
Hari ini adalah hari kepulangan Anya ke Indonesia. Ia sudah tampil sangat cantik dan menawan dengan mendorong tas koper menuju keluar dari areal bandara.
Cecilia tersenyum melihat Anya dan melambaikan tangan sebagai salam perpisahan mereka. Cuaca hari ini sangat cerah, Mentari tersenyum sangat lebar.
Angin semilir menerpa rambut gadis itu yang panjang tergerai. Anya berjalan menuju taxi yang telah dibookingnya. Ia akan pulang untuk menemui ibunya.
Pasti, ibunya telah merasa khawatir karena dirinya pergi tanpa izin.
"Pak, antar saya ke desa Bendungan Hilir, ya Pak?" ujar Anya pada sang supir taxi.
"Baik, Non." balas supir taxi tersebut.
Seketika taxi pun berlalu melesat meninggalkan areal bandara.
***
Gavin tampak berjalan pelan menuju ruangannya. Wajahnya sangat tampan dengan setelan jas berwarna hitam yang ia kenakan.
Sambil sesekali menghirup udara segar, ia tampak tersenyum memperhatikan selembar foto wanita cantik yang ia simpan dalam dompetnya. Wanita separuh baya dengan rambut bergelombang sebatas bahu.
Morina Thomas, sosok almarhum ibunya. Senyumnya masih terlukis di dalam foto tersebut. Gavin merasa sakit hati kala dirinya mengingat kecelakaan yang terjadi yang membuat nyawa ibunya tewas.
Flash back
Malam itu hujan sangat deras mengguyur kota Jakarta Pusat. Gavin yang usianya masih sepuluh tahun, ia duduk di ruang tengah sambil menonton tv.
Sang ibu, Morina Thomas tampak melenggangkan kakinya dengan membawa sebuah tas koper dan menuju keluar. Air matanya tak henti-hentinya membasahi pelipisnya.
Gavin berlari menghampiri ibunya dan merangkul tubuh wanita itu sambil menangis.
"Mama, Mama jangan pergi. Jangan tinggalkan aku sendiri, Ma," tangis Gavin memecah susana malam itu.
"Gavin, Sayang. Maafkan, Mama. Mama harus pergi, kau jaga diri baik-baik, ya. Mama yakin Papamu akan merawatmu setulus hati," ucap Morina sambil menangis dan memeluk pelukan itu.
Langkahnya berjalan menuju jalan besar yang tak jauh dari rumah. Ia tampak tetap antusias meski hujan deras terus menerjang. Gavin menangis dan berlari mengejar sang ibu.
"Mama … Mama, aku ingin bersama, Mama," tangis Gavin sambil terus mengejar ibunya.
Ciiiiiittttt gubrakkkk
__ADS_1
Sebuah mobil truk melintas di jalan itu, dan merenggut nyawa wanita itu. Melihat kejadian itu, Gavin berlari menghampiri ibunya. Ia menangis sejadi-jadinya dan memeluk tubuh ibunya yang berlumur darah.
"Mamaa … bangun, Ma … jangan tinggalkan aku, hikkss hikkss," Gavin terus menangis sambil merangkul ibunya.
Matanya melirik ke sana kemari, ia bangkit dari duduknya dan berlari menghampiri truk tersebut. Akan tetapi dengan cepat truk itu berlalu saat setelah seorang wanita masuk ke dalam truk tersebut.
Gavin menatap wanita itu dengan tersenyum puas, namun sayang ia tak dapat melihat dengan jelas siapa wanita itu. Gavin pun merasa yakin bahwa wanita itu ada sangkut pautnya dengan kematian ibunya.
Ia pun pasrah dan meratapi wajah ibunya yang pucat pasi berlumur darah. Tak seorang pun yang ada melintas di jalan itu.
"Gaviin!! Ayo pulang. Jangan tangisi Mamamu, lagi. Dia memang keras kepala, sudah dibilang jangan pergi. Papa tidak ada hubungan apa pun dengan Bibi Grace," teriak Jeff dengan membawa payung dan menghampiri Gavin.
Ia pun menarik tangan putranya dan membawanya kembali pulang. Untuk jenazah Morina, Jeff sendiri yang akan meminta orang untuk mengurusnya. Padahal, Jeff juga merasa bingung dan merasa aneh dengan kejadian itu.
Biasanya truk tidak pernah melintasi jalan tersebut. Hanya beberapa kendaraan lainnya saja, sebab jalan besar itu bukanlah jalan lalu lintas. Ia pun segera meminta bodyguardnya untuk menyelidiki kejadian tersebut.
***
"Tuan Gavin, Nona Mawar telah menunggu di bawah. Katanya, ada hal penting yang akan dibicarakan," ujar Hans membuyarkan lamunan Gavin.
Gavin tersadar dari lamunan itu dan menatap gusar asistennya.
"Anda sedang ditunggu oleh Nona Mawar di bawah. Katanya ada hal penting yang akan dibicarakan," jawab Hans.
Tampak Gavin menghela napas dalam.
"Suruh dia ke ruangan saya,"
"Baik, Tuan Muda."
Sepeninggal asistennya, Gavin duduk di kursi sambil menyeruput kopi dingin.
Ingatannya masih terbayang akan sosok ibunya. Mau bagaimana pun dirinya akan tetap mencari tau siapa penyebab terjadinya kecelakaan itu.
***
"Apaa??! Jadi kamu Anya, anak saya?" ujar Diana tak mengenali wajah Anya yang kini telah berubah.
Diana nampak syok dan tak percaya akan hal itu. Namun, Anya terus meyakinkan wanita itu bahwa dirinya benar-benar Anya. Diana pun menghela napas dalam saat memperhatikan sebuah tahi lalat di bagian leher belakang putrinya.
__ADS_1
"Kau ini dari mana saja? Bisa-bisanya kau merubah wajahmu itu? Kau tau, Ibu sangat khawatir. Sampai-sampai Ibu meminta tolong Radit supaya membantu mencarimu. Lalu, Radit mengatakan bahwa kau bersama aktris Cecilia. Sekarang, kau sudah kembali. Syukurlah," ujar Diana nampak lemas.
Anya tersenyjm dan merangkul ibunya. Ia menyodorkan sebuah amplop yang berisikan uang banyak.
"Uang siapa, ini?" tanya ibunya.
"Ibu, ini uang untuk membeli rumah kita. Kita pindah dari sini dan Ibu tidak perlu lagi bekerja sebagai laundry. Sekarang, biar aku saja yang bekerja untuk Ibu, ya?"
Diana menatap wajah putrinya itu. Wajahnya tampak merasa kesal dan haru.
"Maafkan aku, Ibu. Aku melakukan operasi wajah ini karena aku akan bekerja bersama, Mbak Cecilia aktris idolaku,"
"Jadi, ini uang darinya??"
"Iya, Ibu. Dia sangat baik padaku, Bu. Dia juga akan berjanji memberikan uang bulanan untuk kita jika aku bekerja sangat baik,"
"Kau bekerja, apa? Jangan sampai kau jadi kupu-kupu malam, ya?!"
"Ibu, aku bukan wanita seperti itu. Aku akan melamar bekerja di perusahaan Tuan Muda Gavin,"
Deg!
Seketika kedua mata Diana terbelalak lebar, sepertinya ia pernah mendengar nama itu.
"Bukankah Tuan Muda Gavin itu yang terkenal sombong dan tidak mau membayar hutang? Untuk apa kau bekerja di sana, ha? Dan kau akan bekerja sebagai apa, Anyaa?"
"Ibu, tenanglah. Aku akan bekerja sebagai asisten khusus Tuan Muda. Dan aku bekerja di sana juga karena terpaksa, aku ingin balas dendam dengannya, Ibu. Karena dia selalu menghujatku dan meremehkan kita,"
Seketika Diana menghela napas dalam dan duduk di kursi. Ia tampak mengatur napasnya yang terasa sesak.
"Anya, sebenarnya Ibu tidak ingin kau bekerja bersama manusia sombong itu. Ibu takut, dia akan menyita gaji bulananmu. Membayar hutang saja tidak mau, apalagi menggaji karyawannya,"
"Tenanglah, Ibu. Aku bekerja di sana menggunakan identitas palsu, Bu. Jadi, dia tidak akan mencurigaiku,"
"Yasudahlah, terserah kau saja, Anya. Asalkan kau tidak bekerja sebagai kupu-kupu malam,"
"Iya Ibu, ini juga demi kemajuan keluarga kita."
Sesaat keduanya pun tersenyum dan berpelukan. Anya merasa bersyukur kepada Tuhan karena telah memberikan jalan untuknya.
__ADS_1
###