
Jhordy bangkit dari duduknya dan menghembus napas lega. Ia menatap sang istri yang sedang terdiam merenung.
"Pokoknya Mama tenang saja, besok Papa sama Jeff akan membuat surat laporan mengenai kasus penculikan dan pembunuhan yang dilakukan oleh keluarga Johan. Jeff tadi telah membicarakan hal itu supaya keluarga Johan segera dipidanakan," ujar Jhordy dengan penuh penekanan.
"Syukurlah, Pa. Jika begitu tidak lama lagi pengkhianat itu akan dipidanakan. Mama sudah muak dengan mereka, Pa," tutur Kania.
"Sudahlah, Mama tenang saja. Semua itu biar Papa yang mengurus. Sekarang sudah larut malam, lebih baik Mama istirahat saja, ya?"
"Iya, Pa. Papa juga, ya,"
Kemudian Jhordy mengecup kening istrinya itu dan berjalan bersama menuju kamarnya. Di sana mereka menghabiskan waktunya menikmati hangatnya suasana malam.
Apa yang terjadi? Biarkan kunang-kunang yang menjelaskannya.
Di dalam kamar Mawar terduduk diam sembari menitikkan air matanya. Sedari tadi siang ia mengurung diri di dalam kamarnya. Sepertinya gadis itu benar-benar frustasi karena pertunangannya gagal akibat perlakuan orangtuanya sendiri.
"Semuanya hancur, semua hancur ... aku tidak lagi bisa mendapatkan cinta Gavin, semua karena ulah orangtuaku sendiri. Jika mereka tidak melakukan kesalahan, semua tidak akan begini jadinya," rintih Mawar dengan penuh histeris.
Tokk tokkk!
Terdengar pintu kamar diketuk oleh seseorang. Mawar tak memperdulikan hal itu. Tampaknya ia benar-benar kecewa pada Marcelia.
"Mawar ... maafkan, Mama." ucap Marcelia dari balik pintu dengan bibir gemetar.
Ucapannya tak digubris oleh Mawar, Marcelia mendengkus napas pelan. Ia menyadari kesalahannya dan merasa menyesal karena membuat kondisi putrinya terpuruk.
"Jhordy, Kania ... kau benar-benar keterlaluan. Selain kalian mempermalukan keluarga kami, kalian juga membuat hidup kami terancam! Pokoknya aku tidak akan menyerah begitu saja!"
Usai itu Marcelia membiarkan putrinya mengurung diri di dalam kamar, sementara langkah kakinya berjalan menuju ruang tengah di mana sang suami sedang menonton televisi.
Marcelia meraih tombol remote dan menekan tombol off. Johan menatap wajah Marcelia dengan bingung.
"Kenapa Mama matikan televisinya?" Johan bertanya heran.
"Papa ini tidak tau apa? Hidup kita ini sedang terancam, Pa. Mama yakin kalau Jhordy dan Kania akan segera menuntut kita ke penjara. Mama khawatir, Pa ... Mama takut," celoteh Marcelia.
__ADS_1
"Astaga, Ma. Sudahlah, jangan terlalu khawatir, Papa yakin semua akan baik-baik saja,"
"Tidak, Pa. Semua tidak akan baik-baik saja, semua akan berakhir, Pa. Mama tidak mau hidup di penjara, Pa. Pokoknya kita harus pergi dari kota ini, Pa,"
"Pergi?? Pergi ke mana, Ma? Lalu bagaimana dengan Mawar?"
"Pokoknya kita harus pergi ke tempat yang jauh, Pa. Mawar juga harus ikut, Pa. Kita tidak boleh membiarkan mereka menemukan kita,"
Johan tampak bergeming, sesaat ia manggut-manggut dan menyetujui rencana istrinya itu.
"Baiklah, Ma. Kita memang harus pergi dari sini, jika tidak, hidup kita akan berakhir,"
"Benar, Pa, pokoknya kita harus segera pergi, besok."
"Iya, Ma. Nanti biar Papa pesankan tiket pesawatnya, kita harus pergi ke luar negeri. Di sana kita akan bebas dari ancaman,"
Marcelia mengangguk pelan. Mereka tampaknya telah membuat rencana demi menghindar dari ancaman. Namun, akankah rencana mereka berjalan mulus sesuai prediksi?
***
"Sudah larut malam begini, kenapa Gavin belum juga kembali?" tampak Jeff diliputi rasa penasaran dan khawatir.
Kelly yang berada di sampingnya, tampak bergumam pelan. Ia merapikan selimut yang dikenakannya dan menatap wajah Jeff.
"Pa ... tenanglah, jangan terlalu mengkhawatirkannya. Gavin sudah dewasa, mungkin saja dia ingin menyendiri di apartemennya, karena kejadian tadi siang," ungkap Kelly mencoba menenangkan sang suami.
Lelaki separuh baya itu menghembus napas sesak. Perasaannya sangat tidak enak karena diliputi rasa khawatir yang begitu mendalam.
"Pa, jangan terlalu memikirkan hal buruk. Mama khawatir jika jantung Papa kambuh lagi, ini sudah larut malam. Alangkah baiknya Papa istirahat, ya?"
"Tapi, Ma. Papa merasa tidak enak, Papa takut terjadi sesuatu pada Gavin,"
"Papa ini terlalu berpikir yang tidak-tidak, Gavin pasti baik-baik saja. Lihatlah, Bian saja sampai sekarang belum juga kembali, Mama tidak begitu khawatir, karena mereka sudah sama-sama dewasa, Pa."
Jeff tampak menghela napas pelan. Ia menarik selimut yang dikenakan dan mulai memejamkan mata. Kelly sendiri masih belum bisa memejamkan matanya.
__ADS_1
Jujur saja, ia masih mengkhawatirkan putranya yang belum juga kembali. Meskipun ini bukan pertama kalinya Bian pergi tanpa pamit, akan tetapi Kelly selalu mencemaskan putranya itu.
Tangannya meraih ponsel di atas nakas samping ranjang tidur, lalu mencari nomor ponsel Bian dan mengirimkan sebuah pesan singkat.
[Cepat kau pulang, jangan membuat Ayahmu marah lagi.]
Usai itu ia meletakkan kembali ponselnya ke tempat semula. Ia pun mulai memejamkan matanya untuk tidur.
***
Di rumah sakit, Gavin masih belum bisa memejamkan matanya untuk tidur. Luka pada bagian kepalanya membuat sakit membuncah. Pikirannya tertuju pada saat kejadian kecelakaan tadi sore.
Ingatan itu selalu muncul dan membuatnya penasaran dengan gadis misterius yang telah menyelamatkan dirinya. Mengapa wajah gadis itu tidak jelas?
Berulang kali, Gavin mencoba untuk mengingat wajah gadis itu. Namun, rasanya sangat sulit untuk mengembalikan daya ingatannya. 'Akh!! Sial.' Gerutu Gavin dengan kesal.
Kini matanya tertuju pada gadis yang telah tertidur di kursi dekat brangkar rumah sakit itu. Ia menatap dengan seksama wajah gadis itu.
"Aku tidak mengenalnya, kenapa dia berkata bahwa dia pacarku, apa selama ini aku memiliki seorang pacar?" ungkap Gavin.
Klungg kluunggg! Drrrttttt!
Di saat itu ponsel milik Cecilia bergetar dengan keras. Gavin menatap ponsel yang tengah digenggam oleh Cecilia. Ia ingin membangunkan gadis itu, namun ia mengurungkan niatnya dan membiarkan gadis itu tertidur.
Matanya menatap ponsel yang terus berdering itu, ingin ia meraih ponsel tersebut, tetapi takut tidak sopan.
Dengan susah payah Gavin terpaksa mengambil ponsel gadis itu dan melihat pada layar kaca monitor ponsel tersebut. Di sana tertera nama 'Alice'.
Gavin tersentak saat melihat dengan jelas foto gadis itu. Ia pun terdiam dan memikirkan sesuatu.
"Aku sepertinya mengenal gadis ini? Wajahnya sangat familiar sekali," ucapnya.
Jelas saja Gavin menganggap wajah Alice sangat familiar. Di ponsel itu jelas tertera foto Anya Maurine sebelum oplas.
"Iya! Aku mengingatnya, wajah ini sangat mirip dengan Anya Maurine gadis kampung dan juga pemeras." cetus Gavin.
__ADS_1
Mengapa Gavin hanya mengenal wajah Anya Maurine? Lalu bagaimana dengan Alice? Akankah ia mengingat wajahnya?
###