Mencintai Tuan Muda CEO

Mencintai Tuan Muda CEO
Chapter21. Takut Curiga


__ADS_3

Alice tampak berjalan menuju ruangannya yang tak jauh dari ruangan Gavin. Ia merasa puas, karena hari ini tidak terlalu banyak melakukan pekerjaan berat.


Senyumnya pun mengembang menatap ponselnya, ia membaca sebuah pesan dari Cecilia.


[Jangan lupa, kau melakukan aksimu. Nanti sepulang dari kerja, kau harus mencari alasan supaya Gavin dapat mengantarmu. Aku tau, jika itu terjadi seterusnya Gavin akan menaruh hati padamu dan mengabaikan Mawar.]


Kemudian Alice dengan sigap membalas pesan tersebut. Jemarinya tampak menari-nari di atas keyboard layar ponselnya. Senyumnya pun terus mengembang pada bibir sensualnya itu.


"Ekhemm!" tampak Gavin berjalan memasuki ruangannya. Ia mendehem pelan berharap Alice memperhatikannya.


Akan tetapi, sedikit pun Alice tak memperhatikan sumber suara itu. Matanya tetap fokus tertuju pada layar ponselnya.


"Kalau bekerja, bekerja saja. Jangan terlalu fokus pada ponsel." ketus Gavin sambil sesekali memperhatikan Alice.


Mendengar itu, Alice segera meletakkan ponselnya dan menatap ke arah Gavin.


"Ma'af, Tuan Muda. Bukankah, sekarang sudah waktunya istirahat?" ujar Alice.


Gavin menghela napas dalam. Ia tak mau jika harus disalahkan meski dirinya bersalah.


"Walaupun ini jam istirahat, tapi kau harus tetap bekerja. Kau itu masih baru di sini, jadi perlu banyak pengalaman, kau mengerti?" sahut Gavin.


"Jadi, apa lagi yang perlu saya kerjakan, Tuan Muda?"

__ADS_1


Gavin bangkit dari duduknya, ia pun mengambil beberapa map di atas meja dan menyerahkannya kepada Alice. Kedua mata Alice tampak terbelalak lebar.


"Kau harus menyalin semua dokumen ini. Kau tidak perlu menyelesaikan semuanya hari ini, tapi setidaknya kau bisa melakukannya," ucap Gavin, lalu berjalan ke tempat duduknya.


Sementara, Alice hanya diam merasa bingung. Ia tidak boleh berkata jujur kalau dirinya tidak bisa mengoperasikan komputer. Oh, Tuhan! Anya masih saja terdiam sambil mengamati isi dokumen-dokumen tersebut.


Tanpa sepengetahuannya, Gavin berdiri di belakangnya dengn kedua tangannya bersedekap di dada.


"Tunggu apa lagi? Ayo kerjakan." sahut Gavin mengejutkan Alice.


Alice pun membalikjan badan dan melihat Gavin berada di belakangnya. Ia merasa takut harus berbuat apa? Jika ia mengatakan sebenarnya, bisa-bisa Gavin akan mencurigainya. Sedangkan pengalaman kerjanya tercatat sangat bagus di CV kemarin.


"Kau tidak bisa mengerjakannya? Bukankah pengalaman kerjamu sangat bagus," ujar Gavin.


"Atau kau merasa lelah? Baiklah, tidak apa-apa. Saya mengerti, lakukan saja nanti kalau lelahmu sudah hilang,"


"Terima kasih, Tuan Muda. Saya benar-benar masih lelah,"


Gavin hanya mengangguk pelan dan berlalu pergi. Alice pun tersenyum gembira karena Gavin tidak mencurigainya. Kalau sempat mencurigainya, bisa kacau rencananya.


***


Tutttt tutttt

__ADS_1


NOMOR YANG ANDA TUJU TIDAK DAPAT DIHUBUNGI. MOHON PERIKSA KEMBALI NOMOR TUJUAN ANDA.


Gavin tampak menghela napas dan melihat layar ponselnya. Ia mencoba menghubungi Mawar namun, tidak tersambung. 'Tumben tidak dijawab. Ke mana dia? Bukankan hari ini mau mencoba gaun? Atau, dia masih marah padaku karena masalah semalam?'


Setelah itu Gavin pun kembali ke ruangannya, ia terkejut melihat Alice yang tertidur di sana. Langkahnya pun menuju tempat kerja Alice. 'Dasar! Sudah dibilang tidak boleh tertidur di ruangan, pun. Masih saja tertidur.' keluh Gavin.


Kedua matanya menatap wajah Alice yang cantik dan manis. Ia pun mengemas semua dokumen yang berantakan di atas meja Alice dan menyingkirkannya di tepi meja.


Gavin menatap jam tangannya, sebentar lagi waktunya jam pulang. Namun, bagaimana dengan Alice? Ia pun tak mungkin meninggalkan gadis itu sendirian di kantor. Mau tidak mau, Gavin harus menunggu hingga Alice terbangun.


Sembari menghilangkan kejenuhan, Gavin duduk di kursi sofa sambil memainkan ponselnya. Akan tetapi, wajah Alice selalu menghantui pikirannya. Kedua matanya sesekali memperhatikan Alice dari kejauhan.


"Tuan Muda. Apakah Tuan akan pulang bersama saya?" tanya asisten Hans yang tiba-tiba muncul.


"Sepertinya, saya akan pulang nanti. Karena masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Kau pulang naik taxi saja, ya?" ucap Gavin pada Hans.


Seketika Hans menatap ke arah Alice yang tertidur. Ia pun mengerti, kenapa Gavin akan pulang telat? Ia pun mengangguk.


"Baik, Tuan Muda. Saya permisi dulu, ini kunci mobilnya, Tuan Muda."


Gavin pun mengangguk dan menatap kepergian asistennya itu. Kini pandangannya tertuju pada Alice, entah mengapa wajah gadis itu terus memenuhi pikirannya. Ataukah Gavin mulai memiliki perasaan?


###

__ADS_1


__ADS_2