Mencintai Tuan Muda CEO

Mencintai Tuan Muda CEO
Chapter32. Tuan Raditia Rahman


__ADS_3

Mawar tampak berjalan dengan mengenakan gaun yang akan dipesannya. Wajahnya tersenyum sembari menemui Gavin. Namun, ia tersentak saat Gavin sudah tak berada di sana.


"Mbak, di mana pasangan saya??" tanya Mawar pada kasir toko.


"Ohh, Tuan Gavin ya? Tadi beliau pamit pulang karena ada urusan keluarga. Beliau sudah membayar cash gaun ini kok Mbak," jawab kasir tersebut.


Mawar pun tampak terduduk lemas, wajahnya tampak lemas tak lagi bergairah. Perasaannya tampak pupus begitu saja.


Di saat itu datanglah Radit dengan mengulurkan tangannya pada Mawar. Pria itu tersenyum simpul melihat Mawar.


"Nona Mawar, bangkitlah. Jangan biarkan mahkotamu terjatuh," mendengar suara itu, Mawar pun mendongak ke atas dan menatap gusar wajah Radit.


"Ayo, Sayang! Bangkitlah," pinta Radit sambil tersenyum.


Mawar pun menyambut uluran tangan Radit. Ia bangkit dan menatap wajah Radit dan memeluknya.


"Terima kasih, Tuan Radit. Kau selalu ada saat aku membutuhkan," ucap Mawar dengan lemas.


Seketika spg toko dan kasir toko menatap mereka dengan terpana. Mereka memberi tepuk tangan meriah.


"Bagaimana, Tuan Radit menemani Nona ini photoshoot. Kami akan memotret kalian dan mengabadikan momen romantis ini. Semoga kalian ditakdirkan berjodoh,"


"Iya, benar-benar pasangan serasi,"


Mawar terdiam dan sedikit tertegun. Ia tidak tau harus menerima tawaran itu atau tidak? Bagaimana bisa iaharus berfoto bersama pria lain bukan calon tunangannya?


***


"Ibu … tumben Ibu belanja begitu banyak?" tanya Alice sembari menata semua sayuran dan daging segar di dalam kulkas.


"Karena Ibu akan menyambut kedatangan keponakan Ibu," jawab Diana sambil mencuci sayuran.


"Keponakan Ibu? Siapa, Ibu? Pria atau wanita? Lalu, dia akan menetap di sini? Atau hanya sekedar berkunjung?" tampak Alice bertanya begitu banyak.

__ADS_1


Diana pun menghela napas dan menatap wajah Alice.


"Kau ini, bertanya begitu banyak. Bingung Ibu akan menjawab yang mana dulu,"


"Yahh, Ibu. Jawab saja yang mana dulu, Ibu,"


"Keponakan Ibu ini belum lama lulus sarjana, dia ingin menetap di sini dalam beberapa bulan. Namanya Crish, Ibu harap kau akan menerima kehadirannya, ya?"


Alice tampak manggut-manggut, lalu menutup kulkas dan membereskan dapur yang berserak.


"Jadi, dia pria, Bu?"


"Ya, dia pria. Keponakan satu-satunya Ibu,"


"Wah! Bisa dong jadi temannya, berarti aku tidak lagi kesepian karena tidak punya teman,"


"Ya, semoga saja kau bisa berteman baik dengannya, nanti, ya?"


"Tapi, Bu. Kapan dia akan datang?"


"Baiklah, Ibu. Kalau begitu kita buatkan dengan masakan yang sangat enak,"


"Ya, ya. Itu pasti, Sayang."


Alice pun tampak tersenyum menatap ibunya. Ia merasa tidak sabar dengan kedatangan sepupunya itu.


***


Gavin tampak berlari menuju ruang di mana ayahnya saat ini sedang mendapatkan perawatan. Wajahnya sangat khawatir jika terjadi sesuatu pada ayahnya. Ia pun menghampiri Bian dan Kelly yang berdiri di depan ICU.


"Bian, bagaimana kondisi Papa? Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Gavin pada adiknya itu.


"Kakak, Penyakit Papa kambuh lagi. Kenapa kakak tidak memberitahuku kalau Papa menderita penyakit jantung?" jawab Bian.

__ADS_1


"Bian, kau ini. Harus berbicara sopan dengan kakakmu. Papamu juga tidak ingin membuatmu khawatir, makanya Papa tidak memberitahumu hal ini, Bian," ujar Kelly.


"Jadi apakah Papa baik-baik saja?" tanya Gavin.


"Ya, begitulah. Papamu kondisinya masih belum baik-baik saja, karena Papamu tadi mengalami syok," tutur Kelly.


"Syok?? Karena apa?" tanya Gavin.


"Saya juga tidak tau, tapi … yang jelas setelah menelpon tadi, Papamu langsung jatuh dan kondisi jantungnya lemah," jawab Kelly.


"Sepertinya ada sesuatu," gumam Gavin.


"Sesuatu apa, kak?" tanya Bian.


"Tidak, tidak ada apa-apa," jawab Gavin.


Bian pun menghela napas dan duduk di kursi. Begitu juga dengan Kelly, ia duduk bersama putranya itu dengan berdoa untuk kesembuhan suaminya.


***


"Kurang ajar! Siapa yang mengetahui kejadian itu?! Berani-beraninya dia mengancamku." gertak Marcelia dengan nada emosi.


"Ada apa sih, Ma? Kok ngomel-ngomel terus?" tanya Johan pada istrinya.


Lelaki itu berjalan dan menghampiri Marcelia di sofa.


"Rencana kita sudah diketahui, Pa. Ada seseorang yang meneror Mama, dia mengatakan kalau dia menjadi saksi dalam kecelakaan itu, Pa. Dia juga mengancam Mama," jawab Marcelia dengan perasaan khawatir.


"Astaga! Siapa dia? Berani-beraninya mengancam kita?"


"Mama juga tidak tau siapa dia, Pa. Yanv jelas dia mengatakan kalau kita tidak menyerahkan bayi itu padanya, maka beliau membocorkannya pada Jeff, dia juga mempunyai bukti akurat tentang kejadian itu, Pa. Bagaimana ini?"


"Meminta kita untuk menyerahkan bayi itu? Hah! Bukankah bayi itu sudah Papa berikan kepada orang lain. Atau … orang itu adalah Jhordy?? Pengacara sombong itu?!"

__ADS_1


Marcelia tersentak. Ia tampak mencerna apa yang diucapkan oleh suaminya. Tidak! Itu tidak mungkin. Bagaimana bisa Jhordy mengetahui hal itu? Bisa-bisa nasibnya akan tiba di ujung tanduk.


###


__ADS_2