
Pagi ini Bian tampak telah bangun dari tidurnya. Senyumnya tampak manis menatap cahaya mentari dari balkon. Di sana ia menyaksikan keindahan suasana pagi itu.
Lain halnya dengan Gavin, dirinya telah rapi dengan kemeja putih polos dan dasi yang dikenakan membuatnya terlihat tampan. Langkahnya menuju keluar kamar dan menuruni anak tangga.
Dengan kebetulan di sana ia berpapasan dengan adiknya, Bian Danendra yang sedang berjalan ke bawah.
"Wah! Tumben sekali Kakak bangun cepat? Pasti mau bertemu Mawar, kan?" ujar Bian dengan senyum simpul.
Ia memang sering meledek Gavin kapan pun itu, akan tetapi Gavin sendiri acuh tak acuh. Ia bersikap jutek tanpa terus menggubris obrolan sang adik.
"Jangan sok tau, kau. Saya mau bekerja, ngerti?" tukas Gavin, kemudian berlalu pergi meninggalkan adiknya yang masih bengong.
"Dasar, pria kolot. Pikirannya selalu bekerja dan bekerja, tidak pernah apa memikirkan soal cinta?" keluh Bian, lalu berjalan menuju ke meja makan.
Di sana terlihat Kelly tengah menyiapkan sarapan pagi. Senyum wanita itu merona saat melihat putranya.
"Kau sudah bangun, Sayang?" tanya Kelly pada Bian.
"Iya, Ma. Badanku sangat lelah sekali, semalaman utuh aku berlatih bermain piano, Ma," jawab Bian, lalu duduk di kursi.
"Kau ini, kalau bicara jangan keras-keras. Kalau Papamu dengar bagaimana? Kan sudah Mama bilang, Papamu tidak suka kau bermain musik," tutur Kelly sambil menuangkan segelas susu hangat di dalam gelas.
"Ini, minum dulu susunya," pinta Kelly lalu menyodorkan segelas susu pada putranya.
"Ma, aku bosan jika hidupku selalu diatur-atur. Aku ingin mandiri, sesuai keinginanku. Aku tidak ingin seperti kak Gavin, Ma," protes Bian, kemudian ia meneguk segelas susu tersebut.
"Ada apa ini? Pagi-pagi kok sudah ribut?" tanya Jeff yang tiba-tiba saja datang.
Lelaki itu mengambil posisi duduknya tepat di samping Kelly dan berhadapan langsung dengan Bian. Sejak Papanya datang, Bian hanya diam dengan wajah murungnya.
"Bian … bagaimana jika kau menggantikan posisi Manajer Fan, di perusahaan. Soalnya, beliau akan risain minggu depan. Nanti, biar Papa minta Gavin untuk mengurusnya," ujar Jeff pada Bian.
Bian tampak merasa berat dengan permintaan ayahnya itu. Ia pun menghembus napas pelan dan bangkit dari duduknya.
"Tapi, Pa. Aku tidak memiliki bakat bekerja di sana, aku ingin menjadi seorang musisi terkenal," tutur Bian dengan menatap wajah Ayahnya.
"Bian, kau tidak boleh berbicara seperti itu. Kau harus menuruti permintaan Papamu," ucap Kelly mencoba membuatnya tenang.
__ADS_1
"Menjadi seorang musisi itu tidak menguntungkan, apa kau tidak ingin kehidupanmu memiliki kemajuan seperti kakakmu? Ha??" timpal Jeff dengan nada tinggi.
"Menguntungkan atau tidak, itu tidak penting bagiku. Yang terpenting adalah, aku bisa terbebas. Aku bosan diatur-atur terus, Pa," ucap Bian dengan sengitnya.
"Kau ini ya?! Benar-benar keterlaluan. Papa begini, karena demi kebaikan kau juga, Bian,"
"Terserah, Papa saja, aku tidak mau diatur-atur lagi,"
"Biaaan …."
Namun Bian pun dengan kesal melangkahkan kakinya menuju lantai atas di mana kamarnya berada. Di sana, ia merenung dan mengurung diri dalam kamar dengan menikmati alunan piano yang ia mainkan.
Baginya, bermain piano dapat membuatnya tenang dan rilex. Terlebih, saat pikiran kacau mulai mengelabuhi dirinya.
***
Alice berjalan tampak kesusahan dengan menjinjing dua paper bag berisi beberapa gelas kopi yang baru saja dipesannya. Ia pun berjalan melangkahkan kakinya menuju ruangan Gavin. Di sana, ia melihat Gavin tengah berbicara dengan Manajer Fan.
"Tuan Muda Gavin, saya benar-benar minta maaf. Karena saya akan berpindah pekerjaan yang baru, jadi saya harus risain dari pekerjaan ini," ujar manajer Fan.
"Baiklah, Manajer Fan. Saya sangat senang dengan bekerja sama dengan anda. Sekali lagi, saya ucapkan terima kasih," tutur Gavin sambil menatap manajer Fan.
Tampak manajer Fan membungkukkan badan memberi salam perpisahan. Gavin mengangguk pelan dan menyodorkan amplop berisi uang.
"Ini gaji anda selama bulan terakhir, ini. Saya mengucapkan terima kasih, dan selamat jalan, Manajer Fan."
"Terima kasih, Tuan Muda. Saya permisi dulu."
Usai menerima amplop tersebut, manajer Fan pun berlalu pergi meninggalkan Gavin. Sementara, Alice masih berdiri dekat pintu masuk sambil menjinjing dua bag paper berisi kopi.
"Kenapa kau mematung di sana? Masuk." ujar Gavin saat mengetahui Alice di dekat pintu.
Alice mengangguk dan masuk ke dalam dan menghampiri Gavin. Jujur, ia merasa kesal dengan sikap Gavin. Baru saja ia masuk kerja, sudah diberi tugas yang sangat berat.
"Tuan Muda, ini kopinya," ucap Alice sembari meletakkan dua paper bag itu di atas meja.
"Kenapa kau meletakkannya di sini. Kau tau kan ini meja untuk bekerja. Sekarang, bawa kopi itu ke ruang meeting dan bagikan kepada masing-masing anggota meeting di sana, Ayo!" pinta Gavin lalu beranjak bangun dan membawa laptopnya.
__ADS_1
"Dokumen ini tolong kau bawa juga, ya?" pinta Gavin sambil meletakkan map berisi dokumen ke tangan Alice.
Alice tampak kesusahan sekali membawanya. Ia pun menggerutu sambil memeluk dua paper bag dan di tangan kirinya menggenggam map. Wajahnya penuh amarah sambil membuntuti langkah Gavin. 'Dasar! Manusia iblis!' keluh Alice sambil terus melangkah.
***
"Nona Mawar, hari ini anda terlihat sangat cantik," puji Radit setelah memotret Mawar. Ia pun duduk di samping Mawar dengan senyum merekah.
"Akh! Tuan Radit, saya kan memang sudah cantik dari dulu," cetus Mawar dengan pongahnya.
Radit mengulum senyum menatap wajah Mawar yang baginya tiap hari semakin cantik. Meskipun ia tahu, Mawar memiliki sikap yang kurang baik akan tetapi hatinya selalu menginginkan gadis itu.
"Nona Mawar, apa kau mau temani saya malam ini?" pinta Radi mencoba merayu gadis itu. Ia berbisik pelan di telinga Mawar membuat Mawar tampak merinding.
"Tuan Radit … sepertinya anda kebanyakan minum obat, ya?" ujar Mawar mengalihkan pembicaraannya.
Radit tersenyum simpul lalu mendekatkan wajahnya ke pipi Mawar. Tangannya mengelus paha mulus milik Mawar. Kebetulan, saat itu Mawar hanya mengenakan tanktop yang dibalut blazer dan juga rok mini berbahan karet. Sehingga membentuk lekuk tubuh gadis itu.
"Saya akan membayarmu dengan bayaran tinggi. Juga, saya akan mempercepat proses supaya kau populer kembali. Asalkan kau mau tidur denganku satu malam saja," rayu Radit dengan terus mengelus paha Mawar.
"Tuan Radit … sa-saya," seketika Mawar menghentikan ucapannya saat sebuah bibir mengecup mesra pipinya.
Mawar pun tampak terbelalak membuka matanya. Ia tidak menyangka hal itu bisa terjadi padanya.
"Akh, Tuan. Lepaskan saya." sahut Mawar sambil mencoba bangkit dari duduknya.
Namun, dengan cepat Radit menarik tangannya dan mendorong Mawar hingga jatuh terbaring di sofa. Kini Radit tampak tersenyum dan mengukung Mawar dengan posisi di atas gadis itu.
"Jangan munafik, Nona Mawar. Kau pasti menginginkan juga, kan? Maka, nikmati saja." ujar Radit dengan gairah yang memuncak di dalam dirinya.
Mawar hanya bisa diam dan pasrah. Ia tak dapat berbuat apa-apa saat Radit mulai ******* bibirnya dengan penuh birahi. Jujur, ini pertama kalinya bibir miliknya dijamah oleh pria yang bukan miliknya.
"Akh! Tidak. Tuan, jangan. Aku sudah memiliki calon tunangan, tolong jangan nodai aku," ucap Mawar sambil melepaskan ciuman itu.
Radit malah tertawa lebar mendengar ucapan itu.
"Tenang saja, hanya satu malam, Sayang." rayu Radit, sembari menindih tubuh Mawar dan memulai aksinya.
__ADS_1
Perlakuan Radit membuat dirinya menjadi lemah. Ia hanya pasrah menikmati adegan panas tersebut sambil terus mendesah pelan. Permainan Radit benar-benar membuatnya tak berdaya. Hancur sudah keperawanannya kini telah dinikmati oleh pria yang tidak dicintainya. Mawar pun menangis, merintih menjerit di dalam dekapan itu.
###