
"Ada apa, Crish?" Terlihat Diana membuka pintu untuk keponakannya. Crish mengulum senyum dan menatap Alice.
"Maaf, mengganggu waktunya, Bibi. Aku ingin berbicara pada Alice," jawab Crish dengan jelas.
"Ohh, baiklah. Jika begitu, bicaralah. Bibi akan keluar supaya tidak mengganggu kalian. Alice, bicaralah dengan Crish, ya?"
"T-tapi ...." belum selesai Alice berkata, Diana sudah keluar dan menutup pintu dari luar. Alice mendengkus napas pelan dan menatap Crish dengan kesal.
Sudah pasti pria itu akan memaksanya untuk membantu pekerjaan pria itu. Alice menerka-nerka dalam hati, sehingga suara Crish membuyarkan lamunannya.
"Alice ... aku ...." Crish sedikit terbata untuk berucap. Entah apa yang sebenarnya ingin dia katakan pada Alice.
"Kau bicara yang jelas! Jangan terputus-putus begitu." Alice tampak menatap geram.
Crish mengambil posisi duduknya tepat di samping Alice. Perlahan pria itu terdiam dan berpikir sejenak.
"Kenapa malah diam? Bicaralah. Aku tidak punya waktu lama untukmu," ketus Alice.
"Alice ... apa kau sebenarnya mempunyai rahasia yang tersembunyi?" jujur saja, pertanyaan itu semakin membuat Alice tersentak bingung. Mengapa bisa pria itu menanyakan hal tersebut?
"Aku ... aku baru menyadari, ternyata namamu bukan Alice, melainkan Anya. Apa kau memiliki masalah? Dan kenapa foto di ruang tengah itu bukan wajahmu, apa kau melakukan operasi plastik?"
Alice tersentak kaget untuk kedua kalinya. Ia tidak menduga ternyata Crish dapat menebaknya, dan semua itu juga benar adanya. Namun, Alice tak segera menjawabnya, ia masih menimbang-nimbang dan mencerna apa yang akan dikatakan.
Tak mungkin ia harus berkata jujur tentang pemalsuan identitas dirinya. Jika Crish mengetahui, itu bisa gawat! Bukankah Crish akan bekerja bersama Gavin, bagaimana jika nanti Crish membeberkan hal itu? Sepertinya, Alice harus memilih diam tanpa menjelaskan hal tersebut.
__ADS_1
"Jika kau ingin membahas hal itu, alangkah lebih baiknya kau keluar sekarang. Aku sedang lelah, aku ingin istirahat." Alice menyeret Crish untuk segera keluar dari kamarnya.
"Tapi, Alice. Aku ...."
Gubrakkkk!
Belum sempat Crish menyelesaikan ucapannya, pintu kamar ditutup dengan keras. Alice merenung di dalam kamarnya sambil mengingat perkataan Diana sebelumnya. Sebenarnya ia masih penasaran siapa orangtua kandungnya? Dan di mana mereka sekarang?
Alice bergegas menuju lemari kecil tepat di samping ranjang tidurnya. Di sana, ia mengambil sebuah album foto yang terlihat usang. Foto gadis kecil dengan seorang pria kecil duduk berdampingan. Foto itu sangat manis dan menyisakan momen teristimewa dalam hidupnya.
Alice tersenyum serta memandangi foto itu tak jemu-jemu. Itu sebuah foto dirinya saat usianya masih kanak-kanak, dirinya sangat akrab dengan seorang pria di sampingnya itu. Kedekatan mereka melukis kisah inspirasi baginya. Namun, Alice sendiri tak mengenal siapa nama pria tersebut. Ia hanya bisa menyaksikan wajahnya di balik foto yang telah usang.
"Andai saja, aku dapat bertemu kembali denganmu, aku pasti akan sangat bersyukur pada Tuhan. Bodohnya aku! Saat itu tak menanyakan siapa namamu." Decak Alice dengan raut wajah menggambarkan rasa kecewa.
Kemudian ia meletakkan kembali foto tersebut di tempatnya. Ia menghela napas dan terdiam sejenak. Ini adalah hari minggu, ia mempunyai kebiasaan untuk pergi berbelanja di supermarket. Mencari dan membeli barang-barang yang akan diperlukan untuk masuk bekerja besok. Meskipun ia terkesan lebih tampil polos, akan tetapi kali ini ia harus merubah penampilannya menjadi luar biasa.
Diana melihat putrinya itu dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Kau akan pergi ke mana?" tanya Diana sedikit heran.
"Ibu, aku akan pergi ke tempat biasa," jawab Alice tersenyum.
"Ohh! Iya. Baiklah jika begitu, kau harus hati-hati,"
"Baik, Ibu."
__ADS_1
Usai berpamitan, Alice keluar dari rumah dan menuju motor butut yang terparkir di samping rumah. Sepertinya ia harus menggunakan kembali motor itu dan merawatnya seperti dulu. Karena sudah lama menganggur, motornya pun terlihat parah kondisinya. Suaranya sangat menyakitkan telinga dan asap hitam yang mengepul. Mungkin motor tersebut perlu diservis agar keadaannya kembali membaik.
***
Tiba di supermarket, Alice memarkirkan motornya dan berjalan menuju pintu masuk. Di sana ia menatap seluruh ruangan dengan mata terpana. Wajahnya terlihat cerah meski sedikit pun ia tak menggunakan alas bedak atau sejenisnya. Alice bergegas menuju tempat di mana seperti biasa ia memilih barang kesukaannya. Seperti lipstik dan juga pelembab wajah. Ia tersenyum dan dengan sigap mengambil beberapa barang tersebut untuk dimasukkan ke dalam troli.
Setelah dirasa cukup, Alice kembali mengambil beberapa snack dan makanan ringan di sana. Namun, ia sangat kesusahan saat mengambil sebuah snack yang terletak di bagian paling atas. Alice kebingungan dan berusaha menjinjitkan kaki agar bisa meraihnya. Alhasil! Sama saja, ia tak dapat menjangkaunya.
Ketika itu datang seorang pria tinggi dan tegap. Pria itu dengan santai meraih snack yang diinginkan oleh Alice. Lalu menyerahkan pada gadis tersebut.
"Kau mau ini kan? Ambillah." Pria itu tersenyum saat Alice menerimanya.
Alice menunduk malu, karena di depannya itu ternyata Gavin Danendra. Ia tidak menduga jika dirinya dapat bertemu dengan bos besarnya. Tapi, mengapa Gavin tidak mengenalnya? Atau mungkin, ingatannya belum kembali normal? Alice terdiam seraya tak lupa mengucapkan terima kasih.
Gavin menatap lekat wajah Alice. Ia memperhatikan dengan jelas wajah cantik tersebut. Kedua matanya terpancar cerah dengan lukisan senyum di bibirnya.
"Sepertinya kita pernah bertemu sebelumnya, benarkah?" ujar Gavin kepada Alice.
Alice membulatkan matanya tersentak dengan apa yang dikatakan oleh Gavin. Mungkinkah Gavin mulai mengingatnya? Alice tak segera menjawab, ia buru-buru bergegas menuju meja kasir untuk membayar seluruh pesanannya. Ia tidak mungkin berlama-lama bersama dengan Gavin, bagaimana nanti jika ada yang melihatnya dan menyampaikan hal itu pada Cecilia? Bisa kacau nantinya.
Namun, dari kejauhan Alice masih memperhatikan Gavin secara diam-diam. Ia mengulum senyum termanis dan beranjak melangkahkan kaki setelah menerima resi pembayaran.
Kini langkahnya terhenti di samping motornya, ia meletakkan barang belanjaannya di bawah jok motor. Berkali-kali ingatannya tak pernah lepas dari bayangan sosok Gavin Danendra. "Tampan juga." gumamnya pelan.
"Tunggu!" Terdengar suara yang mengejutkan dirinya. Alice menatap sekeliling dan melihat siapa orang tersebut. Ternyata pria itu lagi. Alice menstater motornya dengan cepat. Berharap pria itu tak mencurigainya. Alice sungguh kewalahan dengan semuanya. Bagaimana bisa ia harus menghindar terus dari pria itu? Jika tidak, pria itu pasti akan mencurigai identitas aslinya.
__ADS_1
Gavin masih berdiri di depan supermarket, wajahnya sangat kecewa karena tak dapat melihat dengan jelas siapa gadis itu. Ia menghembus napasnya dan berjalan menuju mobil. Di sana ia berpikir untuk mengingat kecelakaan yang terjadi saat itu. Berusaha untuk mengingat dengan jelas siapa yang telah menyelamatkan nyawanya. Lalu, mengapa setiap kali melihat wajah gadis di supermarket itu ia merasa wajah gadis tersebut sangat familiar. Akankah hal itu membuat Gavin untuk mengembalikan ingatannya?
###