Mencintai Tuan Muda CEO

Mencintai Tuan Muda CEO
Chapter40. Hilang Harapan


__ADS_3

"Akhirnya kita sudah sampai, kau istirahatlah dulu, Nona Mawar. Pasti kau terlalu lelah." Radit meletakkan tas ranselnya di atas ranjang. Kemudian ia menghempaskan pantatnya.


"Iya, Tuan Radit. Sepertinya aku sedikit kelelahan. Setelah perjalanan jauh perutku mual tidak enak." Mawar pun juga menghempaskan pantatnya di ranjang. Kini keduanya duduk sejajar.


Radit tampak menghembus napasnya. Ia membelai rambut Mawar dan tersenyum.


"Kau jangan aku Tuan lagi, ya?"


"Lalu?"


"Kau bisa memanggilku ... Radit, atau ... Honey. Pokoknya terserah kau saja, asalkan jangan Tuan,"


"Baiklah,"


"Untuk beberapa hari kita menginap di villa ini saja, ya? Nanti malam kita dinner,"


"Baik, Tuan Radit."


Radit hanya tersenyum. Ia tak henti-hentinya memandang kecantikan yang dimiliki oleh Mawar. Mulai dari ujung kaki hingga ujung rambut. Baginya, seluruh tubuh gadis itu adalah miliknya.


"Kau mau makan?" tanya Radit pada Mawar.


"Boleh," balas Mawar singkat.


"Baiklah, kau tunggu di sini ya. Aku akan kembali setelah membeli makanan untukmu,"


"T-tapi ...."


"Tenang saja, tidak lama kok,"


"Baiklah, kau hati-hati ya?"


"Oke, Sayang."


Mawar tersenyum simpul memperhatikan Radit. Ia merasa benar-benar aman dan nyaman berada di dekatnya. Selain Radit tampan dan mapan, pria itu juga sangat perhatian padanya. Selalu memperlakukan dirinya bak ratu istana. Mawar terkekeh dalam kesendirian usai menatap kepergian Radit.


Sesaat dirinya teringat akan sosok orangtuanya, entah mengapa di tengah bahagianya ia mengkhawatirkan keduanya. Mungkinkah mereka sudah sampai di luar negeri? Bukankah perjalanan menuju Singapura tak begitu memakan waktu lama. Mawar mencoba meraih ponselnya, ia berusaha untuk menghubungi ibunya.

__ADS_1


Akh! Tidak. Mawar mengurungkan niatnya dan meletakkan kembali ponselnya di atas ranjang. Di sana ia membanting tubuhnya di kasur dengan perasaan tak karuan. Mengapa begitu banyak masalah dalam hidup? Mengapa seakan-seakan hidupku terasa begitu tertekan? Mawar bergeming dengan suara sedikit serak.


Kehidupan memang pahit, tetapi ia tak boleh melalui begitu saja. Bukankah masih banyak cara untuk menikmati bahagia dalam hidup? Mawar tersenyum saat ia mengingat wajah Radit. Dari seluk beluk hatinya, ia menyadari bahwa Radit begitu berarti. Namun, di sisi lain ia masih belum bisa melupakan Gavin. Kenangan itu seakan masih membekas dalam ingatannya.


Begitu bodohnya! Telah terjerat dalam cinta yang salah. Kini semua telah berakhir karena perbuatan orangtuanya. Mawar tak habis pikir jika kedua orangtuanya memanfaatkan putrinya untuk mendapat kekayaan dari keluarga Gavin. Justru hal itu membuat kehidupannya semakin remuk. Semua telah berakhir.


Selama-lamanya kita menyembunyikan bangkai, pasti akan tercium juga. Begitulah pepatah mengatakannya. Mawar mengelus perutnya yang terasa mual dan lapar. Ada perasaan aneh terlintas dalam pikirannya. Ia sangat takut jika mual itu pertanda hamil bagi dirinya. Mawar pun merasa tak tahan, ia berlari ke kamar mandi dan muntah di sana.


Seluruh tubuhnya terasa tidak enak dan meriang. Rasa itu semakin menjadi-jadi membuat kepalanya terasa pusing. Tidak mungkin! Ini tidak mungkin pertanda hamil. Mawar menatap gusar pada cermin yang ada di kamar mandi itu. Ia mencuci mulutnya dengan air keran. Terasa sangat pahit!


"Sayang, aku kembali. Ini aku membelikan beberapa roti burger dan juga pizza. Ini juga ada nasi padang dan daging rendang, apa kau menyukainya?" Dari luar terdengar suara Radit yang telah kembali. Mawar membuka pintu kamar mandi dan menemui Radit.


"Kau sudah kembali?" tanya Mawar.


"Ya, ini aku membelikan banyak makanan. Apa kau menyukainya?" balas Radit.


Kemudian ia meletakkan semua makanan yang dibelinya di atas meja.


"Terima kasih, Radit. Ini sangat banyak sekali, sedangkan aku tidak berselera untuk makan,"


Mawar tampak lemas dan lesu. Ia duduk di ranjang sambil memijit kepalanya.


"Aku tidak apa-apa. Kau jangan mengkhawatirkanku, Radit,"


"Benarkah begitu? Jika kau memang tidak enak badan aku akan membawamu ke rumah sakit,"


"Tidak perlu. Aku baik-baik saja,"


"Baiklah. Kau makan saja dulu nasinya, sedikit saja tidak apa-apa. Bukankah seharian ini kau belum makan?"


"Iya, Radit. Kau juga makan, ya?"


"Baiklah, aku akan makan juga."


Mawar mengulum senyum manja. Begitu pula dengan Radit, ia tampak membuka nasi kotak yang telah dibelinya. Lalu menyodorkannya pada Mawar. Meskipun mereka belum menjalin hubungan yang jelas, tapi kedekatan mereka cukup terlihat harmonis dan manis.


***

__ADS_1


Alice berjalan lemas menuju pintu masuk rumahnya. Ia tampak lemas tak bergairah setelah menemui Cecilia. Entah mengapa, ada rasa tidak terima jika Gavin harus dimiliki oleh Cecilia. Mungkinkah itu perasaan cemburunya? Atau mungkin dirinya benar-benar mulai mencintai Gavin?


"Hei! Kau dari mana saja, Alice? Sejak tadi aku mencarimu, tapi kau tidak ada," tanya Crish yang sedang duduk di ruang tamu dengan laptop di tangannya.


Alice hanya terdiam membungkam, lalu ia menjawab dengan lemas, "Tidak ada. Aku hanya pergi sebentar untuk mencari angin. Kau mencariku untuk apa?"


"Ohh! Begitu. Aku ingin memintamu untuk melanjutkan dokumenku, aku sangat lelah. Apa kau bisa membantu menyelesaikan dokumenku? Besok aku sudah mulai bekerja,"


"What? Haduhh, Crish. Aku sedang tidak enak badan. Maafkan aku, aku tidak bisa membantumu."


Dengan segera Alice kembali ke kamarnya. Ia mengurung diri di dalam kamarnya. Tidak mungkin ia membantu Crish menyelesaikan dokumennya, sedangkan dirinya tidak pandai bermain laptop. Alice terdiam dan merenung memikirkan pekerjaannya. Apakah ia harus bertahan di perusahaan Gavin dengan tangan kosong? Atau ia harus mundur dari pekerjaan itu?


Entahlah. Seakan dirinya telah hilang harapan untuk bekerja kembali di tempat Gavin. Mungkinkah karena perasaan cinta yang membelenggu di hatinya? Atau, dirinya merasa tidak ingin terus bersama Gavin hingga menimbulkan rasa cinta yang begitu dalam?


"Alice, buka pintunya. Ibu ingin berbicara padamu." Terdengar suara Diana dari balik pintu. Alice pun menyadarinya dan membuka pintu itu.


"Ibu, masuklah." Alice mempersilahkan Diana untuk masuk, lalu mengunci kembali pintu kamarnya.


Alice dan Diana duduk berhadapan di tepi ranjang. Dilihat dari wajahnya, sepertinya Diana hendak mengatakan sesuatu yang sangat penting. Alice terdiam hingga ibunya membuka perkataannya.


"Alice ... apa Ibu bisa berkata jujur padamu?" ujar ibunya dengan pelan.


"Iya, Ibu. Bicaralah," pinta Alice.


"Maafkan Ibu ya, selama ini Ibu tidak berkata jujur padamu. Sebenarnya ... orangtuamu masih hidup, waktu itu ... seseorang yang memberikanmu pada Ibu, meminta Ibu untuk diam supaya merahasiakan hal ini. Beliau memberitahu pada Ibu, jangan sampai kamu kembali diambil oleh orangtuamu. Maafkan, Ibu ... Alice. Tidak seharusnya Ibu begitu. Kau berhak kembali dengan orangtuamu." Diana mulai terisak. Alice seakan tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh ibunya. Ia menatap ibunya dengan berkaca-kaca.


"Ibu ... Ibu jangan menangis. Aku tidak ingin membuat Ibu sedih. Apa pun yang terjadi aku akan tetap memilih untuk tinggal bersama Ibu." Alice mencoba untuk menenangkan ibunya.


Diana menatap wajah Alice dan membelai wajahnya.


"Alice, kau harus menemui orangtuamu. Mereka pasti sedang mencarimu,"


"Ibu ... aku tidak ingin meninggalkan Ibu sendirian,"


"Tapi, Alice. Orangtuamu adalah darah dagingmu, apa kau tidak ingin menemuinya?"


"Apakah Ibu tau, siapa orangtuaku?"

__ADS_1


Di saat itu terdengar pintu diketuk. Kedua wanita itu saling bertatapan. Itu pasti Crish!


###


__ADS_2