantai atas, Mawar berjalan menerobos para pengunjung mall tersebut. Ia tampak mencari-cari sosok seseorang yang telah menerornya selama ini. Dengan langkah tergesa-gesa, ia berhenti tepat di sebuah cafe.


Di sana, ia melihat seorang wanita dengan rambut tergerai sebatas bahu. Mawar sangat penasaran dengan wanita itu, siapa sebenarnya wanita tersebut. Karena ia tak melihat wajahnya. Wanita itu menggunakan kaca mata hitam dan masker di mulutnya.


"Kau siapa sebenarnya?!" gertak Mawar pada wanita itu.


Wanita tersebut hanya diam dan memalingkan wajahnya.


"Kau pasti Cecilia, kan?" tanya Mawar penasaran.


Wanita itu tertawa sinis.


"Kau ingin tahu siapa saya? Kau harus membatalkan tunanganmu dengan Gavin." ketus wanita itu.


Mawar menatap tajam wanita itu. Ia tidak terima dengan ancaman tersebut.


"Kurang ajar! Kau pasti Cecilia, kan?"


Mawar pun merasa jengkel dan menjambak rambut wanita itu dan membuka masker yang menutupi wajah wanita itu. Seketika Mawar terkejut dan terheran.


"Siapa kau?!" gertak Mawar.


Wanita itu membuka kaca matanya dan bangkit dari duduknya. Ia tersenyum licik menatap Mawar.


"Kau tidak perlu tau siapa saya. Yang jelas, saya tidak sudi melihat kau bertunangan dengan Gavin." sahut wanita itu, lalu mendorong Mawar hingga jatuh tersungkur.


Wanita itu pun pergi meninggalkan Mawar yang tengah dilanda emosi. Mawar benar-benar kesal dengan perlakuan wanita misterius itu. Ternyata selama ini dugaannya salah, pelakunya bukanlah Cecilia melainkan wanita tersebut.


"Aku tidak akan tinggal diam! Aku akan mencari tahu siapa kau!" gertak Mawar dengan nada tinggi.

__ADS_1


###


__ADS_2