
Hampir satu jam lebih Anya berada di ruang operasi. Tubuhnya tampak lemah tak bergairah. Ia merasakan di bagian wajahnya seperti ditusuk-tusuk oleh beribu jarum.
Matanya masih terpejam di dalam balutan perban yang menutup seluruh wajahnya. Tangannya gemetar saat mendengar suara sang dokter yang berbicara dengan Cecilia.
Dokter mengatakan bahwa operasi berjalan lancar, akan tetapi untuk hasilnya belum tau pasti sempurna atau tidak.
Setelah Anya sadar dari suntikan biusnya, kini dokter menghampirinya dan memintanya untuk duduk. Anya yang tak mengerti bahasa Korea itu, ia hanya diam. Dokter tersenyum dan berbicara menggunakan bahasa Indonesia. Anya, pun mengangguk.
"Sekarang, sudah saatnya perban dibuka. Saya rasa hasilnya akan terlihat sempurna," tutur sang dokter tersebut.
Anya manggut-manggut dan merasa dag dig dug pada jantungnya. Tangannya menggenggam erat sprei pada brangkar rumah sakit itu.
Perlahan dokter membuka perban di wajahnya, hingga sang dokter terkejut dengan hasilnya. Wajah Anya terlihat sangat cantik dan sempurna. Dengan bibir sexy dan mungil membuat sang dokter bergumam.
"Terlihat sempurna!" ujar dokter tersebut.
Anya merasa takut dengan wajahnya yang sekarang. Perlahan dirinya beranjak dan menuju depan cermin. Kedua bola matanya terbuka lebar menatap wajah di cermin tersebut.
"Ini, wajahku??" gumam Anya.
Seketika Cecilia datang dengan mengulum senyum tipis. Ia berjalan dan mendekati sang dokter.
"uisa-ege gamsahabnida, dangsin-eun geugeos-eul wanbyeoghage boige mandeul-eossseubnida," ucap Cecilia pada dokter tersebut.
"cheonman-eyo, agassi." balas sang dokter.
__ADS_1
Cecilia pun tak lupa menjabat tangan dokter tersebut dan membungkukan badan membeli salam perpisahan. Usai dokter berlalu, Cecilia mendekati Anya dengan senyum semringah.
"Kita akan kembali, besok. Kau bisa melamar bekerja di perusahaan Gavin setelah semua persyaratan palsumu jadi. Saya telah meminta seseorang untuk membuatkan dokumen palsu mengenai identitas dirimu. Jadi, kau bekerja di sana dengan menyamar menjadi seseorang yang tak dikenal oleh Tuan Muda," ucap Cecilia.
"Tapi, Mbak. Bagaimana dengan ibu dan status saya di kampung? Jika ibu tidak mengenali saya, apa yang saya lakukan? Satu lagi, dan jika Tuan Muda Gavin datang untuk membahas mengenai penggusuran rumah saya, bagaimana? Apa saya harus bersembunyi? Atau mengakui bahwa saya adalah Anya?"
Cecilia mengulum senyum dan duduk di samping Anya. Ia memberi uang pada Anya yang terbungkus rapi di dalam amplop berwarna cokelat.
"Ini adalah uang sejumlah seratus lima puluh juta, kau bisa membawa ibumu pergi dari kampung dan mencari tempat tinggal yang baru. Tapi, ingat! Kau jangan sampai bersikap kampungan saat melamar bekerja dengan Tuan Muda. Kau harus bersikap layaknya gadis kota, kau mengerti?"
"Tapi, Mbak. Apa yang harus saya jelaskan pada ibu saya mengenai perubahan wajah saya? Jujur, saya saja tidak mengenali siapa saya? Apalagi dengan ibu saya?"
"Untuk itu, kau harus berkata jujur pada ibumu. Saya rasa, ibumu akan mengerti,"
***
Diana tampak mondar-mandir merasa di depan pintu. Ia sangat khawatir akan terjadi sesuatu pada putrinya. Sudah satu hari satu malam ia belum juga kembali. Pikirannya tak menentu, membuat Diana tak bernafsu untuk makan.
Diana duduk di kursi depan halaman rumah, wajahnya terus menatap layar ponsel miliknya. Sudah berkali-kali ia mencoba menghubungi Anya, akan tetapi tak ada jawaban.
"Ya, Tuhan! Di mana Anya sebenarnya? Kenapa dia tidak menjawab telponku?" ujar Diana tampak cemas.
Tiba-tiba pikirannya teringat akan sosok Radit. Mungkin saja Radit dapat membantunya untuk menemukan Anya. Ia pun mengambil ponsel dan menghubungi Radit.
Tuttt tuttt tutttt!
__ADS_1
"Astaga! Kenapa tidak diangkat telponnya?" keluh Diana.
Ia pun tak henti-hentinya untuk menghubungi Radit. Berharap Radit dapat membantunya untuk menemukan putrinya itu.
"Hallo, Bibi. Ada apa? Maaf tadi saya sedikit sibuk jadi tidak sempat menjawab telpon," terdengar suara Radit dari seberang sana.
Diana menghembus napas pelan.
"Hallo, Nak Radit. Anya sudah satu hari satu malam tidak kembali, Bibi sangat khawatir padanya. Apa kau tau di mana Anya pergi?" ucap Diana tak dapat menyembunyikan wajah cemasnya.
"Apa?? Saya juga tidak tau, Bi. Apa Bibj sudah mencoba menghubunginya?"
"Sudah, tapi tidak dijawab. Bahkan nomornya tidak dapat dituju,"
"Bibi sekarang tenang, ya? Jangan khawatir, saya akan membantu mencari Anya,"
"Baiklah, terima kasih ya, Nak Radit,"
Panggilan pun berakhir. Radit terdiam dan bergeming. Ia pun ikut panik karena merasa kasihan pada Diana. Bagaimana pun juga, Diana sudah ia anggap sebagai ibunya juga. Pikirannya tertuju pada Cecilia, kedua mata Radit tampak terbuka lebar.
"Semoga saja Cecilia bisa membantu," ucap Radit lalu mengambil ponsel dan menghubungi nomor Cecilia.
NOMOR YANG ANDA TUJU TIDAK DAPAT DIHUBUNGI. MOHON PERIKSA KEMBALI NOMOR TUJUAN ANDA.
###
__ADS_1