Mencintai Tuan Muda CEO

Mencintai Tuan Muda CEO
Chapter19. Hari Pertama Kerja


__ADS_3

Di ruang tengah terlihat sepasang suami istri sedang duduk sambil menyaksikan acara televisi. Kania Larasati dan Jhordy Febrian. Mereka adalah orangtua Cecilia.


Karena pekerjaan yang membuat mereka sibuk, sehingga mereka jarang sekali meluangkan waktunya untuk bersama.


"Ma, apa Mama liat aktris endorse yang sempat viral di televisi waktu itu? Dia sangat cantik dan manis, hatinya juga penuh talenta dengan perjuangannya. Papa yakin, jika putri kita masih hidup pasti berusia dengannya," ujar Jhordy pada istrinya.


"Ya, Mama juga kangen sebenarnya, Pa. Bisa-bisanya ada yang menculik bayi kita waktu itu, ya? Andai saja Maurine masih hidup, pasti Cecilia tidak akan kesepian," ucap Kania.


Jhordy tampak menghela napas dalam. Jika mengingat kejadian puluhan tahun lalu.


Flash back


Sore hari yang cerah, tepat di teras rumah seorang wanita separuh baya tengah duduk sambil menimang bayi dipangkuannya. Kania Larasati, wanita berusia dua puluh delapan tahun yang belum lama melahirkan seorang putri keduanya.


Jarak usia putri mereka hanya beberapa bulan saja. Yang pertama, bernama Cecilia Aurelie. Sedangkan putri keduanya ia beri nama Maurine Aurelie.


Setiap hari Kania harus menjaga dan merawat putrinya dengan tulus. Waktu itu, sang suami sedang pergi ke luar kota karena ada urusan mendadak. Dengan terpaksa, Jhordy meninggalkan istrinya seorang diri.


Namun, ia tidak begitu merasa khawatir, karena di rumah ada bodyguard atau asistennya yang dapat menjaga istrinya.


"Kania, putimu lucu sekali. Boleh aku menggendongnya? Aku ingin mengajaknya jalan-jalan, sebentar saja," ujar salah satu tetangganya.


Karena Kania dikenal memiliki hati yang lembut, ia pun memperbolehkan tetangganya membawa putrinya untuk berjalan-jalan.


Saat tiba pukul 18.00 wib, tetangga tersebut belum mengembalikan putrinya. Kania pun merasa khawatir dan bergegas pergi menuju rumah tetangganya itu untuk menjemput putrinya.


Hatinya pun merasa lega, karena dirinya berpapasan dengan tetangga itu dan mengembalikan bayinya. Kania tersenyum dan menggendong bayi tersebut.


***


Tiba malam harinya, Kania merasa bingung karena sejak tadi Maurine menangis tak henti-hentinya. Dirinya pun mencoba menghubungi suaminya untuk segera kembali. Ternyata sang suami sudah berada dalam perjalanan menuju pulang.


"Mama coba buatkan susu siapa tau Maurine haus, Ma. Papa sebentar lagi sampai kok," tutur Jhordy dalam telepon.


"Baik, Pa. Papa hati-hati di jalan, ya?" ucap Kania.


Usai mengakhiri panggilan, Kania beranjak menuju ke dapur untuk membuatkan susu putrinya. Karena pembantu di rumah itu telah pulang kampung dalam beberapa hari yang lalu.


"Sayang, minum cucu dulu yuk. Kau pasti sangat haus, kan?" tutur Kania pada bayi kecilnya itu, saat ia telah kembali ke kamar putrinya.


Owekkk owekkk ekkk


"Cup cup, Sayang. Kenapa kau menangis terus, Mama khawatir, Sayang, cup,"

__ADS_1


Sambil mengggendong putrinya, Kania pun memberinya sebotol susu berharap putri kecilnya segera tidur dan tidak rewel.


Ternyata benar, dalam sekejap Maurine tertidur dengan lelap.


Kania pun membaringkannya di atas ranjang box. Kemudian ia tersenyum melihat kedua putrinya tidur dengan nyenyak.


Ting tong


Terdengar suara bel pintu berbunyi, Kania dengan segera membukakan pintu tersebut. Ia berharap bahwa itu suaminya yang pulang.


Krekkkk


Deg!


Kedua mata Kania membulat terbjka lebar, ia merasa terkejut dengan seseorang di depannya.


"Kau siapa?" tanya Kania pada orang tersebut.


Pria di hadapannya meringis dengan tatapan tajam. Namun, sayangnya pria tersebut mengenakan mantel di wajahnya, sehingga Kania tidak mengenalinya.


"Kau tidak perlu siapa aku! Yang jelas aku sangat menginginkan bayimu. Di mana bayimu itu?!" gertak pria tersebut sambil menerobos masuk ke dalam.


"Jangan! Kau jangan mengambil bayiku. Bayiku masih membutuhkanku," teriak Kania sembari mencoba menghalangi langkah pria itu.


Senyum bringasnya terlukis di wajah pria itu, seakan seperti akan menyantap kedua bayi kecil itu. Dengan puas pria itu merampas salah satu bayi yang tertidur tersebut dan membawanya keluar.


"Tolong, jangan bawa Maurine. Aku mohon … putriku tidak bersalah, hikss hikss," tangis Kania memecah saat pria itu menerobos keluar.


"Kau akan tau sebabnya, mengapa aku menculik putrimu." cetus pria itu, lalu pergi begitu saja.


Kania tak mampu berbuat apa-apa, selain pasrah dan meratapi kejadian itu. Tubuhnya lemah tak berdaya saat sang suami tiba di rumah. Ia pun menceritakan kejadian itu pada sang suami.


Mendengar hal itu, Jhordy merasa geram pada bodyguardnya karena tak mampu menjaga istrinya dengan baik. Esoknya, ia memecat semua bodyguardnya dan mencari pengganti yang baru.


***


Hari ini, Alice (Anya) telah rapi dengan seragamnya. Rok span mini berwarna dongker dan blouse casual berwarna dusty. Ia tersenyum di depan cermin sambil melihat wajahnya yang cantik dan menarik.


Mengingat pesan Cecilia pada dirinya untuk bersikap layaknya gadis kota, Alice menghela napas dan memoles wajahnya dengan sedikit riasan make up natural. Karena ia tetap masih mencintai dirinya yang dulu.


"Jangan merias wajahmu terlalu tebal, Anya. Ibu tidak menyukai itu," ujar Diana saat ia telah menyiapkan sarapan di atas meja.


"Ibuu, tenanglah. Aku merias wajahku standar saja tidak berlebihan, aku juga tidak nyaman begitu Ibu," ucap Alice lalu menghampiri Diana.

__ADS_1


"Syukurlah, kalau begitu. Sekarang kau sarapan dulu, ya. Ibu sudah memasakkan nasi goreng favoritmu, nanti siang Ibu akan memasakkan sup iga manis untukmu, Ayo makan,"


"Wah! Ibu, ini enak sekali. Nanti siang aku akan membawakan oleh-oleh untuk Ibu, ya?"


Alice pun duduk di meja makan dan menikmati sarapan pagi itu. Begitu juga dengan ibunya, mereka tampak terlihat bahagia.


***


"Astaga! Apa aku telat? Kenapa semua terlihat sepi?" ujar Alice sambil terus berjalan menuruni eskalator.


Langkahnya tampak terburu-buru berjalan menuju ruangan CEO perusahaan. Jantungnya sangat berdebar kencang, karena ini pertama kalinya ia memulai pekerjaan. Semangat! Semangat! Semangat!


Tokk tokkk


"Masuk." terdengar suara pria menyahutinya dari dalam.


Alice pun membuka pintu dan melihat Gavin tengah stand by di depan laptopnya. Matanya fokus pada layar laptop tersebut tanpa memperhatikan kedatangan Alice.


"Selamat Pagi, Tuan Muda Gavin. Maaf saya sedikit terlambat, karena tadi motor butut saya …." Alice pun menghentikan perkataannya saat Gavin menatapnya dengan mengernyitkan alis.


"Kau bilang apa tadi?" tanya Gavin spontan.


"Eheheee, tidak Tuan Muda. Saya terlambat karena taxi online saya sedikit lama menjemputnya," jawab Alice dengan nyenyir kuda.


Ia merasa bingung dengan dirinya, bagaimana bisa ia hampir keceplosan. Bisa-bisa Gavin akan mencurigai dirinya.


"Oh, tidak apa-apa. Lain kali kau harus datang tepat waktu. Karena ada banyak tugas yang harus kau selesaikan saat pagi, kau mengerti??"


"Baik, Tuan Muda,"


"Ohh, iya. Untuk ruanganmu, kau bisa menggunakan ruangan ini untuk bekerja. Karena kau lebih banyak menghabiskan waktumu di depan komputer. Satu lagi, sebelum jadwal istirahat kau tidak boleh tertidur di ruangan. Jadi, harus konsisten dan tetap semangat dalam bekerja,"


"Siapp, Tuan Muda,"


"Untuk hari ini, saya beri tugas yang sangat ringan saja. Karena kau perdana kan masuk kerja?"


"Tugas apa itu, Tuan Muda?"


"Ruangan saya sepertinya terlihat berantakan, kau harus membereskannya sampai tuntas. Karena saya orangnya, sangat mencintai kebersihan. Setelah itu, kau belikan beberapa gelas kopi untuk acara meeting nanti, kau mengerti?"


"I-iya. Tuan Muda, saya mengerti."


Gavin pun mendehem dan mempersilahkan Alice untuk memulai pekerjaannya. Dari kejauhan, diam-diam penampilan Alice berhasil mencuri perhatian dirinya. Gavin tampak menggumam pelan dan melanjutkan pekerjaannya.

__ADS_1


###


__ADS_2