Mencintai Tuan Muda CEO

Mencintai Tuan Muda CEO
Chapter30. Rapat Online


__ADS_3

Gavin tampak mondar mandir dengan perasaan yang tak menentu. Pikirannya terus tertuju pada Mawar. Sebenarnya ada apa dengan Mawar? Mengapa malam begini masih berada di tempat studio?


"Arrrrghhh, huammm." tampak Alice menggeliat pelan.


Perlahan ia membuka matanya dan menatap sekeliling. Senyumnya mengembang saat melihat Gavin berdiri di tepi jendela.


"T-Tuan, apakah saya tidur terlalu lama?" tanya Alice dan bangkit tidurnya.


Gavin yang melihat Alice telah terbangun, ia pun menghampiri gadis itu. Tatapannya tampak tak berkedip, ia seperti memperhatikan wajah Alice begitu dalam. Entah mengapa, dirinya merasa bahwa Alice adalah sosok gadis yang selama ini ia cari.


Namun, ia belum bisa memastikan dengan jelas apakah benar firasat itu?


"Kau mau pulang sekarang?" tanya Gavin.


"Sepertknya iya, Tuan. Saya harus pulang sekarang, jika tidak Ibuku akan sangat mengkhawatirkanku,"


"Baiklah, biar saya antar."


Alice pun mengangguk pelan dan berjalan keluar. Tiba di dalam mobil, Gavin mengemudi mobilnya dan berlalu mengantarkan gadis itu pulang.


Selang beberapa saat, mereka sudah tiba di depan rumah. Gavin turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Alice. Gadis itu pun turun dari mobil dan tersenyum.


"Terima kasih, Tuan Muda. Telah mengantarkan saya pulang," ucap Alice sembari membungkuk mengucapkan terima kasih.


"Sama-sama. Kalau begitu masuklah. Saya juga akan pulang," balas Gavin.


"Hati-hati, Tuan."


Usai itu Alice pun berjalan masuk ke dalam rumah. Sementara Gavin masih diam terpaku menatap kepergian Alice. Saat langkahnya hendak masuk ke dalam mobil, ia terkejut melihat sebuah motor yang menurutnya sudah tidak asing lagi.


Motor scoopy dengan kondisi sudah butut dan tidak layak pakai. Motor itu terparkir tepat di samping rumah tersebut. Gavin pun mendengkus napas pelan dan masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


'Bukankah itu motor butut gadis kampung pemeras?' ujarnya pelan.


Saat itu ia pun mengambil ponselnya dan mencari nomor asistennya. Hans. Gavin pun mencoba menghubungi Hans malam itu.


"Hallo, ada apa Tuan?" tanya Hans dalam telepon.


"Hallo, Hans. Saya perlu bantuanmu," jawab Gavin sambil sesekali menatap ke arah rumah itu.


"Bantuan apa, Tuan?"


"Saya menemukan sesuatu yang mencurigakan. Kau harus menyelidiki siapa Alice Cyntia Magdalena, sebenarnya?"


"Ok, Tuan. Baiklah, laksanakan."


Selesai itu Gavin mengakhiri panggilan telepon tersebut. Rasa curiganya mulai berkecamuk dalam dirinya. Ia pun menstater mobil dan bergegas melesat meninggalkan halaman rumah itu.


***


Radit tampak tersenyum memperhatikan Mawar yang tengah menyantap makanan di atas meja. Wajah cantiknya terlihat memukau dan mempesona. Gadis itu pun sesekali mengulum senyum di bibirnya.


"Sama-sama, Nona Mawar. Aku akan selalu ada untukmu saat kau membutuhkanku," ucap Radit sembari menggenggam tangan gadis itu.


"Tapi … sebentar lagi aku akan bertunangan, aku rasa Tuan tidak perlu lagi mencariku,"


Radit menghembus napas pelan. Di pandanginya gadis itu dengan seksama.


"Meskipun kau akan bertunangan, aku akan terus mengejarmu, Nona Mawar. Aku tau bahwa kau sudah ditakdirkan untukku,"


"Tapi aku tidak mencintaimu, Tuan Radit. Hubungan kita hanya sebatas rekan kerja,"


Radit tampak melepas genggaman itu. Ia pun bangkit dari duduknya dengan wajah sedikit kecewa.

__ADS_1


"Meskipun kau tidak mencintaiku, setidaknya kau tau perjuangan cintaku selama ini. Aku tidak akan menyerah, Mawar. Aku akan terus mengejarmu agar kau menjadi milikku,"


"Terserah! Yang jelas, jika kau merasa sakit hati jangan pernah kau menyalahkanku,"


"Okee … i'm fine. Kita liat saja siapa yang akan mengalaminya."


Radit tampak tersenyum lebar. Ia merasa yakin bahwa gadis di hadapannya itu pasti akan datang kembali padanya.


***


Pagi harinya, Gavin telah bangun dari tidurnya. Ia tampak bersemangat untuk menjalani rutinasnya di pagi hari. Untung saja hari ini ia tidak masuk kantor, karena ada acara rapat online bersama dewan direksi mengenai proyek yang akan berlangsung.


Gavin tersenyum tipis sembari bersiap membereskan diri. Hari ini ia mengenakan kemeja lengan panjang berwarna biru muda. Setelah dirasa rapi, Gavin mengambil laptop di meja dan membawanya ke ruang tengah.


Kluung kluuunggg


Tiba-tiba ponselnya berdering dengan keras. Ternyata asistennya yang memanggilnya. Gavin pun segera menjawab panggilan tersebut.


"Apa??! Kau telah menemukan sesuatu mengenai identitas Alice?" ujar Gavin dengan kedua mata terbuka lebar.


"Benar, Tuan. Selama ini Nona Alice hanya menggunakan nama samaran. Tetapi, saya belum tau benar siapa nama asli Nona Alice," balas Hans dalam telepon.


"Astaga! Baiklah, cepat kau cari bukti yang akurat mengenai hal ini. Jika sudah menemukannya, silahkan kirim semua bukti-bukti tersebut padaku,"


"Baik, Tuan Muda,"


Gavin pun mengakhiri panggilannya dan meletakkan ponselnya di atas meja. Kini saatnya ia harus memulai acara rapat online tersebut. Wajahnya tampak fokus ke layar obrolan live video dengan beberapa anggota dewan direksi.


Wajahnya tampak lemas saat mendengar keputusan dewan direksi mengenai proyek tersebut. Bagaimana bisa perusahaan harus menyerah begitu saja? Meskipun pemilik rumah itu telah pergi, akan tetapi perusahaan harus tetap melakukan penggusuran.


'Ini tidak bisa dibiarkan.' gumam Gavin setelah mengakhiri rapat tersebut.

__ADS_1


Ia pun memutuskan untuk berkunjung ke desa Bendungan Hilir untuk menagih janji pada kelurahan yang telah disepakati minggu lalu. Pikirannya tampak tak menentu saat memikirkan begitu banyak masalah yang harus segera terselesaikan.


###


__ADS_2