
Malam ini Radit telah selesai mandi, ia berjalan keluar menuju kamar dengan mengenakan handuk. Sementara, Mawar masih terduduk lemas di atas ranjang. Matanya menatap gusar postur tubuh milik Radit.
Terlihat kekar di bagian dadanya dan juga perut sispexnya memperlihatkan tubuh yang atletis itu. Dalam hati, Mawar bergumam pelan. 'Ternyata, postur tubuhnya sangat menggoda.' Ia pun memalingkan wajahnya saat Radit menghampirinya.
"Kau tidak mandi, Sayang?" tanya Radit pada Mawar. Kini Radit telah memiliki keberanian memanggil Mawar dengan sebutan Sayang.
Tangannya mendekap erat tubuh Mawar dari belakang. Aroma maskulin dan wangi Radit membuat jantung Mawar berdesir hebat. Ia tak dapat menahan perasaan itu. Mawar pun membalikkan badannya dan menatap wajah Radit yang tak kalah tampan dengan Gavin.
Kedua tangan Mawar, tampak bergelayutan manja di leher Radit. Radit tersenyum lebar diperlakukan seperti itu.
"Kau mau lagi?" tanya Radit.
Mawar tersenyum manis sekali. Ia pun mengangguk dan memulai mengecup bibir Radit yang sensual itu. Ternyata, dalam sekejap mata dirinya mampu termakan rayuan Radit.
Radit pun membiarkan hal itu terjadi dan membalas kecupan mesra tersebut sambil sesekali memainkan lidahnya. Sepertinya, Mawar sangat menikmati hal itu, ia tampak terpejam dengan bibir terus ******* bibir Radit.
Benda pusaka Radit yang tadinya loyo, kini berubah menjadi tegangan tinggi. Ia yang masih mengenakan handuk pun segera melepas handuknya dan menggerayangi tubuh Mawar. Puncak birahinya terus melonjak tinggi, tangannya membuka satu persatu pakaian yan yang dikenakan Mawar.
Ternyata, melakukan dalam sekali saja tak membuatnya puas. Terlebih, saat menikmati sensasi milik Mawar yang tampak masih legit dan sempit membuatnya terus menjerit nikmat. Begitu juga dengan Mawar, ia tampak telah dirasuki oleh setan belang dalam dirinya.
Sehingga membuatnya melakukan hal yang tak senonoh itu, membuatnya semakin ketagihan. Terlebih, permainan Radit yang benar-benar membuat dirinya seakan terbang melayang. Inikah rasanya surga dunia?
***
"Bagaimana Ibu? Enak kan burger yang aku beli?" tanya Alice sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.
Ia baru saja selesai mandi dan menghampiri ibunya yang tengah menonton televisi. Alice pun duduk di samping ibunya.
"Terima kasih, ya? Sekarang Ibu sudah tau bagaimana rasanya burger. Ternyata benar-benar enak sesuai harapan Ibu," jawab ibunya.
__ADS_1
"Iya, Ibu. Besok kalau aku pulang kerja, aku akan membelikannya lagi untuk Ibu, ya?"
"Sudah-sudah. Ibu sudah cukup merasakan sekali ini saja. Lebih baik, uangmu kau tabung saja untuk keperluan lainnya,"
Alice tampak tersenyum dan memeluk ibunya.
"Ibu, tidak apa-apa. Untuk Ibu, aku rela melakukan apa saja,"
"Kau ini, sudahlah. Jangan terlalu memikirkan Ibumu ini. Sesekali, kau pikirkan saja dirimu. Kau sudah dewasa dan saatnya kau memiliki masa depan, carilah pendamping hidup, ya?"
Mendengar perkataan Diana, Alice terdiam dan menatapnya dengan mata berkerling.
"Ibu ⦠aku masih ingin sendiri dan membahagiakan Ibu. Untuk pacar, aku tidak mau memikirkannya saat ini,"
Diana tampak menghela napas dalam. Ia pun mengerti bagaimana perasaan putrinya itu. Tidak mungkin dirinya harus memaksa putrinya.
"Yasudah, kalau begitu terserah kau saja. Sekarang, kau makanlah. Ibu tadi sudah memasak sup iga manis kesukaanmu,"
Diana tampak tersenyum melihat putrinya. Anya pun bangkit dari duduknya menuju dapur. Di sana ia menyiapkan semangkuk sup dan juga nasi di atas meja. Mencium aromanya saja sudah membuat dirinya tidak sabar menyantapnya. 'Akh. Ini pasti enak sekali.' gumamnya pelan.
***
Bian tampak berjalan terburu-buru menuju sebuah bar. Di sana ia akan menemui sahabat-sahabatnya. Mereka semua adalah teman komplotan geng motornya saat masih sekolah dulu. Diantaranya adalah Juno, Dellon, dan Kenny.
"Hai Bro, apa kabar? Sudah lama tidak berjumpa," sapa Bian sembari menjabat tangan masing-masing dari mereka.
"Biasa Bro, lagi kanker," seru mereka bertiga.
Bian tampak mendengkus napas. Ia pun mengambil posisi duduknya berjajar dengan mereka.
__ADS_1
"Kanker terus. Cari duit sana," timpal Bian.
"Kita kan nunggu traktiran kau, Bian. Sudah lama sejak kau kembali, belum ada mentraktir kita," ucap Kenny.
"Benar, Coi. Pokoknya malam ini kau harus mentraktir kita, ya?" sahut Dellon.
"Tenang, Bro. Setelah kau mentraktir kita, akan kita kenalin kau sama cewek cantik," ujar Juno.
Bian tampak terbelalak saat mendengar penuturan sahabatnya itu.
"Cewek cantik?" gumam Bian.
"Yo'i Bro. Aku yakin kau akan menyukainya,"
Bian pun menyetujui kesepakatan itu. Karena, dirinya telah bosan dengan kesendirian berharap dengan begini dirinya dapat memiliki seorang pacar. Apalagi, ia tak mau kalah dengan kakaknya, yang sebentar lagi akan bertunangan.
***
"Wine satu gelas ya, Mbak?" ujar salah seorang gadis yang tak jauh dari posisi mereka berempat.
Gadis itu mengenakan dress berwarna merah dengan rambut diikat setengah. Bagian bawah ia biarkan tergerah begitu saja.
"Tuh, Bro ceweknya. Buruan sana, dekatin," ujar Dellon pada Bian sembari menunjuk ke arah gadis itu yang tak lain adalah Cecilia.
"Cecilia??" gumam Bian.
"Kau kenal siapa dia?" tanya Juno pada Bian.
Bian pun terdiam dan membungkam. Ia merasa tak bergairah jika melihat dan mendengar nama Cecilia. Sebenarnya ada hubungan apa Bian dengan Cecilia??
__ADS_1
###