
"Gavin, aku sangat merinduimu. Apa kau juga merinduiku?" ujar Mawar seraya memeluk Gavin.
Gavin menghembus napas pelan dan melepas pelukan itu. Kini ia menatap wajah Mawar dengan jelas.
"Mawar, aku juga rindu. Tapi, kau tau kan akhir-akhir ini aku sangat sibuk dengan pekerjaanku," tutur Gavin mencoba membuat Mawar mengerti.
Mawar tampak cemberut dan mengalihkan pandangannya. Ia merasa sangat kesal dengan calon tunangannya itu yang selalu sibuk dengan pekerjaannya. Setiap hari, lebih mengutamakan pekerjaan daripada untuk menemui dirinya.
"Gavin, Mama sama Papa meminta kau untuk menemaniku memilih gaun pertunangan kita. Kau mau kan? Bukankah kemarin kita tidak jadi membeli gaun?"
Gavin mengatur napasnya dan duduk di kursi. Ia tampak merenung sejenak.
"Jangan bilang, kau tidak mau menemaniku lagi, Gavin ā¦." keluh Mawar.
Gavin pun berdiri dan memandang wajah Mawar.
"Mawar, kau tau kan saat ini aku sedang sibuk bekerja, aku akan meminta asisten Hans untuk menemanimu memilih gaun, ya?"
Mawar tampak kecewa dengan ucapan Gavin. Ia menatap wajah Gavin dengan tajam.
"Tidak perlu! Kau selalu mementingkan pekerjaanmu itu dari pada aku. Urus saja pekerjaanmu." ketus Mawar dengan nada tinggi.
Kemudian Mawar pun melangkahkan kakinya menuju keluar tanpa memperdulikan Gavin yang masih terpaku. Gavin hanya bisa mendengkus napas dan meratapi kepergian Mawar.
***
Di sebuah rumah yang cukup mewah namun terkesan simple, Anya dan ibunya terpana. Di sana mereka merasa takjub dengan rumah yang baru dibelinya.
__ADS_1
Meskipun tak semewah rumah lainnya, akan tetapi rumah ini akan sangat berarti bagi mereka. Anya tersenyum melihat ibunya yang merasa bahagia atas karunia Tuhan.
Kemudian Anya bergegas menyusun barang-barang yang dibawanya. Ia pun juga membantu ibunya membersihkan dan membereskan rumah itu.
"Ibu, setelah ini aku akan pergi ke perusahaan Tuan Muda untuk mengantar surat lamaran kerja, Ibu tidak papa kan aku tinggal di rumah ini?" tutur Anya pada ibunya.
" Ibu tidak apa-apa, yang penting kau jangan lupa berdoa supaya kau diterima bekerja di sana. Kau tau, mencari pekerjaan itu sulit. Jangan kau sia-siakan kesempatan yang ada," ucap Diana sambil menyusun pakaian di dalam lemari.
Anya tersenyum simpul dan merangkul tubuh ibunya. Sejak kecil ia sangat dimanja oleh Diana, membuatnya selalu bergantung pada ibunya. Namun, kini usianya telah dewasa ia mencoba untuk bersikap mandiri tanpa bergantung kepada sang ibu.
"Ibu, doakan aku ya, semoga aku bisa diterima,"
"Ibu akan selalu mendoakanmu, Sayang."
Anya pun tersenyum senang, karena ibunya kini telah mendukung dirinya.
***
Terdengar pintu diketuk.
"Masuk." ujar Gavin sambil membereskan dokumen di meja.
Seketika pintu terbuka, Gavin tampak terpaku menatap seorang gadis cantik, putih bersih dengan outfit casual. Rambut gadis itu terlihat panjang tergerai bergelombang sebatas bahu.
Senyumnya manis sekali, dengan kemeja blouse berwarna lavender dan rok span mini di atas paha. Gavin merasa terpukau dengan kecantikan gadis itu.
"Permisi, apakah anda Tuan Muda Gavin Danendra?" sapa gadis itu dengan melontarkan pertanyaan.
__ADS_1
"Oh, i-iya. Silahkan duduk," jawab Gavin dengan sedikit terbata.
Gadis itu melangkahkan kakinya dan duduk di kursi. Posisi mereka kini berhadapan, Gavin menatap lekat gadis itu yang tampak menawan di matanya.
"Ada perlu apa?" tanya Gavin.
Gadis itu menyunggingkan senyum dan menyodorkan beberapa berkas yang tersampul rapi di dalam kertas padi.
"Saya ingin melamar pekerjaan di sini, Tuan Gavin."
Gavin pun menerima berkas tersebut dan membukanya. Matanya tampak serius mengamati data-data gadis itu.
'Alice Cyntia Magdalena' bhatin Gavin dalam hati, kala ia membaca nama gadis itu.
"Pengalamanmu cukup bagus. Saya rasa tidak perlu mempertimbangkannya lagi. Saya terima anda bekerja di sini. Besok, anda sudah bisa memulai pekerjaan sebagai asisten khusus saya. Saya harap, anda bisa bekerja dengan baik," ucap Gavin.
Alice Cyntia Magdalena, merupakan nama samaran yang digunakan oleh Anya. Sesaat Anya pun tersenyum dan mengangguk pelan.
"Baik, Tuan Muda. Terima kasih telah memberi kepercayaan pada saya,"
"Sama-sama. Ini kartu nama saya, kau bisa menghubungi saya jika ada yang perlu ditanyakan,"
"Baik, Tuan Muda. Terima kasih, saya permisi dulu."
Usai menerima kartu nama tersebut, Anya berlalu pergi meninggalkan ruangan itu. Senyumnya terlukis indah pada bibir manisnya. Ia tidak menduga, ternyata dirinya mampu membuat Gavin merasa terpana. 'Dasar pria! Apa-apa harus Goodlooking dulu baru bisa dihargai.' ketus Anya kesal.
###
__ADS_1