
"Apa, Mbak. Saya harus bekerja sebagai asisten khusus CEO sombong itu? Enggak, Mbak. Saya tidak mau," ketus Anya tampak kaget.
Cecilia tampak menghela napas dalam. Ia terus mencari cara supaya Anya mau bekerja sama dengannya.
"Anya, saya cuma ingin kita bekerja sama," bisik Cecilia pelan.
Tak henti-hentinya dirinya terus merayu Anya dan membuat Anya seketika terkejut.
"Kerja sama bagaimana, Mbak?" tanya Anya dengan polosnya.
"Kau tau kan? Mawar telah memperlakukanmu tidak baik, dan kau tau saya juga tidak menyukainya. Karena dia adalah calon tunangan Tuan Muda Gavin, saya ingin kau membuat mereka berpisah," ujar Cecilia pada Anya.
"Berpisah? Lalu apa hubungannya dengan Mbak Cecilia? Saya tidak ingin menjadi perusak hubungan orang lain, meskipun saya sangat membenci Tuan Muda,"
Cecilia tampak tersenyum simpul.
"Karena Mawar telah merampas Tuan Muda dari saya, dan kau juga membenci Tuan Muda, kan? Jadi, gimana kalau kita kerja sama. Jika kau berhasil memisahkan Mawar dari Tuan Muda, saya akan membayarmu dengan harga tertinggi,"
Anya hanya diam saja tak memberikan gubrisan. Dalam hatinya, bagaimana bisa ia bekerja sebagai asistennya Gavin. Sedangkan dirinya hanya tamatan SMA dan juga, Gavin pasti sangat membencinya.
"Anya, bagaimana?" tanya Cecilia memastikan.
"Mbak, tapi saya hanya tamatan SMA, dan juga pastinya Tuan Muda Gavin tidak akan menerima saya,"
__ADS_1
Cecilia tampak manggut-manggut. Ia pun menyunggingkan senyumnya ke arah Anya.
"Kau jangan khawatir, kau bisa menyamar dengan wajah orang lain,"
Sedetik Anya tampak terkejut. Ia tak mengerti apa maksud dan rencana Cecilia sebenarnya.
"Kau besok bisa ikut saya ke luar negeri, aku akan membantumu,"
"Untuk apa ke luar negeri, Mbak?"
"Nanti kau akan tau sendiri,"
Anya terdiam dan manggut-manggut. Mau tidak mau ia pun menyetujui permintaan Cecilia terhadap dirinya. Semoga dengan begitu, ia bisa memperoleh pekerjaan untuk meringankan beban sang ibu.
***
Kelly terdiam mendengkus napas mendengar ucapan rindu yang disampaikan oleh putranya. Bian Danendra. Putra yang selama ini ia idamkan untuk memiliki kedudukan CEO di perusahaan yang dijalani oleh Gavin.
Karena Jeff memutuskan Gavin yang akan mengelola perusahaan, wanita itu tidak terima dengan nasib putranya. Ia berharap supaya Bian dapat mengambil alih perusahaan tersebut.
"Kau jadi pulang besok, Sayang?" tanya Kelly pada putranya.
"Iya, Ma. Besok aku akan pulang,"
__ADS_1
"Ok, Sayang. Kami menunggumu,"
Sesaat panggilan pun berakhir. Kelly berjalan pelan usai meletakkan telepon tersebut. Langkahnya menuju ruang tengah.
Di sana, pikirannya tidak menentu untuk memikirkan cara supaya putranya dapat memperoleh kedudukan sebagai CEO. Dengan penuh tekad, ia mencari segala cara agar nasib putranya bisa seperti Gavin Danendra.
***
"Tuan Muda, dari sekian banyak orang yang melamar pekerjaan, apakah Tuan sudah menemukan yang cocok dengan keinginan, Tuan Muda?" tanya Hans pada bos besarnya itu.
Gavin hanya diam duduk di kursi ruangannya sambil sesekali menyeruput segelas kopi. Kedua matanya menatap ke arah luar menyaksikan gedung-gedung pencakar langit yang nampak dari dinding kaca transparan itu.
"Sepertinya, saya belum menemukan yang cocok. Semua pelamar kerja terlihat polos dan ndeso, saya tidak suka itu. Saya sangat membenci gadis kampungan," tutur Gavin dengan sombongnya.
"Jika begitu, saya akan coba mengekpos lamaran pekerjaan di semua media sosial. Barangkali, akan ada pelamar yang seperti Tuan Muda harapkan,"
"Silahkan, saya akan menunggu kabar baiknya sesegera mungkin,"
"Baik, Tuan Muda."
Gavin tersenyum simpul dan mengatur napasnya. Entah kenapa akhir-akhir ini dadanya terasa sesak tidak karuan. Mungkinkah penyakit jantungnya mulai kambuh? Ia pun tak mengerti.
Sudah sejak lama dirinya tak pernah konsultasi kepada dokter. Karena, penyakit itu sudah lama ia derita, akan tetapi telah mengalami perkembangan yang baik. Mengenai masalah penyakit ini, Ayahnya sendiri tidak mengetahuinya. Gavin sengaja menyimpannya sendiri tanpa sepengetahuan sang Ayah.
__ADS_1
###