Mencintai Tuan Muda CEO

Mencintai Tuan Muda CEO
Chapter39. Mencaritahu Keberadaannya


__ADS_3

Kini Alice berjalan menyusuri sebuah apartemen milik Cecilia. Sesuai dengan janjinya ia akan menemui Cecilia untuk mengucapkan terima kasih dan salam perpisahan. Kedua bola matanya berkerling saat dirinya mengingat apa yang terjadi pada Gavin Danendra.


Ting tong!


Dengan tangan sedikit gemetar Alice menekan tombol bel pintu tersebut. Berharap sang pemilik apartemen membukakan pintunya. Selang beberapa saat, pintu terbuka lebar. Nampaklah gadis belia tengah mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Senyum semringah terlukis di bibir tipisnya.


"Ada apa lagi kau kemari, Alice?" Tanya Cecilia sembari menatap lekat wajah Alice.


"Mbak Cecilia, saya ... saya cuma ingin mengucapkan terima kasih sama Mbak. Selama ini Mbak sudah banyak membantu keluarga saya. Sebelum saya pamit, saya ingin ... sa-saya. Pokoknya itu saja Mbak," jawab Alice sedikit terbata.


Jujur! Dalam hatinya ia hendak mengatakan suatu hal penting pada Cecilia mengenai bos besarnya. Akan tetapi, lagi-lagi Alice mengurungkan niatnya hanya demi menjaga perasaan Cecilia.


"Baiklah, Alice. Saya juga harus berterima kasih padamu, karenamu saya bisa mendapatkan Gavin kembali," cetus Cecilia berpongah diri.


"Sama-sama, Mbak. Kalau begitu saya pamit permisi dulu." Alice membungkukkan badan memberi salam perpisahan dan melenggangkan kakinya pergi dari apartemen itu.


Sementara Cecilia hanya menghembus napas sembari menyaksikan kepergian Alice yang mulai menghilang bersama taxi yang membawa gadis itu.


Entah mengapa Cecilia sedikit merasa iba bergejolak dalam benaknya. Berpisah dengan Alice membuatnya merasa hatinya kalut membeku. Dirinya juga merasakan kehangatan dan keharmonisan kala berada di samping Alice. Mungkinkah Cecilia memiliki firasat mengenai adik kandungnya? Apakah benar jika Alice saudara kandung yang selama ini dicarinya?


Klungg klunggg!


Sebuah panggilan telepon dari seseorang. Cecilia bergegas mengambil ponsel miliknya di atas meja tamu dan melihat panggilan dari Tuan Raditia Rahman. Cecilia tersenyum dan menjawab panggilan itu.


"Hallo Tuan Radit, kau pasti ingin mengkonfirmasikan mengenai jadwal photoshoot saya, ya?" Ujar Cecilia dengan senyum merekah.


"Nona Cecilia, maafkan saya. Sepertinya saya harus membatalkan kerja sama dengan anda. Akhir-akhir ini saya sedang sibuk dan tidak berada di studio. Sekali lagi maafkan saya," ucap Radit dalam telepon.


"Apa? Bagaimana bisa Tuan membatalkannya? Lalu, apakah Tuan akan memutuskan kerja sama dengan saya?"


"Benar, Nona. Saya ... saya harap Nona Cecilia dapat mengerti saya."


Tuttt tuttt!


Seketika panggilan pun terputus begitu saja. Cecilia mendengkus napas sesak. Ia benar-benar kecewa dengan apa yang diucapkan oleh Radit. Bagaimana bisa Radit mengakhiri kerja sama dengannya? Lantas, alasan apa yang membuat Radit menyia-nyiakan seorang model sekaligus aktris ternama?


"Siaalll! Sekarang aku tidak mempunyai pekerjaan lagi? Sedangkan menjadi aktris tak selalu tersorot dalam kamera, akhhh ....!" Pekik Cecilia histeris.

__ADS_1


Ia mengacak-ngacak rambutnya yang masih kusut. Pikirannya terasa sakit dan membuatnya frustasi. Apakah ia harus menyerah begitu saja? Tidak. Cecilia terus merintih kesal dengan apa yang terjadi padanya.


Mungkinkah ada alasan lain mengapa Radit membatalkan kerja samanya? Atau mungkin?


"Ini semua pasti gara-gara pengkhianat itu. Awas saja, aku tidak akan tinggal diam membuatmu menderita, Mawar Jingga." Cecilia meremas rambut lemas.


***


"Gavin, bagaimana bisa kau mengalami kecelakaan, ha?" Tanya Jeff pada Gavin.


"Aku ... aku tidak tau, Pa," jawab Gavin sambil memijit kepalanya yang masih sakit.


Kini ingatannya sedikit demi sedikit telah membaik dan membuat dirinya mengingat anggota keluarganya. Jeff merasa bersyukur karena putranya dapat kembali dengan baik. Terlebih ia harus mengucapkan banyak terima kasih kepada Cecilia. Jika bukan karena gadis itu putranya tidak mungkin selamat.


Bagi Jeff, keluarga Jhordy sudah banyak berbuat baik padanya. Oleh karena itu Jeff merasa berhutang budi pada mereka. Namun, satu hal yang masih menjadi pertanyaan. Di mana gadis yang sejak kecil dijodohkan dengan Gavin?


"Gavin. Kau harus banyak beristirahat, ya? Papa akan keluar bersama Paman Jhordy untuk mencari keberadaan Johan dan Marcelia. Mereka telah kabur dari rumahnya,"


"Oh! Iya, Pa. Pergilah."


Jeff tersenyum simpul dan berlalu pergi meninggalkan kamar putranya itu. Lain dengan Gavin, ia masih mencoba mengingat terus tentang kejadian kecelakaan yang menimpanya satu hari yang lalu. Entah mengapa, seperti ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya.


"Bukalah. Tidak dikunci." Balas Gavin.


Sesaat pintu kamar terbuka lebar. Terlihat Bian berjalan menghampiri Gavin dan duduk di tepi ranjang. Ia menatap wajah Gavin dengan seksama.


"Kenapa kau menatapku seperti itu?" Tanya Gavin.


"Tidak, Kak. Aku hanya heran saja mengapa Kakak bisa kecelakaan begini? Untung saja bukan wajah Kakak yang hancur," cetus Bian.


"Sudahlah, kau tidak perlu mengkhawatirkanku. Yang penting wajahku masih sangat tampan, darimu,"


"Dasar sombong! Wajahku juga tampan darimu,"


"Jika kau merasa tampan, mengapa sampai sekarang kau masih menjomblo?"


"Itu ... itu karena aku belum berhasil mendapatkannya. Pokoknya Kakak tunggu saja sampai aku mendapatkan seorang pacar. Tidak seperti Kakak yang jatuh cinta kepada orang yang salah,"

__ADS_1


"Hei! Tutup mulutmu."


Gavin tidak terima jika ada seseorang yang masih mengungkit hubungannya dengan Mawar. Baginya, kejadian itu sudah berlalu dan ia tak ingin mengingatnya.


"Baiklah, Kak. Maaf, jika begitu aku permisi dulu. Kakak istirahatlah."


Karena merasa takut pada Gavin, Bian pun beranjak pergi meninggalkan pria itu sendirian di dalam kamar. Mungkin Gavin masih perlu banyak waktu untuk membuat keadaan dirinya kembali pulih.


***


Mawar terlihat tersenyum gembira sambil mendekap tubuh Radit. Kini ia merasa lebih nyaman berada di samping pria itu. Meskioun dirinya harus berpisah dari Gavin, untungnya masih ada seseorang yang mau menerimanya dengan baik.


"Terima kasih, Tuan Radit. Kau sudah melakukan yang terbaik untukku," ucap Mawar.


"Kan dari awal aku sudah bilang, jika kau menuruti keinginanku, maka aku akan melakukan apa pun untukmu, Nona Mawar," balas Radit.


"Akhirnya aku bisa dengan leluasa menikmati hasil kerjaku. Aku sudah muak padanya, Tuan. Orangtuanya telah mempermalukan keluargaku,"


"Meskipun aku tidak tau kebenaran yang sebenarnya, yang jelas aku akan tetap memihakmu, Nona Mawar,"


"Terima kasih, Tuan. Sekarang biarkan Cecilia itu menderita seperti yang sudah kualami."


Radit menghembus napas pelan. Kemudian ia mengecup kening gadis cantik itu dengan mesra.


"Tuan, kau akan mengajakku berlibur ke mana?"


"Pokoknya sebuah tempat yang cukup jauh dan menyenangkan,"


"Hemmm ... penasaran, nih,"


"Yaudah. Sekarang kau bersiaplah. Kita akan pergi hari ini juga,"


"Baik, Tuan Radit."


Senyum puas pun terlukis di bibir manis milik Mawar, gadis itu melepas pelukan dari Radit dan segera bersiap-siap. Begitu juga dengan Radit, pria itu bergegas membersihkan tubuhnya di kamar mandi berharap dengan begitu Mawar tak akan pernah bosan untuk mencium aroma tubuhnya.


"Saat ini kau telah menjadi milikku sepenuhnya, Nona Mawar." gumam Radit sambil terus membasahi seluruh tubuh kekarnya dengan air shower.

__ADS_1


###


__ADS_2