Mencintai Tuan Muda CEO

Mencintai Tuan Muda CEO
Chapter7. Menerima Pekerjaan


__ADS_3

Di rumah, Gavin duduk bersama kedua orangtuanya. Di sampingnya ada Mawar yang menemaninya. Mereka tampak menikmati acara makan bersama.


Meski Gavin sendiri merasa malas untuk bergabung dengan ibu tirinya, ia harus tetap bersikap baik layaknya seorang anak di depan calon tunangannya itu.


Ini adalah waktu kesekian kalinya Gavin membawa calon tunangannya itu ke rumahnya. Mawar pun dengan senang hati menerima ajakan tersebut.


"Jadi kalian sudah memastikan bahwa acara tunangan kalian akan diadakan minggu besok?" tanya Jeff.


"Benar, Om. Kami sudah memutuskan kalau minggu depan kami tunangan," jawab Mawar sembari menikmati makanan di atas meja.


"Iya, Pa. Lagian kami sudah menjalin hubungan sangat lama, aku ingin segera menikah dengan Mawar," jawab Gavin pula.


Jeff menghela napas. Kedua matanya menatap lekat ke arah Gavin dan Mawar. Sementara, Kelly hanya diam tak bersuara. Entah karena takut kepada Gavin, atau apa? Sejak tadi bibirnya bungkam tak bergeming.


"Tante, Om. Apa kalian setuju dengan rencana kami?" tanya Mawar meminta jawaban yang pasti.


"Om sih tidak masalah kalau kalian benar-benar bisa saling menjaga hati. Yang jelas, ini semua tergantung kalian. Jika itu baik, ya silahkan," jawab Jeff.


"Benar, Mawar. Lagian itu semua demi kebaikan kau dan Gavin," timpal Kelly.


Gavin menarik napas dalam. Ia melihat ke arah Mawar dan menggenggam tangan Mawar. Keduanya saling tersenyum dan bertatap muka.


***


"Kurang ajar! Berani sekali dia menamparku. Lihat saja nanti, aku tidak akan membiarkanmu bertunangan dengan Gavin. Gavin itu milikku! Selama-lamanya milikku!" sahut Cecilia saat tiba di dalam studio.


Ia tampak menggerutu dan memasang wajah penuh amarah. Rasa benci pada Mawar, telah memuncak dan membara. Radit datang dan mengernyitkan alisnya, lalu menatap wajah gadis yang ada di depannya.


"Ada apa Nona Cecilia? Tiba-tiba datang langsung marah-marah. Sepertinya anda sedang ada masalah?" ujar Radit sambil bertanya.


Kemudian ia duduk di samping Cecilia.


"Tidak, Tuan. Tidak apa-apa," jawab Cecilia dengan tersenyum simpul.


Radit mendengkus napas. Ia tak ingin mengetahui semuanya. Wajahnya tampak ceria saat ia membayangkan kecantikan Mawar. Entah mengapa, dirinya sungguh tergila-gila kepada gadis itu.


Lain halnya dengan Cecilia, meski dia cantik dan mempesona. Akan tetapi, perasaannya biasa-biasa saja. Tak pernah memiliki perasaan suka atau cinta. Yang ada, perasaan kagum atas apa yang telah dimiliki oleh Cecilia.

__ADS_1


"Tuan Radit, apakah aku masih bisa bekerja bersama anda?" tanya Cecilia pada Radit.


"Tentu saja. Bukankah masa kontrak kerja yang kau tandatangani berlaku selama dua tahun," jawab Radit, sembari bangkit dari duduknya dan mengambil kamera cannon miliknya.


Cecilia tersenyum manis sekali. Wajahnya menatap ke arah Radit yang tengah mengutak atik kameranya.


"Jadi kapan jadwal photosootnya, Tuan?"


"Kemungkinan, jadwal pemotretan berikutnya akan diadakan besok malam,"


Cecilia mengangguk pelan. Ia tersenyum dan menghela napas.


Di saat itu Anya datang dengan tergopoh-gopoh memasuki studio itu. Menggunakan t-shirt lengan panjang dan celana joger hitam. Ia menatap ke arah Cecilia dengan terbelalak lebar.


"Kau aktris yang bernama Cecilia itu??" tanya Anya pada Cecilia.


Senyum merona terlukis pada bibir tipis Cecilia. Ia mengangguk sembari menatap Anya.


"Benar," jawab Cecilia.


"Anya, kau kan fans beratnya Nona Cecilia. Kenapa kau tidak meminta tanda tangannya saja," ujar Radit.


"Saya boleh minta tanda tangannya Mbak?" tanya Anya pada Cecilia.


Cecilia tersenyum dan mengangguk.


"Tanda tangan di sini saja Mbak, di baju saya." ucap Anya seraya menunjuk bagian belakang baju.


Cecilia pun mengambil pulpen dan menyibakkan rambut panjang yang dimiliki Anya. Supaya tidak menutupi baju bagian belakang. Ia pun mulai menanda tangani di baju itu.


Seketika ia tertegun dan terdiam saat melihat tahi lalat di bagian leher Anya. Sepertinya tahi lalat itu bukan tahi lalat biasa. Yang jelas itu bawaan sejak lahir.


Cecilia teringat akan perkataan kedua orangtuanya. Mereka mengatakan bahwa Cecilia memiliki saudara perempuan yang hilang. Saudara perempuannya itu memiliki tanda lahir di bagian belakang leher berupa tahi lalat.


"Sudah selesai," ucap Cecilia singkat.


"Terima kasih, Mbak," Anya pun menjabat tangan Cecilia.

__ADS_1


Siapapun orangnya kalau bertemu dengan aktris idola, pasti akan merasa senang dan bahagia. Begitu juga dengan Anya, ia merasa senang bisa bertemu dengan aktris idolanya.


Selama ini ia hanya bisa menyaksikan melalui siaran televisi. Kini ia dapat bertemu secara langsung dengan Cecilia.


"Cecilia, kau kemarin menanyakan pekerjaan, kan?" tanya Radit.


"Iya," jawab Anya.


"Apa kau mau menjadi model?"


Anya terdiam. Ia tak segera menjawab pertanyaan Radit. Menjadi seorang model itu bukanlah hal yang mudah. Apalagi dirinya terkenal sangat lugu dan polos. Bagaimana bisa ia menjadi seorang model.


"Aku … aku tidak mempunya bakat sebagai model, bagaimana bisa aku menjadi model?" tutur Anya.


Cecilia melirik ke arah Anya. Ia memandangi seluruh postur tubuhnya. Lumayan! Memiliki tinggi badan yang cukup dan postur tubuh yang ideal. Cecilia pun tersenyum.


"Kau memiliki postur tubuh yang ideal, seharusnya kau memanfaatkan itu. Karena, kebanyakan para photografer saat mencari model itu, yang diutamakan adalah postur tubuh yang ideal," ujar Cecilia.


"Kau tidak masalah jika tidak punya pengalaman. Yang jelas, kau berniat untuk menjadi model. Maka aku akan membantumu supaya kau bisa terkenal seperti Nona Cecilia,"


"Kau juga bisa belajar dari saya. Ini kartu nama saya dan jika kau butuh bantuan, bisa hubungi saya,"


Cecilia menyodorkan kartu nama kepada Anya. Kemudian bangkit dari duduknya dan menyambar tas mini miliknya.


"Aku pergi dulu, Tuan Radit,"


Radit pun mengangguk. Begitu juga dengan Anya, ia masih tampak bingung memperhatikan kartu nama tersebut.


"Sudahlah, kau ambil saja kesempatan ini. Nanti juga kau bisa belajar dari Nona Cecilia,"


"Tapi, Dit. Aku takut jika aku tidak bisa. Terutama, aku juga takut kalau harus menjadi model seperti di majalah dewasa,"


Radit tersenyum. Ia menyadari kegelisan yang dirasakan oleh temannya itu.


"Tenang saja. Aku hanya akan menjadikanmu sebagai endorse saja, kau tidak perlu takut. Kau kan bekerja denganku,"


Anya tersenyum seketika. Ia merasa senang dengan apa yang dikatakan oleh Radit. Tidak apa-apa meski hanya menjadi endorse, daripada harus menjadi model majalah dewasa, sama saja itu dengan menjual harga diri.

__ADS_1


###


__ADS_2