
"Kakak …." ujar Bian yang baru muncul. Tampak semuanya diam terpaku saat Bian datang.
Gavin tak jadi meneruskan untuk menginterogasi mereka. Dengan segera, ia menarik Bian.
"Ayo! Pulang." sahut Gavin, lalu meninggalkan Alice dan Cecilia.
"Kakak, tolong jangan katakan pada Papa, ya?" ujar Bian merasa khawatir.
"Masuk!" gertak Gavin pada Bian.
Usai Bian memasuki mobil, Gavin pun masuk ke dalam mobil dan mulai mengemudi. Ia benar-benar merasa kesal dengan perilaku adiknya itu.
Setiap hari selalu membuat masalah saja. Tidak pernah mendengarkan perkataan ayahnya.
"Kakak, pasti Papa marah besar padaku," gerutu Bian.
"Kau tau Papa marah besar, masih juga mengulangi kesalahan. Dasar! Anak nakal." cetus Gavin.
Jangankan orangtuanya, Gavin sendiri pun bahkan merasa kesal dengan perilaku Bian. Setiap hari bisanya hanya mabuk dan membuat masalah.
Ciiiit
Seketika itu mobil pun berhenti tepat di depan rumah mewah. Gavin turun dari mobilnya dan membiarkan Bian untuk keluar sendiri. Langkahnya menuju pintu masuk dan membukanya.
"Apa kau melihat Bian, Gavin?" tanya Kelly yang sedang duduk di sofa bersama Jeff.
"Sudah tau anak nakal, masih juga mengkhawatirkannya?" desis Jeff dengan kesal.
Tampak Bian berjalan masuk membuntuti Gavin. Ia sangat takut dengan ayahnya itu. Karena, Jeff kalau sudah murka, emosinya tak dapat dikontrol.
Melihat kedatangan Bian, Jeff pun bangkit dsri duduknya.
"Dari mana saja kau?!" gertak Jeff dengan nada tinggi.
"Pa … sudahlah jangan marah-marah. Dia tadi malam menginap di rumah Juno. Aku baru saja menjemputnya ke sana," ucap Gavin mencoba membuat ayahnya tenang.
"Benarkah yang dikatakan kakakmu itu, Bian?" tanya Jeff.
"Ya, Pa. Maafkan aku," tutur Bian.
__ADS_1
Jeff tampak menarik napas. Ia pun langsung duduk di sofa bersama Kelly.
"Pa … sudahlah, jangan terlalu keras berbicara sama mereka. Seharusnya Papa dapat mengontrol emosi, Papa. Apa yang dikatakan Gavin itu pasti benar, Pa. Bian juga tidak mungkin berbohong," ujar Kelly membuat suaminya itu agar tenang.
"Ya … ya. Yasudah, istirahatlah kalian," ucap Jeff sembari mempersilahkan putra-putranya untuk istirahat.
Bian tampak tersenyum dan berlalu pergi meninggalkan orangtuanya.
"Pa, aku izin keluar untuk menemui Mawar," ucap Gavin, yang masih teringat akan janjinya pada calon tunangannya itu.
"Ohh, ya, Gavin. Silahkan, jangan lupa kau diskusikan pada Mawar soal semalam, ya?" ujar ayahnya.
"Baik, Pa."
Setelah itu Gavin pun beranjak keluar menuju garasi. Di sana ia masuk ke dalam mobil dan mengemudi mobil tersebut menuju di mana tempat yang telah dijanjikan. 'Semoga saja aku tidak terlambat.' gumamnya pelan.
***
Di sebuah cafe yang sudah dijanjikan. Tampak Mawar bangkit dari duduknya, ia merasa kesal dan kecewa. Karena yang ditunggu tak kunjung datang menemuinya. Harapannya untuk bertemu Gavin pun telah pupus, ia berjalan melangkah meninggalkan cafe tersebut.
Pikirannya tak menentu saat mengingat nama Gavin. Di mana, pria itu yang selalu diharapkan tak pernah tepat waktu menemuinya. Waktunya selalu disibukkan dengan pekerjaan kantor sehingga selalu mengabaikan Mawar.
***
Gavin baru saja tiba dengan terburu-buru. Ia segera turun dari mobil dan berjalan memasuki cafe tersebut. Di sana kedua matanya menatap ke seluruh penjuru. Di mana Mawar? Bukankah ia telah menunggu dirinya?
Dengan penuh rasa kecewa, Gavin berjalan menghampiri pelayan cafe. Ia menanyakan tentang calon tunangannya itu. Pelayan pun menjelaskan sedetailnya.
"Benar Tuan, tadi nona Mawar telah menunggu anda dalam beberapa jam. Namun, karena anda belum juga datang jadi nona Mawar bergegas pergi, Tuan," ujar pelayan itu.
"Astaga! Apakah dia meninggalkan sesuatu, Mbak?" tanya Gavin.
"Tidak, Tuan. Tapi sepertinya tadi Nona Mawar dijemput oleh seorang pria, saya pikir Tuan. Ternyata bukan,"
"Pria???"
"Benar, Tuan. Mungkin mereka belum lama keluar dari area cafe ini,"
"Baiklah, Mbak. Terima kasih, saya permisi dulu."
__ADS_1
Pelayan pun mengangguk pelan dan menatap kepergian Gavin. Di dalam hati, Gavin merasa curiga dan bertanya-tanya siapa pria yang menjemput Mawar? Ataukah selama ini Mawar benar-benar tulus padanya atau hanya sekedar cinta palsu.
***
"Kau ini ya? Kenapa kau datang tidak mengabariku terlebih dahulu, Alice?" tutur Cecilia merasa kesal pada Alice.
"Maaf, Mbak. Tadi saya menghubungi Mbak tapi tidak dijawab," ucap Alice merasa bersalah.
Cecilia tampak tersenyum kecut. Ia menghempaskan pantatnya di atas sofa dan menatap Alice.
"Kau datang kemari ada perlu apa?"
"Saya, saya ke sini ingin minta bantuan Mbak. Saya takut jika Tuan Muda mencurigai identitasku karena aku tidak dapat bekerja dengan konsisten. Apalagi, saya tidak pandai mengoperasikan komputer, Mbak,"
"Haduhh, Alice. Kenapa kau tidak bicara dari awal? Kalau kaya gini bisa-bisa gagal rencanaku. Pokoknya, mulai besok kau harus ikut les privat komputer. Saya akan memperkenalkan kau dengan teman saya. Dia sangat mahir dalam bidang tersebut,"
"Tapi, Mbak. Bukankah siang saya harus bekerja?"
"Astaga! Alice, kan masih ada waktu malam,"
"Baiklah, Mbak. Saya ingin cepat-cepat segera menyelesaikan pekerjaan ini. Saya takut jika terlalu lama, Tuan Muda akan mencurigai saya,"
"Intinya kau harus bekerja secara konsisten. Jika tidak, semua akan kacau jadinya,"
"Baiklah, Mbak. Kalau begitu saya permisi dulu,"
"Ya, silahkan."
Alice pun dengan segera beranjak pergi meninggalkan apartemen itu. Langkahnya berjalan menuju jalan besar.
Ciiiittttt
Seketika sebuah mobil berhenti di dekatnya. Alice terbelalak lebar saat menyadari siapa pemilik mobil itu. Siapa lagi kau bukan Gavin Danendra. Astaga! Ada apa Gavin menghampiri Alice.
"Masuk." sahut Gavin sambil menatap Alice dari kaca jendela mobilnya.
Alice tersentak kaget dengan permintaan Gavin. Mengapa Gavin datang menemuinya? Ataukah Gavin ingin menginterogasi dirinya karena mulai curiga?? Astaga Alice.
###
__ADS_1