
Kini Mawar telah kembali pulang ke rumahnya. Wajahnya tampak kusut tak bergairah saat melangkah masuk ke dalam. Di sana terlihat ibunya tengah duduk di sofa bersama ayahnya.
Mawar tampak tak memperdulikan mereka, ia tetap menyelonong menuju kamarnya. Pikirannya saat ini sedang tidak baik. Memikirkan untuk acara pertunangannya saja ia tampak pusing ditambah lagi mengenai hubungannya dengan Radit.
Ia pun melepas pakaiannya dan mengambil handuk untuk membersihkan diri di kamar mandi. Entah mengapa seluruh tubuhnya terasa sangat pegal dan mudah lelah. Padahal, akhir-akhir ini ia tak memiliki jadwal photoshoot.
"Mawar ⦠buruan keluar, Sayang. Gavin sedang menunggumu di bawah," terdengar suara ibunya dari balik pintu.
Mawar terdiam sejenak sambil berendam di dalam bathup.
"Ya, Ma." sahut Mawar.
Mawar pun bergegas bangkit dari bathup dan memakai handuknya. Ia pun berjalan keluar ke kamar untuk mengganti pakaian.
Kluuunggg
Tampak ponselnya berbunyi, sepertinya ada notifikasi pesan dari seseorang. Mawar pun mengambil ponselnya dan membacanya.
[Bersiaplah, aku akan mengajakmu memilih gaun.] ~Gavin Danendra.
Mawar pun tersenyum simpul dan meletakkan ponselnya. Ia merasa sangat bahagia ternyata Gavin memiliki waktu juga untuk mengajaknya memilih gaun.
Jelas saja, karena waktu pertunangan mereka akan dilaksanakan besok di sebuah gedung yang telah disewa oleh Gavin sendiri. Mungkin akan banyak tamu undangan yang hadir di acara tersebut.
Mawar tampak tersenyum di depan cermin dengan dress berwarna biru. Wajahnya ia poles dengan sedikit makeup supaya tidak terlihat pucat.
***
"Pokoknya kau harus menjaga Mawar dengan tulus, ya Gavin? Kau tau kan, Mawar itu sangat mencintaimu. Jadi kau juga harus mencintainya sepenuh hatimu," ujar Marcelia pada Gavin.
Gavin tampak manggut-manggut sembari duduk sofa.
"Baik, Bibi. Selagi Mawar tidak melakukan kesalahan, saya akan menjaganya," tutur Gavin.
"Mawar itu putri kami satu-satunya, kami rasa dia itu cukup baik untukmu, Gavin," tutur Marcelia kembali.
"Benar, Gavin. Kami juga sangat percaya padamu bahwa kau mampu menjadi pasangan yang baik untuk Mawar," ucap Johan.
"Terima kasih, Paman. Sudah mempercayai saya, kalau gitu saya izin membawa Mawar sekarang," ucap Gavin saat menyadari Mawar telah turun dan menemui mereka.
__ADS_1
"Baiklah, Gavin. Kalian harus hati-hati ya di jalan, jangan terlalu ngebut,"
"Siapp, Paman,"
"Ma, Pa. Aku pergi dulu," ucap Mawar.
"Ya, Sayang. Pergilah, dan nikmati waktu bersamanya, ya?"
Mawar hanya tersenyum tipis dan mengikuti langkah Gavin menuju mobil. Gavin pun membuka pintu mobil dan mempersilahkan Mawar untuk masuk.
Setelah itu, ia pun masuk dan menstater mobil lalu mengemudinya.
Sepanjang perjalanan, Gavin hanya diam tak bersuara. Ia tetap fokus mengemudi menuju tempat yang akan mereka tuju.
Begitu juga dengan Mawar, ia hanya diam sembari sesekali melirik wajah Gavin yang tampan itu. Ia merasa takut jika rahasia tentang hubungannya dengan Radit akan terbongkar.
***
"Pa, pokoknya pertunangan Mawar dengan Gavin jangan sampai tidak terjadi. Pokoknya harus terlaksana juga, jika tidak rencana kita akan gagal begitu saja," tutur Marcelia dengan intonasi tinggi.
"Ya, semoga saja acaranya dapat terlaksana dengan baik, Ma. Lagipula keluarga Jeff sudah meminta orang untuk mendekorasi tempat acara tersebut," ucap Johan.
"Sudahlah, Ma. Jangan mengkhawatirkan itu. Kejadian itu sudah sangat lama, dan Papa yakin Jeff akan melupakan itu,"
Marcelia tampak terdiam. Wajahnya terlihat cemas dengan apa yang dipikirkan olehnya.
"Ma, sudah ya jangan terlalu khawatir. Mengenai kecelakaan itu cukup kita yang tau, Mama ingat kan? Di lokasi kejadian itu tidak ada siapa pun kecuali Gavin dan Morina, Gavin sendiri juga masih kecil. Ia tidak tau apa-apa dan tidak melihat kita,"
"Iya, Pa. Tapi perasaan Mama tidak enak, Pa. Mama takut jika perbuatan kita akan diketahui oleh Jeff,"
"Papa yakin, semua akan baik-baik saja, percayalah."
Marcelia pun tampak merangkul tubuh suaminya itu. Ia tampak khawatir dengan apa yang telah dilakukan terhadap Morina Thomas. Namun, karena dendam dan sakit hati yang mendalam ia tega melakukan apa pun demi membuat Morina Tewas.
Flash Back
Plakkkk!
Sebuah tamparan mendarat di pipi Marcelia. Ia tampak tersentak saat seseorang berani menamparnya. Morina Thomas, sosok wanita karier yang tegas dan disiplin. Morina merasa tidak terima dengan apa yang dikatakan oleh Marcelia.
__ADS_1
"Kau jangan memfitnahku sembarangan. Kau tidak tau kalau CEO perusahaan ini telah menaikkan posisi jabatanku sebagai manajer. Ini karena hasil kerja kerasku bukan hasil merayu CEO," gertak Morina dengan tegas.
"Dasar munafik! Omong kosong! Aku tau kalau kau itu tidak jauh beda dengan penjilat. Sebelumnya, CEO sendiri yang ingin menjadikanku sebagai manajer. Namun, kau mengadu padanya bahwa aku telah melakukan kecurangan," cetus Marcelia.
"Kau tau? Hal itu memang layak diketahui oleh bos besar. Dasar! Pengkhianat!"
"Kaulah yang pengkhianat, Morina! Lihat saja! Aku tidak akan membiarkanmu sukses."
Sembari menatap kepergian Morina, Marcelia tersenyum sinis dan mengepalkan telapak tangannya. 'Sial!! Pokoknya, kau harus matii, Morina.' sahut Marcelia dengan kesal.
***
"Bagaimana dengan gaun ini?" tanya Gavin pada Mawar. Tangannya menyodorkan sebuah gaun berbahan brukat dan kain till berhias mutiara.
Mawar menggeleng pelan.
"Aku tidak menyukainya, Gavin. Ini terlalu kuno," ketus Mawar.
Gavin pun meletakkan gaun itu ke tempatnya. Ia menghela napas pelan dan mengikuti langkah Mawar.
"Gavin, aku mau yang ini. Ini sangat cocok untukku," ujar Mawar sambil mengambil gaun berbahan tutu dengan desain modern berhias brukat premium.
"Baiklah, terserah kau saja. Jika kau menyukainya, silahkan," tutur Gavin.
"Mbak, jika berminat gaun ini silahkan dicoba dahulu. Ohh iya, sekalian nanti diadakan photoshoot bersama calon pasangannya," ucap spg tersebut.
Mawar mengangguk dan menuju ruang ganti. Sementara Gavin tampak terdiam dan menunggu Mawar hingga selesai.
Kluungg klunggg
Ponselnya tampak berdering dengan kerasnya. Gavin pun menjawab panggilan tersebut yang ternyata dari Bian adiknya.
"Apa??! Papa masuk rumah sakit?" ujar Gavin dengan tersentak.
"Iya, Kak. Cepatlah kemari, ayah mencari Kakak," ucap Bian dalam telepon.
"Baiklah. Kau tunggu saja, aku akan segera pulang."
Panggilan pun berakhir. Gavin tampak merasa khawatir dengan keadaan ayahnya itu. Bagaimana bisa ayahnya masuk rumah sakit? Mungkinkah penyakit lamanya kambuh kembali? Tapi, bagaimana dengan Mawar? Apakah ia harus meninggalkannya begitu saja? Atau tetap menunggunya?
__ADS_1
###