Mencintai Tuan Muda CEO

Mencintai Tuan Muda CEO
Chapter13. Sakit Hati


__ADS_3

Mentari sudah menyingsingkan cahayanya dengan terang. Di rumah, Mawar telah rapi dengan dress mini yang dikenakannya. Rambutnya ia ikat seperti ekor kuda membuat kecantikannya semakin bertambah.


Langkah gemulainya menuju lantai bawah. Di sana kedua orangtuanya sudah stand by menunggunya di meja makan. Ia pun berjalan menghampiri kedua orangtuanya dan mengambil segelas susu hangat juga sepotong roti.


"Kau tidak makan nasi lagi, sayang?" tanya wanita separuh baya itu.


"Aku akan diet, Ma. Jika tidak, aku takut dengan kondisi tubuhku yang gemuk seperti waktu itu. Sampai-sampai tidak ada satu pun photografer yang mau mengak kerja sama," ucap Mawar sambil menyantap sepotong roti dan segelas susu.


"Kau kan bisa melakukan perawatan yang rutin, sayang. Kau harus bisa mengatur pola makanmu,"


Marcelia, ibu kandung Mawar tampak merasa khawatir dengan keadaan putrinya itu.


"Biarkan saja, Ma. Lagian Mawar sudah dewasa, dia pasti bisa menjaga pola makannya," cetus sang Ayah.


"Iya, Ma. Mama jangan khawatir, aku akan baik-baik saja. Yasudah, aku pergi kerja dulu, hari ini aku ada jadwal photoshoot, daagh."


Kedua orangtuanya hanya menghela napas dan mempersilahkan putrinya pergi begitu saja. Setiap hari, selalu saja begitu. Mawar tak pernah berpamitan dengan sopan kepada kedua orangtuanya. Walaupun hanya sekadar cium tangan dan pipi pun ia tak pernah.


***


"Tuan Gavin, ini brosur yang anda minta kemarin mengenai penerimaan karyawan baru," ucap Hans dengan menyodorkan beberapa lembar kertas kepada Gavin.


Gavin pun menerimanya dan mengamati isi kertas tersebut.


"Baik. Silahkan kau sebarkan lowongan ini di tempat umum. Karena saya membutuhkan seorang asisten khusus untukku," ucap Gavin.

__ADS_1


"Baik, Tuan Muda. Akan saya laksanakan, segera."


Hans pun berlalu pergi meninggalkan Gavin sendirian. Langkahnya mulai menyusuri setiap koridor perusahaan.


***


"Oh, jadi gadis kampung ini sekarang bergabung dengan anda? Sungguh beruntung sekali nasibnya ya, dalam sekejap namanya sudah populer di media masa," ketus Mawar dengan sinisnya.


Ia menatap sinis ke arah Anya yang sedang duduk bersama Radit di dalam studio. Radit menghela napas mencoba menahan sabar dengan perkataan Mawar terhadap Anya.


"Saya mau dong, Tuan Radit. Anda bantu saya supaya populer di media sosial," cetus Mawar.


Sejak tadi, Anya hanya diam tak menggubris hujatan tersebut. Meski ia merasa sakit hati, Anya tak ingin membalasnya. Karena sikapnya yang polos dan lugu, saat ia dihina pun dirinya hanya bisa diam dan diam.


"Maaf, Nona Mawar. Seharusnya anda harus bersikap sopan santun dalam berkata. Jangan sampai menyakiti lawan bicara anda. Saya tau anda cantik, tidak seharusnya anda memanfaatkan kecantikan anda dengan sikap sombong," ujar Radit pada Mawar.


Tampak emosinya saat ini tak dapat ia kontrol.


Seketika datanglah Cecilia dengan blouse berwarna merah dan rok span mini yang membentuk body slimnya. Wajahnya sangat cantik dengan lipstik merah merona.


"Anya, saya sangat kagum kepada anda. Kau mampu mengalahkan gadis menjijikan ini," sahut Cecilia pada Anya.


Anya hanya diam tak menjawab.


"Kurang ajar! Lancang sekali kau bicara seperti itu, Cecilia!" gertak Mawar geram.

__ADS_1


"Yaa, itu adalah keinginan saya supaya dapat melihat kau sengsara, Mawar!"


"Dasar pengkhianat!"


Mawar pun hendak menampar wajah Cecilia, akan tetapi dengan cepat Radit mencekal lengannya. Wajahnya sangat merah menahan malu dan emosi yang meluap.


"Nona Mawar, tolong jangan bikin keributan di sini. Bukankah anda bekerja di sini, jadi harap jaga sopan santun. Nona Cecilia, saya harap anda juga bisa menjaga sikap. Masalah pribadi jangan sampai dibawa ke dalam urusan pekerjaan," jelas Radit.


Mawar dan Cecilia hanya memandang dengan tatapan tajam. Sementara, Anya hanya diam nerenung. Ia merasa telah membuat kesalahan. Sepertinya, ia tidak bisa bertahan dengan pekerjaannya saat ini.


"Radit, sepertinya aku harus berhenti saja. Pekerjaan ini sangat tidak cocok untukku," ujar Anya membuat Radit tampak kaget.


"Bagus sekali! Kau memang tidak pantas bekerja sebagai endorse. Kau itu gadis kampung dan cocok hanya bekerja jadi tukang kebun." cetus Mawar.


"Anyaa, kau tidak perlu mendengarkan perkataan Nona Mawar. Kau itu pantas bekerja di sini, kau jangan khawatir." ucap Radit mencoba menenangkan Anya.


"Anya, bagaimana jika kau bekerja dengan saya," pinta Cecilia pada Anya.


"Kerja apa, Mbak Cecilia?" tanya Anya dengan polosnya.


"Tuan Radit, kau tidak perlu khawatir. Aku akan merekrut Anya untuk bekerja dengan saya."


Radit hanya manggut-manggut. Sedangkan Mawar hanya menatap sinis ke arah Cecilia dan Anya.


"Anya, kau bisa ikut saya sebentar. Saya akan berdiskusi denganmu," ajak Cecilia pada Anya.

__ADS_1


Awalnya, Anya merasa ragu dan tidak percaya dengan tawaran Cecilia. Namun, setelah dipikir tidak ada salahnya jika ia harus mencoba sesuatu yang baru.


###


__ADS_2