Mencintai Tuan Muda CEO

Mencintai Tuan Muda CEO
Chapter15. Balas Dendam


__ADS_3

"Pagi, Ma …." sapa seorang pria tampan yang tal lain adalah Bian Danendra.


Krrreekkk


Seketika pintu terbuka lebar, seorang wanita paruh baya muncul membukakan pintu. Bian langsung memeluk wanita tersebut penuh rasa bahagia.


Hampir lima tahun lamanya, sejak dirinya menyelesaikan kuliah di luar negeri membuat Bian harus berpisah lama dengan ibunya. Kelly tersenyum dan mempersilahkan putranya untuk masuk.


"Sudah lama Mama tidak berjumpa denganmu, kau sekarang sudah tumbuh dewasa, Sayang. Mama sangat bangga denganmu," ujar Kelly menatap putranya.


"Sekarang, aku sudah kembali, Ma. Mulai besok aku sudah bisa mencari pekerjaan, aku ingin menjadi seorang musisi terkenal," tutur Bian pada Kelly.


Tampak Kelly menghela napas dalam. Ia sepertinya tidak setuju dengan bakat yang dimiliki putranya itu.


"Kau ini, ya. Sudah berapa kali Mama bilang, jangan menjadi seorang musisi. Kau tau, Papamu tidak menyukainya. Mama ingin, kau memiliki pekerjaan yang pasti seperti kakakmu itu,"


Bian tampak terdiam lemas. Ia tak ingin menuruti keinginan ibunya. Meskipun sang ayah sangat membenci dunia musisi, akan tetapi bagi dirinya musisi itu adalah bakat dan cita-citanya selama ini.


"Ma, aku berbeda dengan kakak. Aku punya cara sendiri untuk memperoleh pekerjaan,"


Seketika itu Bian pun beranjak pergi dan meninggalkan ibjnya.


"Bian, tapi … Mama …."


Karena kesal melihat sikap putranya yang selalu membangkang, Kelly pun menghempaskan pantatnya di sofa. Mau bagaimana pun ia harus bisa membujuk Bian untuk menuruti keinginannya.


"Dasar anak nakal, masih juga membangkang. Ini semua juga demi kebaikan kamu," gerutu Kelly merasa jengkel.


"Ada apa kok ngomel-ngomel, Ma?" tanya Jeff yang baru saja datang.

__ADS_1


"Eh, Papa. Tidak ada apa-apa, Pa. Papa sudah pulang?" jawab Kelly pada suaminya itu.


Jeff berjalan menghampiri Kelly, lalu ia menghempaskan pantatnya di samping istrinya duduk.


"Hari ini sangat melelahkan sekali, tadi Papa coba datang ke perusahaan. Gavin sedang bingung mencari karyawan untuk dijadikan asistennya," tutur Jeff.


"Ohh, gitu. Bukankah sudah sudah ada, Hans, Pa. Kenapa masih butuh asisten?"


"Ya, biasalah. Namanya juga Gavin kan selalu sibuk, kalau cuma Hans saja itu tidak sanggup terselesaikan. Apalagi, perusahaan akan mengadakan proyek, dan juga Gavin sendiri akan melakukan pertunangan dengan Mawar,"


Kelly hanya mendehem dan menghela napas.


"Oh, iya. Bian sudah pulang?"


"Sudah, Pa,"


"Syukurlah, tadi dia sempat chat Papa untuk menjemputnya. Tapi, Papa sibuk jadi Papa minta Pak Ujang untuk menjemputnya,"


"Bukan begitu, Ma. Papa kan sibuk, jadi mau bagaimana lagi?"


"Terserah Papa sajalah."


Usai itu Kelly pun berlalu pergi meninggalkan suaminya itu. Sementara, Jeff hanya mendengkus napas pelan dan beranjak dari tempat duduk.


***


Sesuai kesepekatan yang sudah ditentukan kemarin, Anya dan Cecilia terbang ke luar negeri. Cecilia sengaja membawa Anya ke Korea selatan untuk melakukan perawatan khusus di suatu rumah sakit ternama di sana.


Meski Anya merasa ada yang aneh dengan sikap Cecilia itu, akan tetapi ia tetap menuruti dan mengikuti apa yang akan dilakukan oleh Cecilia.

__ADS_1


"Mbak, ini sebenarnya saya dibawa ke mana, ya?" tanya Anya sangat polos.


Cecilia tersenyum dan berjalan menuju sebuah taxi yang telah menunggu mereka di dekat bandara tujuan.


"Jangan banyak tanya, nanti juga kau akan tau sendiri," sahut Cecilia dengan santainya.


Anya hanya diam dan mengikuti Cecilia.


Kini mereka telah tiba di sebuah rumah sakit di kota Seoul. Di sana, Cecilia turun dari taxi dan diikuti oleh Anya.


Langkahnya menuju gedung rumah sakit dan menyusuri setiap koridor dengan menaiki lift. Anya terpaku diam, ia memandang sekeliling rumah sakit tersebut. Matanya terpana, ini pertama kalinya kakinya menginjak negara Korea Selatan.


"Annyeonghaseyo, dagteo Johan," sapa Cecilia pada dokter tersebut dengan berbahasa Korea.


"Annyeong, miseu Cecilia," balas dokter tersebut.


"Bagsanim, chinguui eolgul-eul aleumdabge bakkuneun de doum-eul yocheonghago sipseubnida. hal su issnayo?"


"Joh-ayo, agassi. ulineun geugeos-eul wanbyeoghage mandeul geos-ibnida."


Sesaat Cecilia tersenyum. Ia menatap wajah Anya yang terlihat polos itu.


"Anya, Dokter akan mengubah wajahmu menjadi cantik, apa kau setuju?" tanya Cecilia pada Anya.


"Jadi, saya mau dioperasi plastik, Mbak?" tampak Anya melontarkan pertanyaan.


"Benar, Anya. Satu-satunya cara supaya kau bisa bekerja sama dengan saya adalah, kau harus melakukan operasi plastik. Bukankah kau juga ingin balas dendam?"


Sedetik Anya terdiam. Ia memang merasa benci kepada Tuan Muda Gavin. Setiap hari selalu menghujat dan merendahkannya. Mungkinkah ini jalan terbaik untuknya? Dengan melakukan operasi plastik.

__ADS_1


Seketika, Anya pun tersenyum dan mengangguk pasrah. Ia tidak mempunyai pilihan lain selain dengan menuruti perintah Cecilia. Lagipula, Cecilia telah berjanji akan membayarnya dengan harga yang tinggi. Meski ini pekerjaan kotor, mau tidak mau ia melakukannya karena terpaksa. Keadaanlah yang membuatnya hingga begini.


###


__ADS_2