
Hari ini Gavin sengaja pergi ke kantor agak telat, karena ia memiliki rencana untuk membahas persiapan acara pertunangannya besok. Langkahnya menuju sebuah gedung hotel yang cukup mewah.
Di sana ia tersenyum simpul menatap ke seluruh penjuru hotel. Hatinya bermekaran bak bunga-bunga di taman. Rasa bahagia tak lagi ia sembunyikan.
"Permisi, Tuan. Ada yang perlu dibantu?" tanya seorang resepsionis.
Gavin mengangguk.
"Saya ingin menyewa satu ruangan untuk acara pesta tunangan, berapa biaya keseluruhannya?" jawab Gavin pada resepsionis tersebut.
"Baik, Tuan. Saya cek sebentar, ya?"
Gavin mengangguk pelan.
"Tuan, untuk biaya sewa satu hari satu malam senilai lima puluh juta,"
"Ok, Mbak. Saya akan menyewa satu ruangan untuk satu hari satu malam saja,"
"Baiklah, Tuan. Untuk pembayaran bisa melalui cash atau kartu kredit,"
"Saya akan membayar melalui kartu kredit. Ini kartu kredit saya,"
Resepsionis tersebut pun menerima kartu tersebut dan mulai menggeseknya.
"Sudah, Tuan. Silahkan tanda tangan di sini, Tuan,"
"Baik,"
Usai menanda tangani buku tamu tersebut, Gavin beranjak pergi meninggalkan hotel tersebut. Kini langkahnya berhenti tepat di dekat mobil miliknya.
Untuk hari ini, ia sengaja ingin membawa mobil sendiri. Sementara asistennya, Hans diperintahkan untuk mengawasi para pekerja kantor.
"Gaviin …." terdengar seseorang memanggilnya.
__ADS_1
Gavin menoleh dan melihat Cecilia berjalan menghampirinya. Gavin mendengkus napas dalam dan memalingkan wajahnya.
"Gaviin, kau dari mana?" tanya Cecilia.
"Apa urusannya denganmu?" tanya Gavin sinis.
"Gavin, kau benar akan melangsungkan acara pertunangan dengan dia? Kau tau kan, Mawar itu tidak pantas untukmu. Akulah yang pantas untukmu, Gavin,"
Cecilia tampak bergelayutan manja di lengan Gavin.
"Cecilia, please! Lepaskan aku. Aku tidak perduli kau berkata apa tentang Mawar, yang jelas aku sangat mencintai Mawar."
Gavin melepaskan cengkraman itu dan beranjak masuk ke dalam mobil. Cecilia tampak kesal dengan dipenuhi tanda tanya.
"Gaviin … please. Jangan tinggalin aku."
Sementara Gavin tak memperdulikan Cecilia. Ia pun menstater mobilnya dan berlalu pergi meninggalkan gadis itu. Seluruh pikirannya tertuju pada calon tunangannya. Mawar Jingga.
Cecilia masih berdiri depan gedung hotel itu. Wajahnya tampak tak bergairah. Ia merasa kesal dengan sikap Gavin kepadanya. Andai waktu dapat diputar, Cecilia akan sepenuhnya mencintai Gavin tanpa harus berselingkuh.
***
"Ibu, doakan aku ya semoga aku berhasil. Ini adalah pertama kalinya aku mencoba bekerja sebagai endorse," ujar Anya pada Ibunya.
Ibunya tampak tersenyum melihat putrinya. Dalam hatinya ia sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan, karena telah menghadiahkan putri selembut Anya.
Selama menjalani rumah tangga, Diana tak memiliki keturunan. Sehingga banyak para penduduk desa yang mengatakan bahwa dirinya mandul. Itu sangat menyiksa batinnya. Oleh karena itu Diana diceraikan oleh sang suami karena masalah tersebut.
Hampir tiga tahun lamanya Diana menjanda, seketika itu ada seseorang yang sengaja memberikan seorang bayi. Diana tak mengetahui siapa pemberi bayi itu? Yang jelas orang tersebut berpenampilan tertutup layaknya seorang pencuri.
Awalnya, Diana menolak. Akan tetapi karena ia merasa kasihan terhadap bayi itu, ia pun menerima dan memutuskan untuk merawatnya.
"Anya, kau harus berjuang. Ibu yakin kau pasti bisa sukses. Apalagi, Radit itu kan pria yang baik. Pastinya dia tidak akan sungkan-sungkan untuk membantumu," ucap Diana pada Anya.
__ADS_1
Anya menatap wajah ibunya dan memeluknya.
"Ibu tenang saja, aku akan berusaha,"
"Yasudah, pergilah bekerja. Kau harus bisa menjaga diri, ya?"
"Baik, Ibu, aku pergi dulu. Daagh …."
"Daaagh …."
Anya pun bergegas berjalan meninggalkan sang ibu. Hatinya merasa senang dan juga bimbang. Ia sangat takut jika ia gagal dalam pekerjaannya ini. Apalagi penampilannya yang polos dan kampungan membuatnya tidak percaya diri.
***
"Tuan Muda, bagaimana untuk proyek di kecamatan Kemayoran mengenai pembangunan perusahaan kecantikan?" tanya Hans pada Gavin saat Gavin telah tiba di kantor.
Gavin menghela napas.
"Untuk itu, jangan dibahas dulu. Yang jelas kita selesaikan dulu masalah proyek di desa Bendungan Hilir," ucap Gavin dengan tenang.
"Baiklah, Tuan Muda. Ohh, iya tadi manajer Fan menanyakan soal proyek ini. Katanya para dewan direksi tidak setuju jika perusahaan menuntut ke jalur hukum. Para dewan direksi memutuskan untuk tetap mengambil hak milik lahan tersebut dengan menggusur rumah tersebut,"
Gavin terdiam sejenak. Ia tampak mengatur napasnya dalam.
"Kita adakan meeting hari ini. Kita bahas mengenai proyek Desa Bendungan Hilir,"
"Sekarang, Tuan?"
"Ya. Sekarang. Kau sampaikan kepada para dewan direksi dan juga manajer Fan, kita tidak punya waktu lama,"
"Baik, Tuan Muda. Laksanakan,"
Hans pun berlalu pergi meninggalkan Gavin. Di ruangan, Gavin menyusun seluruh berkas dokumen untuk acara meeting nanti. Pikirannya dipenuhi dengan begitu banyak masalah. Sebelum acara pertunangannya, pokoknya masalah harus segera tuntas.
__ADS_1
###