
"Apaa? Gaunnya sudah dibeli, Mbak?" tanya Gavin tersentak kaget.
Kasir tersebut mengangguk pelan. Kini gaun yang didam-idamkan oleh Gavin telah lenyap dibeli seseorang.
"Apakah Mbak tau siapa pembeli itu?" tanya Gavin kembali.
"Saya tidak tau, Tuan. Yang jelas gadis itu sangat cantik dan menarik. Sepertinya Tuan dengan gadis itu memiliki minat yang sama," jawab kasir tersebut.
Gavin tampak mengerutkan alisnya. Pikirannya tertuju tak tentu arah. Ia merasa kecewa karena tidak mendapatkan gaun tersebut.
"Gaviin, sudahlah. Lagipula model yang lain masih banyak. Aku pun tidak begitu menyukai gaun itu," tutur Mawar pada Gavin.
Gavin menghela napas. Ia pun melangkah pergi diikuti oleh Mawar. Di dalam hatinya, ia merasa penasaran siapa pembeli gaun tersebut? Bukankah gaun itu bermerek limited edition, hanya orang-orang kaya saja yang dapat membelinya.
"Gavin, aku lelah sekali. Kita pulang saja, ya?" ucap Mawar.
"Bukankah kita akan mencari gaun untuk acara pertunangan kita nanti?" ujar Gavin.
"Kita tunda saja, ya? Bukankah besok masih ada waktu,"
Gavin menghembuskan napasnya dan berjalan beriringan dengan Mawar. Gadis itu tampak menggandeng tangan Gavin dengan penuh manja.
***
Anya duduk di kursi sofa dengan gaun mewah yang dibelinya tadi. Ia tersenyum menatap ke arah kamera. Pose kakunya membuat Radit seakan ingin menertawakannya. Dengan senang hati, Radit pun membimbing dan mencontohkan pose-pose yang terbaik.
__ADS_1
"Ini masih photoshoot grand openning. Aku akan mengambil beberapa potret dirimu dan memasukkannya ke dalam berita. Ini semua demi kebaikanmu nantinya," ujar Radit sambil terus memotret Anya.
"Sekali lagi, terima kasih Radit. Kau sudah banyak membantuku," tutur Anya.
Radit tersenyum dan mengalungkan kamera cannon pada lehernya. Lalu ia duduk bersama Anya di sofa.
"Selagi aku masih bisa membantumu. Aku akan teeus membantumu, Anya,"
Anya tampak tersenyum. Mata indahnya menatap wajah Radit. Pria muda yang sudah sukses dari pada dirinya, sangat menginspirasi bagi Anya. Ia merasa kagum dan tersanjung dengan kesuksesan yang dimiliki oleh Radit.
***
Di sebuah bar, terlihat Cecilia tertawa terbahak-bahak. Ia merasa puas dengan apa yang disampaikan oleh wanita sebaya dengannya. Hellena. Gadis misterius yang tadi menemui Mawar. Ternyata gadis itu adalah suruhan Cecilia.
"Bagus sekali! Aktingmu sangat luar biasa. Dengan begitu Mawar tidak jadi memilih gaun untuk acara tunangannya. Kau datang di saat yang tepat, semoga saja dia tidak mencurigaiku," sahut Cecilia dengan bangga.
"Kau tenang saja. Papaku seorang pengacara terkenal di Jakarta. Papaku pasti akan membantumu,"
"Baiklah. Jika tidak! Mau tidak mau aku akan mengatakan yang sebenarnya,"
"Hellen. Kau tenang saja, kau jangan pernah mengancamku. Apa kau tau, kau itu sudah aku bayar untuk menjadi anak buahku,"
"Aku tau, aku hanya mengingatkan saja."
Cecilia tampak menghembus napas tenang. Ia merasa tenang dengan semuanya. Sekarang tidak ada lagi yang bisa mencurigainya. Namun, ia harus tetap waspada.
__ADS_1
***
"Ibuu, aku kembali ā¦." tutur Anya saat tiba di depan pintu.
Sementara suasa rumah tampak sunyi, ia pun mulai khawatir. Dengan segala kepanikan yang menyerang, Anya berlari ke sana ke mari mencari sosok ibunya. Akan tetapi, ia tidak menemukan beliau.
Anya bingung!
Sebenarnya apa yang terjadi? Apakah rumahnya terjadi kemalingan? Atau perampokan? Anya pun berjalan ke arah samping rumah. Ia berharap dapat menemukan ibunya.
Alangkah terkejutnya, Anya melihat ibunya tergeletak lemah tak sadarkan diri. Ia pun berlari dan membawanya ke rumah sakit. Meski ia tak mempunyai uang lebih, yang jelas keselamatan ibunya jauh lebih penting. Karena uang bisa dicari, sedangkan nyawa tak dapat dibeli.
"Anyaa, apa Bibi baik-baik saja?" tanya Radit yang baru saja tiba.
Anya sendiri tak tau harus meminta tolong kepada siapa selain Radit. Bagaimana pun juga Radit sudah dianggap olehnya sebagai kakak kandungnya sendiri. Juga, jarak rumah mereka tidak begitu jauh.
"Anya, apa Bibi baik-baik saja?"
"Penyakit Ibu kumat lagi. Kata Dokter efek kelelahan,"
"Ya, Tuhan. Apa Bibi selama ini sering bekerja?"
"Ibu bekerja setiap hari, Ibu juga tak kenal lelah. Terkadang, aku merasa kasihan padanya. Maka dari itu, aku ingin bekerja supaya dapat meringankan beban Ibu,"
"Kau jangan khawatir, ya. Aku akan membantumu. Aku yakin sebentar lagi namamu akan dikenal di seluruh Indonesia,"
__ADS_1
Anya hanya tersenyum. Ia tak banyak berharap lebih agar namanya menjadi populer di dunia. Yang pasti ia telah berusaha sebisa mungkin untuk membuat ibunya tersenyum. Urusan berhasil atau tidaknya hanya Tuhan Yang Tahu.
###