Mencintai Tuan Muda CEO

Mencintai Tuan Muda CEO
Chapter 43.Kebenaran Terungkap 2 (Tamat)


__ADS_3

Maafin Author ya, baru bisa up🙏


🌸 Happy Reading 🌸


Jangan jadikan kebencian suatu alasan untuk mengembalikan semua yang terjadi. Setiap masalah pasti punya cara masing-masing menyelesaikannya.


Alice tak dapat berkata apa-apa lagi sejak mendengarkan semua penjelasan sang ibu. Di mana segala kebenaran tentang dirinya kini terungkap. Juga hanya Dianalah yang mengerti atas kejadian yang selama ini terjadi pada dirinya. Rupanya, sudah sejak lama Diana sengaja menutup mulutnya agar tidak mengatakan yang sebenarnya. Namun kali ini, dia tak dapat lagi bungkam dengan semua rahasia yang tersimpan olehnya. Jika bukan karena uang dan ancaman oleh keluarga Marcellia, Diana akan membuka mulut lebar-lebar dan menceritakan kebenarannya.


"Pergilah! Temui mereka. Kau tidak punya waktu lagi selain besok, Alice. Maafkan ibu baru memberitahumu sekarang." perkataan Diana masih terus saja terngiang-ngiang di pikirannya.


Mungkin memang sudah saatnya, Alice harus mencari tahu dan mengetahui di mana keberadaan orang tua kandungnya. Segala info ia gali demi mendapatkan suatu petunjuk mengenai orang tuanya.


"Jadi … kau … Maurine putri bungsu dari keluarga Jhordy dan Kania? Lalu … lalu bagaimana dengan kondisi wajahmu yang berbeda?" jelas Jeff, saat mendengar semua penjelasan Alice mengenai siapa dirinya.


Alice pun menjelaskan semuanya mulai dari awal hingga akhir. Jeff hanya manggut-manggut dan merasa bersyukur karena putranya pasti akan merasa senang jika mengetahui hal ini. Setelah mendapatkan info di mana orang tua kandungnya berada, Alice tak lupa berpamitan dan memberi salam pada Jeff sebagai ucapan terima kasih dan salam perpisahan.


Kini Alice telah tiba di depan sebuah rumah mewah dengan beberapa mobil yang terparkir di garasi. Alice merasa kagum dengan keindahan rumah tersebut. Bangunan yang terbuat dari batu marmer dan dilapisi dengan keramik premium dan juga nuansa cat yang sangat fantastis. Alice tersenyum terpana sampai tak sadar seseorang mengejutkannya.


"Non? Sedang apa?" suara seseorang itu rupanya tukang kebun pemilik rumah tersebut. Awalnya Alice sedikit terkejut dan setelahnya memberitahu tentang kedatangannya di rumah itu. Tak lain adalah untuk menemui Tuan Jhordy dan juga Nyonya Kania. Tukang kebun itu pun memintanya untuk segera masuk ke dalam dan menemui keduanya.


"Apa?!" pekik Cecilia saat mendengar penuturan dari gadis sebaya di hadapannya itu. "Jadi … kau sendiri adalah saudara kandungku? Aku … aku tidak percaya itu. Kau jangan mengada-ngada gadis kampung! Aku tau, pasti kau masih belum puas untuk mendapatkan uang dariku, kan? Dan sekarang kau mengaku-ngaku bahwa kau saudaraku, supaya kau bisa mendapatkan harta warisan orang tuaku, iya kan?!" gertak Cecilia tak bisa menahan emosinya.


"Cecilia, jaga ucapanmu! Kita dengarkan dulu penjelasan Alice." Kania mencoba bersikap tenang dan meminta Alice untuk menjelaskan semuanya.

__ADS_1


Dengan sedikit gemetar, Alice menceritakan semuanya dan juga memberikan sedikit bukti-bukti tentang dirinya. Mereka semua seakan tak percaya dengan semuanya. Setelah itu, Alice juga menjelaskan tentang pergantian nama dirinya dan juga operasi plastik pada wajahnya yang membuat sedikit perubahan dari sebelumnya. Mereka semua terkejut dan juga Cecilia langsung bungkam saat mendengar perkataan Alice. Ia merasa malu karena orang tuanya memelototinya dengan tajam.


"Cecilia! Jadi kau masih bersikap licik seperti ini juga? Demi kesenanganmu kau sampai meminta adikmu sendiri untuk melakukan operasi plastik? Bagaimana jika Gavin tak mempercayai jika adikmu ini adalah Maurine?" gerutu Jhordy pada Cecilia.


"Pa, aku juga tidak tau kalau Alice adalah adikku. Jika aku tau sebelumnya mana mungkin aku tega melakukan itu," balas Cecilia.


"Halah! Kau itu bisanya beralasan! Papi tau bagaimana sikapmu, Cecilia. Kau itu memang licik, dan egois. Selalu mementingkan diri sendiri tanpa memikirkan orang lain,"


"Papi, sudahlah. Sekarang ini bukan waktunya untuk berdebat. Sekarang, kita telah menemukan putri kecil kita. Alice, kemarilah, Sayang …." ucap Kania.


Alice menghampiri Kania dan disambut dengan pelukan hangat. Baru kali ini ia merasakan begitu tulusnya kasih sayang seorang ibu yang telah melahirkannya. Begitu juga dengan Jhordy, ia pun merangkul tubuh putri bungsunya itu dengan kasih sayang dan rindu.


"Oh! Jadi kalian udah nggak sayang lagi sama aku?" keluh Cecilia dengan bersungut.


"Mami, Maurine sendiri tidak keberatan kok. Lagipula aku mencintai Gavin, jadi aku rela melakukan apa saja demi mendapatkan cintanya Gavin,"


"Cecilia! Kau itu benar-benar egois. Kau boleh mencintai Gavin sesukamu. Tapi, tidak dengan cara kau harus mengorbankan seseorang. Itu artinya kau terlalu licik dan picik!"


"Huft! Lagipula semua sudah terjadi. Ibarat nasi sudah menjadi bubur. Kita tak dapat mengembalikan lagi seperti semula. Nikmati sajalah wajah Maurine yang saat ini. Gavin pasti tak mempercayai semuanya. Dia juga berujung bakalan memilihku kembali,"


"Cecilia!"


Namun, Cecilia segera beringsut dan berlalu meninggalkan mereka semua. Lain dengan Alice, ia melepas rangkulan keduanya dan sedikit meneteskan air matanya.

__ADS_1


"Om, Tante. Sebaiknya, aku pergi dulu. Terima kasih atas waktunya," ucap Alice sambil bangkit, tapi tangannya segera diraih oleh Kania.


"Kau mau ke mana, Sayang? Kita ini orang tuamu. Jangan pikirkan sikap kakakmu itu. Dia itu memang keras kepala,"


"Ini bukan karena mbak Cecilia, Om, Tante. Tapi … aku sudah berjanji pada ibu untuk kembali menemuinya,"


"Jadi … kapan kami akan menjemputmu dan membawamu tinggal bersama kami?"


"Aku akan mengabari kalian secepatnya. Ini aku tinggalkan kartu namaku dan juga alamat ibuku. Kalian bisa kapan saja mengunjungiku di sana. Ibuku pasti akan senang,"


"Baiklah, Nak. Hati-hati di jalan, ya?"


Alice manggut-manggut dan membungkukkan badan sebagai salam perpisahan mereka. Keduanya hanya bisa memandangi kepergian putri bungsunya itu.


'Akhirnya … aku menemukan kedua orang tuaku. Terima kasih Tuhan! Ini akan menjadi suatu anugerah terindah bagiku.' Alice Chyntia Magdalena.


Tiba di tengah perjalanan, Seseorang menghampiri Alice dan membekap mulutnya dan membuat Alice menjerit ketakutan.


"Toloong … tolongg! Hmmmp … hmmp," jerit Alice setelahnya ia pingsan dan tak sadarkan diri.


'Sekarang, kau tidak boleh lepas dariku sebelum dia datang dan memberiku setumpuk uang. Hahahahaha!'


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2