
Di sebuah gedung tempat acara pertunangan Gavin dan Mawar tampak mewah dengan dekorasi yang menarik. Para tamu undangan duduk dengan rapi di kursi tamu. Kebanyakan yang datang di acara itu adalah para rekan kerjanya dan juga tamu VIP.
Gavin berdiri di depan cermin, ia menatap wajahnya di sana. Tampaknya ia sudah rapi dan siap dengan setelan jas yang dipakainya.
"Tuan Muda, acara segera dimulai. Bersiaplah," tutur asisten Hans.
"Ya, Hans." balas Gavin.
Entah mengapa di hari bahagianya ini Gavin tampak tak bersemangat. Ia sepertinya tengah memikirkan sesuatu yang mengganjal di pikirannya.
Iya! Tahi lalat di bagian tengkuk leher. Akankah benar jika Mawar adalah teman masa kecilnya? Yang saat ini ia harapkan dalam hidupnya? Dan merupakan seseorang yang telah menolongnya di saat ia kecelakaan saat usianya sebelas tahun yang lalu?
Gavin tampak masih tak mengerti kebenarannya, pikirannya pun tak membuatnya fokus pada acara pertunangan itu.
Langkah Mawar tampak gemulai menapaki karpet merah dengan gaun yang dibelinya semalam. Wajahnya tampak cantik dengan polesan make up. Senyumnya mengembang dengan penuh pesona.
"Wah! Cantik sekali mempelai wanitanya," ucap salah satu tamu undangan.
"Cantik, sih. Tapi kok kelihatan pucat wajahnya. Lihatlah! Sepertinya dia sedang hamil," sahut yang lainnya.
Mawar tak menggubris perkataan itu, ia tersenyum manis berjalan menghampiri Gavin.
Di sana, Gavin berdiri di atas panggung sambil melamun. Pikirannya melayang tak tentu arah.
"Kini saatnya memasangkan cincin ke masing-masing mempelai." ujar petugas MC.
Mawar pun tersenyum dan mulai memakaikan cincin ke jari manis mempelai pria. Sementara Gavin hanya diam dan tersenyum getir.
"Sekarang giliran mempelai pria memasangkan cincin di jari manis mempelai wanita."
Gavin tampak gemetar, ia merasa bingung dengan perasaannya. Entah kenapa pikirannya tertuju pada gadis kecil yang sangat ia harapkan saat usianya masih sebelas tahun lalu.
Saat Gavin hendak memakaikan cincin, tiba-tiba seseorang datang dan menghentikan acara tersebut.
"Tunggu!" sahut seorang pria paruh baya dengan seorang istri di sampingnya.
Sontak saja! Semua tamu undangan menatap ke arah sepasang suami istri tersebut.
Terlebih Jeff dan Kelly juga Marcelia beserta Johan. Mereka tersentak saat melihat Kania dan Jhordy.
"Jangan diteruskan acara ini, Gavin. Dia bukan gadis pilihanmu saat kecil. Dia juga tak lebih dari sekedar pembohong!" gertak Jhordy dengan tegasnya.
Gavin pun kaget dan tak mempercayai hal itu.
"Benar, Gavin. Mawar itu putri dari sepasang pengkhianat! Justru lebih dari kata pengkhianat! Mereka telah menculik putri kami supaya keluarga Jeff memilih untuk menjodohkan kau dengan putrinya. Kau tau … siapa yang menyebabkan terjadinya kematian Morina Thomas? Merekalah, penyebabnya … pengkhianat sekaligus penjilat!" sahut Kania dengan sengitnya.
"Jika kau tak percaya, kau boleh melihat bukti akurat yang telah kami kutip," tutur Jhordy mencoba meyakinkan.
Sesaat tayangan yang terekam di cctv muncul pada layar proyektor di tempat acara tersebut. Seketika semua tamu undangan terbelak lebar dan menatap ke arah Marcelia dan Johan.
"Dasar pengkhianat!" gertak Jeff dengan emosi.
"Pa … tenanglah, jangan terlalu ambil emosi. Kita dapat membatalkan acara ini," tutur Kelly mencoba menenangkannya.
Ia sangat takut jika suaminya mengalami sakit jantung kembali seperti kemarin.
"Sial!! Semua rencana kita gagal." ketus Marcelia lalu menarik tangan Johan untuk pergi dari acara tersebut.
"Gavin, pliss. Kau jangan membatalkan acara ini. Aku mohon." ucap Mawar dengan menggenggam tangan Gavin.
Namun, Gavin sendiri merasa tampak kecewa. Ia melepaskan genggaman itu dan berlalu pergi.
__ADS_1
Kemana Gavin akan pergi??
"Gavin!!! Pliss jangan pergiiii." teriak Mawar histeris.
Gavin tak menghiraukan gadis itu ia membuang cincin pertunangan itu dan menuju mobil. Usai itu ia menstater mobil dan melesat pergi dengan tancap gas.
***
"Mampus kau gadis menjijikkan. Akhirnya kau dibuang juga. Selamanya pengkhianat ya tetap pengkhianat." ketus Cecilia saat menyaksikan tim reporter yang berhasil merekam acara tersebut.
Cecilia pun menghembus napas dalam, ia tersenyum mengembang.
"Sekarang, tidak akan ada lagi yang akan menghalangiku untuk memiliki Gavin." sahutnya lagi.
"Non, Cecilia." ujar pembantu rumahnya yang baru saja datang.
"Ya, Bi. Ada apa?" tanya Cecilia.
"Ini foto bayi Nona Maurine, ya Non?" tanya pembantu rumah itu sembari menyodorkan sebuah foto bayi kepada Cecilia.
"Ya, Bi. Ini foto adik saya yang telah diculik," jawab Cecilia singkat.
"Wah! Kebetulan sekali, Non. Dulu saya pernah melihat foto bayi yang sama persis di rumah kelurahan desa Bendungan Hilir. Mungkin saja itu foto Non Maurine,"
"Benarkah, Bi?"
"Ya, Non. Kalau gitu coba Nona tanyakan pada kelurahan tersebut. Siapa tau dapat petunjuk,"
"Baiklah, Bi. Aku akan segera ke sana bersama Mama dan Papa."
Pembantu itu pun tersenyum dan mengangguk. Dengan segera Cecilia membawa foto tersebut dan menjemput orangtuanya di tempat pesta tersebut. Ia tampaknya sudah tak sabar lagi untuk memberikan berita itu kepada mereka.
***
'Kenapa aku selalu memikirkannya, ya? Sepertinya aku merasakan ada getaran yang saat ini menyentuh hatiku. Siapa yang telah menyentuh hatiku?' gumam Alice sambil termenung.
"Alice, kau dari tadi melamun terus, ada apa? Sebentar lagi Crish akan datang, kau tidak ingin menyambutnya? Tadi malam Crish mengalami macet jadi sekarang baru akan datang," ujar Diana kepada Alice.
"Iya, Ibu. Aku akan bersiap, aku mau mandi dulu, Ibu." ujar Alice pada Diana.
Diana pun mengangguk pelan dan berlalu meninggalkan kamar putrinya. Ia tersenyum manis saat menatap foto Crish dalam ponselnya.
"Sepertinya, Crish akan menyukai Alice nantinya." batin Diana, lalu meletakkan ponselnya dan duduk di ruang tengah.
Kedua matanya menatap ke arah jarum jam yang melingkar di dinding. Ia sudah tak sabar untuk menyambut kedatangan keponakannya itu.
"Tokkk Tokkk! Permisi. Bibi Diana, aku datang." terdengar suara pria dari luar. Diana terperanjat kaget dan segera membuka pintu tersebut dengan mata berbinar.
"Akhirnya, kau datang juga, Crish. Ayo masuk." ujar Diana sambil mempersilahkan Crish masuk.
Crish pun mengangguk dan duduk di sofa bersama Diana. Wanita itu tersenyum menatap Crish.
"Duduklah dulu, Bibi buatkan minum dulu, ya? Oh iya, Alice sedang mandi. Sebentar lagi dia keluar," ucap Diana lalu beranjak ke dapur.
"Bibi … jangan terlalu repot-repot, ya? Karena aku tinggal di sini kemungkinan akan lama, jadi aku tidak ingin merepotkan Bibi," teriak Crish pada Diana.
"Sudahlah. Kau anggap saja ini rumahmu juga,"
Di dalam kamar Alice telah selesai mandi, ia duduk di depan cermin sembari menggerutu dan menghela napas dalam.
"Huftt. Sial. Suaranya memekikkan telingaku. Bagaimana bisa nanti aku tidur nyenyak jika dia menetap di rumah ibu," gumam Alice dengan kesal.
__ADS_1
Usai itu Alice pun beranjak keluar dengan wajah santai. Ia tersentak saat melihat wajah Crish.
"Ternyata cukup tampan." gumam Alice lalu berjalan menghampiri Crish.
"Alice, ya?" tanya Crish saat melihat Alice yang duduk di sofa itu.
"Ya, aku Alice. Sudah lama kau datang?" jawab Alice sembari melontarkan pertanyaan.
"Belum, oh iya. Cantik juga, ya,"
"Apa kau bilang?"
"Tidak, hanya becanda."
'Hufft! Dasar. Baru juga bertemu udah berani menggodaku. Pokoknya aku harus hati-hati untuk ke depannya.' Gumam Alice dalam hati.
"Nah, ini Alice. Anak Bibi, semoga kau bisa berteman baik dengannya, ya?" tutur Diana yang baru saja datang menyuguhkan segelas air teh hangat dan juga setoples camilan.
"Baik, Bibi." balas Crish dengan tersenyum.
Matanya tampak memicingkan ke arah Alice, hal itu membuat Alice tampak begidik. Sementara Diana hanya tersenyum dan duduk bersama mereka.
"Minumlah tehnya, Crish. Setelah ini kau istirahatlah, kau pasti sangat lelah, kan?"
"Iya, Bi,"
"Ohh, ya. Lalu kau berencana akan bekerja di mana nanti?"
"Kemungkinan aku akan bekerja di perusahaan Tuan Gavin, Bi,"
Deg!
Jadi, Crish akan bekerja di perusahaan milik Gavin. Bagaimana bisa Crish akan bekerja di sana? Atau jangan-jangan hubungan mereka sangat dekat? Lalu jabatan apa yang akan didapat olehnya??
"Baguslah, kalau begitu kau bisa pergi bersama dengan Alice. Alice juga bekerja di sana," tutur Diana.
"Benarkah, Bi?" tanya Crish penasaran.
"Ya, Crish," jawab Diana.
"Tapi, Bu. Apa aku harus setiap hari pergi bersama Crish?" ujar Alice.
"Memang, kenapa, Sayang?" tanya Diana.
"Aku kan sudah terbiasa berangkat kerja sendiri, Ibu,"
"Kau akan lebih aman jika pergi bersama Crish. Kau itu wanita, harus ada yang menjaganya. Ibu tidak ingin kau kenapa-napa, Alice,"
"Benar, Bibi. Aku akan dengan senang hati menjaga Alice,"
"Hmm, baiklah, baiklah. Tidak apa-apa,"
"Yasudah, kalau gitu Bibi mau menjemur pakaian dulu. Nanti biar Alice yang memberitahu di mana kamarmu, ya Crish?"
"Baik, Bibi."
Sepeninggal Diana, Alice hanya diam sembari memainkan ponselnya. Sesekali ia menatap ke arah Crish yang juga memperhatikannya. Hatinya benar-benar tidak nyaman jika pria itu terus menggodanya.
Mungkinkah Crish tertarik dengan Alice? Lalu, apakah Alice akan bersikap terbuka padanya?? Bagaimana dengan Gavin Danendra? Akankah Alice membatalkan balas dendamnya?
###
__ADS_1