Mencintai Tuan Muda CEO

Mencintai Tuan Muda CEO
Chapter6. Ribut Di Kantor


__ADS_3

Suara sepatu heels yang dikenakan oleh Mawar Jingga terdengar beriringan dengan langkah kakinya yang mulus putih bersih. Gadis itu berjalan menuju sebuah studio yang tak jauh dari pusat kota.


Hari ini, Mawar mempunyai janji dengan seorang photografer terkenal di kota Jakarta. Menjadi seorang model sudah menjadi hobinya sejak usianya masih dini. Mawar sempat terkenal hingga usianya dewasa.


Namun, saat ini namanya merosot dan anjlok karena ulah seseorang. Mawar tak pernah mengerti siapa pelaku tersebut yang telah merampas kedudukannya hingga membuatnya anjlok.


Tak seorang photografer pun yang mau meliriknya hingga membuat dirinya merasa frustasi. Akan tetapi, Mawar tak pernah tinggal diam. Ia tetap mencari tahu siapa pelaku tersebut?


"Selamat Siang … Tuan Radit," sapanya saat tiba di ruang studio.


Seorang pria yang tampak masih muda tersenyum dan mengangguk. Ia mempersilahkan Mawar untuk duduk di kursi.


"Selamat datang, Nona Mawar. Senang bisa berjumpa dengan anda," balas Radit sambil menatap Mawar.


Mawar mengatur napas dan memberikan sebuah amplop berwarna coklat kekuningan. Radit menerima amplop tersebut dan membukanya.


Sejenak ia mengamati isi amplop tersebut. Terdapat selembar surat pernyataan kontrak kerja. Radit tersenyum dan menghela napas. Ia menatap kecantikan Mawar dan juga postur tubuhnya. Terlihat cukup menarik!


"Anda ingin mengajukan kontrak kerja bersama saya?" tanya Radit pada Mawar.


"Benar, Tuan Radit," balas Mawar.


"Anda memiliki wawasan dan pengalaman yang cukup. Saya pikir anda akan memperoleh keberuntungan di masa mendatang,"


"Jadi … bagaimana, Tuan Radit? Apakah Tuan menerima pengajuan saya? Saya sudah sejak lama mengalami kemerosotan hingga membuat saya menjadi seorang pengangguran. Ini semua karena ulah seseorang, akan tetapi saya tidak mengetahui siapa beliau, sepertinya beliau hanya meneror saya melalui panggilan telepon,"


Mendengar itu, Radit menarik napas. Sesekali ia memperhatikan wajah Mawar dan tersenyum simpul. Entah mengapa, dirinya merasa takjub dan tergoda dengan kecantikan yang dimiliki oleh gadis itu.


"Jika begitu, saya akan mempertimbangkannya. Semoga anda bisa booming kembali seperti Nona Cecilia,"


Deg!


Mawar tampak tersentak saat mendengar nama Cecilia. Ia merasa penasaran, apa yang dimiliki oleh Cecilia sehingga ia begitu populer di media masa?


"Cecilia??" ungkap Mawar merasa bingung.


"Benar. Nona Cecilia adalah seorang aktris yang baru beberapa bulan ini populer. Namanya sangat dikenal oleh kalangan masyarakat. Selain beliau cantik, Nona Cecilia juga memiliki talenta yang menarik. Selain di dunia entertainmen, beliau juga memiliki bakat model yang luar biasa,"


Mawar tampak tertegun. Pikirannya melayang-layang tak tentu arah. Ia menduga Cecilialah yang membuat namanya jatuh merosot. Hatinya menjadi tidak tenang, segala pikiran negatif muncul dalam benaknya.

__ADS_1


"Baiklah, Tuan Radit. Jika anda menerima pengajuan saya, tolong kabari saya sesegera mungkin. Ini kartu nama saya, kalau begitu saya permisi,"


Usai menyodorkan kartu nama tersebut, Mawar bangkit dan kembali meninggalkan studio itu. Radit hanya mengangguk dan mengamati kartu nama tersebut. Wajahnya tersenyum lebar.


***


"Gaviin … pliss aku mohon jangan tinggalin aku, aku masih menyayangimu. Apa kau tau apa pun akan aku lakukan demi mendapatkan cintamu kembali," ujar Cecilia sembari merangkul tubuh Gavin di ruang kantor.


Gavin merasa kesal bagaimana bisa petugas keamanan memperbolehkan Cecilia masuk begitu saja. Ia melepas rangkulan itu dan mencoba untuk menghindar.


"Cecilia, tolong … kau jangan berkehendak semaumu. Kau tau kan? Aku akan melakukan pertunangan minggu besok dengan Mawar. Jadi tolong, jangan ganggu aku lagi," balas Gavin.


Cecilia menatap wajah Gavin dan mencoba merayunya. Tangannya membelai wajah Gavin dengan mesra. Gavin selalu saja menolak dan meminta Cecilia untuk segera keluar.


"Gavin! Aku tidak akan keluar jika kau tidak mau membalas cintaku. Apa kau tidak kasihan padaku? Setiap hari selalu mencari cara agar aku bisa bersamamu. Apa kurangnya aku dibandingkan dengan Mawar?"


Gavin menatap wajah Cecilia dengan sinis. Kalau sudah tidak cinta, mau bagaimanapun tidak akan pernah bisa menerima cinta tersebut.


"Kau itu berbeda dengan Mawar. Kau itu licik! Akalmu sangat licik. Kau menggunakan segala cara demi keuntungan pribadi. Aku tau, kaulah yang membuat nama Mawar merosot supaya kau dapat terkenal, iya kan?"


Cecilia tampak geram. Ia mencoba bersikap biasa-biasa saja. Meskipun ia sempat kaget dengan ucapan Gavin.


Di saat itu tanpa disadari, Mawar datang dan melihat kejadian itu. Ia merasa geram dengan perlakuan Cecilia terhadap calon tunangannya itu.


Plakkkkk!


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Cecilia. Kedua mata Cecilia menatap tajam ke arah Mawar. Ia merasa tidak terima diperlakukan kasar seperti itu.


"Kurang ajar, berani sekali kau menamparku." sahut Cecilia sembari membalas tamparan itu.


Plakkk plakkk!


Tamparan itu pun mendarat di pipi Mawar, Mawar tampak merintih dan memegangi pipinya. Gavin bergegas mendekati Mawar.


"Petugas keamanan, tolong bawa Nona Cecilia keluar!" perintah Gavin.


Lalu dengan segera petugas keamanan membawa Cecilia keluar dari ruangan itu. Gavin menatap wajah Mawar dan membelai pipinya.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Gavin.

__ADS_1


Mawar hanya mengangguk. Kemudian tangannya mendekap erat tubuh Gavin.


"Gavin … aku ingin kita segera melangsungkan acara pertunangan kita, aku tidak ingin ada seseorang yang merampas kau dariku," ujar Mawar.


"Tenanglah, kau jangan khawatirkan itu. Sebentar lagi kita akan bertunangan,"


Gavin membelai rambut Mawar dengan mesra. Hatinya merasa kesal dengan perlakuan Cecilia terhadap calon tunangannya itu.


***


Anya duduk di ruang tengah sambil sesekali memperhatikan ibunya. Ia merasa prihatin dan kasihan terhadap ibunya itu. Ditambah lagi saat mendengar perkataan Gavin yang akan menggusur rumah miliknya. Anya tak tau harus bagaimana lagi?


Hanya itu rumah satu-satunya yang ia miliki meski hanya dengan menyewa. Karena keadaan ekonomi keluarganya yang tak memadai membuatnya harus jatuh bangun menjalani hidup.


Memang sulit saat tidak mempunyai apa-apa, selalu dipandang rendah oleh orang yang berkedudukan tinggi. Itulah yang membuat Anya harus tabah dan sabar menjalaninya. Segala doa dan usaha selalu ia panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa.


"Ibu … Ibu jangan pikirkan itu ya? Aku janji, aku akan mencari pekerjaan agar kita bisa membeli rumah baru," ucap Anya mencoba menenangkan ibunya.


Ibunya hanya menghela napas dan tetap fokus menyetrika pakaian.


"Kau tidak memiliki tamatan sekolah yang tinggi, pekerjaan apa yang akan kau dapatkan nantinya?" sahut ibunya.


Anya merenung. Ia memikirkan apa yang diucapkan oleh sang ibu. Benar juga, tamatannya hanya sekolah menengah atas saja dan tidak memiliki tittle yang tinggi. Bagaimana bisa ia mendapatkan pekerjaan yang layak?


"Aku akan berusaha, Bu." balas Anya.


Ia pun mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi temannya. Radit, teman lama sekolahnya dulu. Tampak Anya mengirimkan pesan singkat menanyakan info pekerjaan. Dalam hatinya, berharap akan ada lowongan untuknya.


[Jika kau membutuhkan pekerjaan, datanglah ke studioku besok.]


Sesaat, hati Anya berbunga-bunga, ia tersenyum dan memeluk ponselnya. Wajahnya berseri penuh warna dan berlari memeluk ibunya.


"Ibu … Radit memberikanku kesempatan kerja," ucap Anya pada ibunya.


Seketika kedua mata wanita setengah baya itu terbuka lebar. Ia menatap wajah Anya dengan jelas.


"Benarkah??" tanya ibunya.


Anya mengangguk pelan dan tersenyum. Keduanya saling berpelukan dan tersenyum bahagia.

__ADS_1


###


__ADS_2