Mencintai Tuan Muda CEO

Mencintai Tuan Muda CEO
Chapter38. Pergi


__ADS_3

Alice bangkit dari tidurnya dengan badan malas. Ia membuka kedua matanya dan menatap ke arah jarum jam pada dinding.


Masih pukul 06.30 wib, ini masih sangat pagi untuk beraktivitas. Alice pun kembali merebahkan tubuhnya di kasur empuk miliknya. Pikirannya tertuju pada sosok Gavin Danendra.


Mengapa pria itu selalu memenuhi otaknya? Mengingat kondisi Gavin, Alice tertegun dan termenung. Ia merasa khawatir dengan keadaan pria tersebut.


Ia pun meraih ponsel miliknya dan menatap layar lcd tersebut. 'Tidak! Aku tidak mungkin menghubungi Mbak Cecilia untuk menanyakan kondisi Tuan Muda. Sekarang tugasku sudah selesai. Tapi ... sepertinya aku perlu bertemu dengannya.' gumam Alice sembari menggigit bibir.


Kini ia beranjak dari tempat tidurnya dan menuju kamar mandi. Di sana ia membersihkan diri dan bersiap membantu ibunya.


"Akhh ... rasanya segar sekali," ungkapnya saat telah selesai mandi.


Langkahnya menuju lemari dan memilih pakaian untuk dikenakan. Wajahnya sangat cantik dan manis tanpa polesan makeup sedikit pun.


Cekklekk!


Di saat itu terlihat pintu kamar terbuka lebar, Alice tersentak kaget dan menjatuhkan pakaian dari tangannya. Ia melihat Crish masuk ke dalam kamarnya dengan senyum semringah.


Alice yang sedang dalam keadaan tanpa pakaian, hanya sebuah handuk yang menutupi sebagian tubuhnya, merasa geram pada Crish.


"Kauuu! Seenaknya saja masuk ke kamarku. Keluar sana! Aku sedang mengganti pakaianku." sahutnya merasa jengkel.


Crish hanya tertawa kecil dan meledek.


"Kau tidak perlu takut! Aku juga tidak akan melihatmu, Nona manis. Lihatlah! Aku memejamkan Mataku, aku hanya mau numpang mandi saja," ucap Crish dengan santainya.

__ADS_1


Alice menggigit bibirnya, dan menghela napas pelan.


"Yasudah, sana! Pergilah ke kamar mandi. Ingat ya? Jangan terlalu banyak menghabiskan air,"


"Heh! Nona manis, apa kau pikir mandi hanya membutuhkan segayung air, mana cukup."


Crish pun melenggangkan kaki menuju kamar mandi. Sementara Alice hanya menggerutu kesal. Mengapa pria itu mandi di kamar mandinya? Bukankah kamarnya sudah terdapat kamar mandi?


***


Seperti yang sudah direncanakan, Johan bersama istri dan juga putrinya pergi dari rumahnya. Mereka telah sepakat memutuskan untuk pergi ke luar negeri. Saat itu mereka sedang berada di bandara. Menunggu untuk check in dan mengurus semua kelengkapan dan syarat keberangkatannya memerlukan waktu yang cukup lama.


Johan menghembus napas pelan sembari menatap sekeliling. Berharap tidak ada yang mencurigai mereka. Sementara Mawar, hanya diam membisu. Ia merasa berat untuk ikut bersama orangtuanya.


Entah mengapa, ia ingin pergi untuk menemui Radit. Mungkinkah ia harus membatalkan untuk ikut orangtuanya?


Terdengar suara notifikasi dari ponselnya. Mawar membuka ponselnya dan membaca sebuah pesan dari Radit. Sesaat bibirnya mengulum senyum manis.


[Nona Mawar, kau sedang apa? Bisakah kau menemuiku di studio? Aku memiliki rencana untuk mengajakmu berlibur di luar kota.]


[Aku akan menemuimu segera, Tuan Radit.] balasnya.


Usai itu Mawar menatap ke arah orangtuanya. Tangannya menyambar koper dan bangkit dari duduknya.


"Ma, Pa. Aku tidak bisa ikut bersama kalian, maaf. Kalian pergilah! Aku janji tidak akan membocorkan keberadaan kalian," ucap Mawar.

__ADS_1


"Mawar ... kalau kau tidak ikut, kau akan pergi ke mana?"


"Itu urusanku, aku sudah dewasa dan bisa menjaga diriku dengan baik."


Seketika itu Mawar segera melangkahkan kakinya pergi meninggalkan orangtuanya. Sepertinya ia sudah membulatkan tekadnya untuk menetap bersama Raditia Rahman.


***


"Ibu ... hari ini sedang masak apa?" tanya Alice saat menemui ibunya di dapur.


Terlihat sang ibu sedang memasak sayur untuk sarapan pagi mereka. Wanita setengah baya itu tersenyum sambil menatap putrinya.


"Ibu sedang memasak sayur sup iga asam manis, kau kenapa cantik sekali hari ini? Apa kau akan pergi?" balas Diana. Matanya memperhatikan penampilan putrinya yang tampak rapi dengan balutan t-shirt dan juga celana jeans di bawah lutut.


"Ibu, hari ini aku ingin menemui Mbak Cecilia, aku ingin mengucapkan terima kasih padanya. Dan juga ... aku, aku ingin ... mengucapkan selamat tinggal," Alice tampak terbata-bata.


"Tapi kau tidak resighn dari pekerjaan Tuan Muda Gavin, kan? Jika kau resighn, kita tidak punya penghasilan lagi, apakah Ibu harus membuka jasa laundry kembali, ya?"


"Akh! Ibu, jangan. Aku tidak akan resighn dari pekerjaan, aku akan tetap bekerja dan ... aku ingin ...."


"Membalas dendam pada Tuan Gavin yang sombong itu? Aduh, Alice. Kau jangan bersikap konyol begitu. Kau harus mengurungkan niat burukmu itu. Meskipun Ibu tidak menyukai Tuan Muda, setidaknya kau harus memanfaatkan situasi ini. Jangan sampai kau sudah diberi hati, lalu minta jantung, Alice,"


Alice terdiam membeku. Ia mencerna semua kata-kata yang diucapkan oleh sang ibu. Mungkinkah ia mengurungkan niat buruknya itu? Bagaimana pun juga Gavin telah memberinya kesempatan untuk bekerja di perusahaannya.


Lagi pula, Gavin juga belum mengetahui identitas aslinya. Jadi, tidak ada salahnya jika ia memanfaatkan keadaan sekarang. Ingatlah! Kesempatan tidak akan turun untuk kedua atau kesekian kalinya.

__ADS_1


###


🌷🌷🌷Jangan lupa like dan vote cerita ini, supaya authornya makin semangat yaπŸ€©πŸ€©πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ€—πŸ€—β˜ΊοΈπŸŒ·πŸŒ·πŸŒ·


__ADS_2