
Gavin kini kembali dengan segelas air minum di tangannya. Matanya menatap lekat wajah Alice yang tampak kelabakan mengerjakan pekerjaan itu. Alice terpaku diam merasa bingung saat Gavin kembali dan duduk di dekatnya.
"Sudah selesai belum?" tanya Gavin sambil meneguk air minum tersebut.
Alice menggeleng tak mengerti, ia sangat khawatir jika Gavin akan mencurigainya.
"T-Tuan, saya tidak tau harus menyelesaikan dari mana dulu," jawab Alice sambil menggaruk-garuk kepalanya.
Benar-benar memusingkan bagi dirinya yang tidak tau apa-apa mengenai pekerjaan itu. Gavin pun meletakkan air minumnya di atas meja. Pandangannya kini tertuju pada laptop di depan Alice.
Belum ada tulisan apa-apa. Gavin pun mengambil selembar dokumen dan mengamatinya.
"Ini pekerjaan yang gampang. Hanya menyalin teks yang ada di dokumen ini, kau masih tidak bisa juga? Bukankah pengalaman kerjamu sangat bagus di bidang komputer?" cetus Gavin.
"Iya, Tuan. Saya sudah lama tidak memainkan laptop saya di rumah, jadi saya hampir lupa cara menggunakannya bagaimana?" ucap Alice tampak beralasan.
Semoga saja alasan tersebut masuk akal dan Gavin tak akan mencurigainya. Terlihat Gavin menghela napas, ia meraih laptop tersebut dan perlahan memberi pengarahan kepada Alice.
"Baiklah, jika begitu kau harus perhatikan saya bagaimana menggunakannya,"
"Baik, Tuan Muda."
Alice pun terus memperhatikan Gavin saat mengetik dokumen tersebut di laptopnya. Jemari-jemarinya tampak lihai menari-nari di atas keyboard. Alice terdiam dan sesekali memperagakan cara mengetiknya.
"Sudah paham? Sekarang giliranmu," ujar Gavin sambil menyerahkan laptop di tangan Alice.
Meskipun belum paham benar yang diajarkan oleh Gavin, mau tidak mau Alice harus mencobanya. Untung saja ia orangnya mudah nyangkutan. Jadi sedikit-sedikit masih bisalah memahaminya.
"Haduh! Kau mengetik terlalu lama, kalau begini caranya bisa-bisa tahun depan baru selesai," cetus Gavin saat melihat Alice mengetik terlalu lambat.
Gavin yang tidak sabaran pun meraih laptopnya dan mulai mengetiknya sendiri. Alice tertegun sambil sesekali memperhatikan Gavin.
"Sepertinya kau harus belajar lebih banyak lagi. Bagaimana bisa perusahaan sebelumnya dapat menerima karyawati sepertimu. Bekerja saja lambat," gerutu Gavin merasa sangat kesal.
"M-maaf, Tuan. Saya memang perlu belajar banyak lagi," ucap Alice.
Gavin pun hanya mendehem pelan. Kedua matanya tetap fokus pada layar laptopnya. Huft! Sial! Seharusnya ini bukan pekerjaan seorang CEO, kenapa harus Gavin sendiri yang menyelesaikan tugas tersebut?
Saking lamanya menunggu Gavin selesai mengetik, Alice pun malah tertidur di atas meja. Kedua tangannya ia lipat di atas meja dengan wajah imutnya itu.
__ADS_1
Meskipun ia sedang tertidur akan tetapi, wajahnya yang cantik tetap terlihat mempesona. Gavin yang menyadari itu, ia menghela napas dan terus menyelesaikan pekerjaannya.
Setelah dirasa selesai, Gavin meletakkan laptopnya di atas meja dan meregangkan otot-otot tangannya. Semua terasa pegal! Ia pun membiarkan Alice tertidur begitu saja.
Kini ia bangkit dari duduknya dan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Karena, hari sudah mulai gelap. Seketika ingatannya tertuju pada calon tunangannya.
Perasaan penasarannya terhadap pria yang menjemput Mawar pun kian membuncah. Pikiran negatif terus memenuhi otaknya. 'Pokoknya, aku harus mencari tau siapa pria itu?' gumamnya pelan.
***
"Nona Mawar, ayo makan dulu." ujar Radit saat telah tiba di studionya.
Namun tak ada sahutan sama sekali. Radit pun menatap sekitar dan mencari sosok Mawar. Di mana dia?
Tiba di kamarnya, ia tersenyum dan menghembus napas pelan. Ternyata Mawar tertidur di sana. Radit pun meletakkan makanan yang baru saja ia beli di atas meja. Wajahnya menatap dekat ke arah Mawar.
Dibelainya rambut gadis itu dan mengusap-usap pucuk kepala gadis itu. Radit tersenyum simpul lalu mengecup kening Mawar.
'Sepertinya, aku sudah terlanjur mencintaimu, Nona Mawar. Aku tidak rela jika harus melepaskanmu begitu saja.' ucap Radit pelan.
***
Gavin kembali dengan mengenakan sweater dan celana pendek, setelah membersihkan diri. Hari sudah mulai gelap, namun Alice belum juga bangun dari tidurnya.
'Ternyata cantik juga.' gumam Gavin pelan.
Ia pun tersentak kaget saat tak sengaja melihat tahi lalat di tengkuk leher Alice. Entah mengapa pikirannya menjadi tak menentu. Ia teringat akan pesan yang diucapkan oleh almarhum ibunya itu waktu silam.
Flash back
Malam itu tampak Gavin tengah berbaring di atas ranjangnya sembari ditemani oleh ibunya. Karena ia sangat dimanja oleh ibunya, hampir setiap malam Gavin selalu ditemani tidur oleh sang ibu.
Morina Thomas, membelai rambut Gavin dan bercerita sebelum Gavin tertidur. Gavin yang saat itu berusia sepuluh tahun, ia mendengarkan dengan bijak apa yang disampaikan oleh ibunya.
"Gavin Sayang, kau tau Mama sama Papamu dulu menikah karena dipaksa oleh orangtua Mama sendiri. Padahal, Mama sendiri tidak mencintai Papamu dan sangat membenci Papamu. Karena sewaktu sekolah dulu, Papamu selalu menghujat Mama dengan kata-kata tidak enak, dan tidak taunya orangtua Mama malah meminta Papamu untuk menikahi Mama setelah lulus sekolah. Mama menolak, tetapi orangtua Mama memaksa Mama, jika tidak mereka akan mengusir Mama. Ya ⦠jadi mau tidak mau Mama harus menuruti kemauan mereka," ujar Morina Thomas pada putranya itu.
"Jadi, Mama menikah sama Papa karena terpaksa?" tanya Gavin dengan polosnya.
"Ya, Sayang. Tetapi, perlahan dengan seiringnya waktu Mama dapat menerima kehadiran Papamu dan mulai mencintainya,"
__ADS_1
"Berarti, cinta Mama juga karena dipaksa?"
Mendengar perkataan itu Morina tampak tertawa kecil dan merangkul tubuh putra kecilnya itu.
"Tidak, Sayang. Sekarang kau masih kecil untuk berbicara soal cinta, tetapi setelah dewasa nanti kau akan mengerti apa arti cinta,"
Gavin tampak mengangguk pelan dan tersenyum.
"Kau tau kan? Gadis kecil yang pernah kau temui di taman semalam?"
"Ya, Ma. Kenapa dengan gadis itu?"
Morina tampak menghela napas dalam. Ia tersenyum dan menatap putranya.
"Mama sama Papa sudah sepakat untuk menjodohkanmu dengan gadis itu. Ibu gadis itu juga telah setuju jika kalian harus menikah setelah dewasa nanti,"
"Benarkah, Ma? Gadis itu juga terlihat baik padaku. Saat itu aku bermain di taman dan teman lainnya membuliku. Justru gadis kecil itu membelaku dan mengajaknya bermain,"
"Mama juga percaya, kalau gadis itu sangat baik dan cocok untukmu,"
"Tapi, Ma. Aku tidak mengetahui siapa namanya, bagaimana aku dapat menemuinya?"
"Mama juga tidak ingat siapa namanya, yang jelas gadis itu berinisial M, dan juga memiliki tahi lalat di bagian tengkuk lehernya,"
"Baiklah, Ma. Jika aku sudah dewasa nanti, aku akan mencari gadis itu."
Gavin pun tersenyum dan memeluk ibunya. Sesaat itu ia tertidur dengan lelap.
***
'Tahi lalat? Apakah ini yang dimaksud Mama?' ujar Gavin sambil melamun.
Ia pun menggendong Alice dan membaringkannya di sofa. Sembari menunggu Alice terbangun, Gavin mengambil ponselnya dan melihat jam. Ternyata sudah pukul 19.00 wib.
Gavin pun meggeser-geser layar ponselnya dan mencari nomor Mawar. Ia pun mencoba mendeteksi nomor tersebut dengan alat gps. Berharap, ia dapat mengetahui keberadaan calon tunangannya itu.
Deg!
'Studio Raditia Rahman' gumamnya pelan.
__ADS_1
Gavin pun termenung dan mencoba menghubungi Mawar. Sial! Dia tidak menjawab panggilan itu. Gavin pun tampak semakin curiga, bagaimana bisa jadwal kerja photoshoot hingga malam? Bukankah Mawar hanya mengambil jadwal siang saja.
###