
Di ruang rapat, Gavin berdiri dengan setelan jas berarna hitam. Wajahnya tampak serius dengan persoalan pembahasan mengenai proyek desa Bendungan Hilir.
Para dewan direksi berkumpul mendengarkan apa yang disampaikan oleh CEO perusahaan tersebut. Begitu juga dengan manajer Fan dan asistennya. Mereka ikut serta memahami dan mencerna yang disampaikan Gavin.
"Proyek ini sudah disepakati dan ditanda tangani oleh kelurahan tersebut di atas materai enam ribu. Jika kelurahan tersebut tidak mau menanda tangani surat perjanjian ini, maka perusahaan akan menuntutnya ke jalur hukum. Ini bukan suatu kesalahan, melainkan ini suatu hal yang disengaja oleh kelurahan tersebut," jelas Gavin dengan bijak.
Para dewan direksi saling bertatapan dan manggut-manggut.
"Tapi, Tuan Muda. Jika perusahaan menuntutnya ke jalur hukum, apa itu dapat mengembalikan hak milik lahan tersebut?" tanya salah seorang anggota dewan direksi.
"Benar, Tuan Muda. Jika kelurahan tidak mau menanda tangani surat perjanjian ini, bagaimana?" tanya Manajer Fan.
Sejenak, Gavin menarik napas. Lalu pandangannya tertuju pada seluruh anggota meeting.
"Perusahaan bisa mengambil alih hak milik lahan tersebut dengan cara paksa, atau dengan menggusur rumah tersebut. Jika rumah tersebut berhasil digusur, hak milik lahan akan kembali kepada perusahaan." jelas Gavin kembali.
Semua anggota meeting tampak manggut-manggut. Sepertinya mereka semua setuju dengan usulan Gavin Danendra.
"Benar, Tuan Muda. Saya setuju dengan usulan anda. Karena kelurahan itu sendiri sudah menanda tangani di surat pernyataan. Jadi, perusahaan dapat mengambil alih hak milik lahan tersebut," ujar Manajer Fan.
"Jika begitu, kami selaku anggota dewan juga setuju dengan usulan Tuan Muda. Lagi pula ini semua untuk kemajuan perusahaan kita sendiri," ucap salah satu ketua anggota dewan.
Gavin tampak tersenyum lebar. Ia merasa puas dengan kesepakatan yang dibuat.
"Baiklah. Jika begitu, rapat selesai. Kita lanjutkan minggu depan."
Dengan segera Gavin mengakhiri rapat tersebut dengan diakhiri tepuk tangan oleh para anggota lainnya. Senyumnya mengembang pada bibirnya yang manis itu.
__ADS_1
Usai itu semuanya tampak bubar satu persatu, begitu juga dengan Gavin. Ia melangkahkan kakinya menuju ruangannya dengan diikuti oleh asistennya.
***
Anya telah stand by dengan dress panjang di atas mata kaki dan rambut panjang yang sedikit bergelombang ia biarkan tergerai begitu saja. Wajahnya sangat polos dan manis. Senyumnya terpancar pada wajahnya yang cantik alami itu.
Langkah kecilnya menuju studio yang cukup besar, di sana tampak Radit tengah membidik seorang model cantik dengan mini dress. Siapa gadis itu? Bathin Anya dalam hati.
"Radit ā¦." sapanya pada Radit.
Seketika Radit tersenyum menatap kedatangan Anya. Ia pun mempersilahkan Anya duduk di sofa. Sembari menunggu Radit, Anya menatap wajah gadis yang difoto oleh Radit. Cantik dan tidak jauh berbeda dengan Cecilia.
"Terima kasih, Tuan Radit. Saya senang bekerja sama dengan anda," ujar gadis itu yang tak lain adalah Mawar Jingga.
"Sama-sama, Nona Mawar. Saya juga senang bekerja sama dengan anda," balas Radit sembari menjabat tangan gadis itu.
"Siapa dia, Tuan?" tanya Mawar pada Radit.
"Oh, dia. Teman saya, member baru," jawab Radit.
"Model?? Kolot sekali. Pakaiannya terlalu norak dan kampungan," ketus Mawar.
Mendengar ucapan itu, Anya hanya diam. Ia tak menggubris perkataan tersebut. Walau batinnya seakan ingin menangis, ia mencoba untuk tetap bersabar.
"Wajar saja, Nona. Dia masih perdana untuk memulai photosoot,"
"Oh, gitu. Baiklah. Kalau begitu saya pamit dulu, Tuan Radit."
__ADS_1
Radit hanya mengangguk pelan dan mempersilahkan Mawar pergi begitu saja. Ia merasa prihatin dengan Anya, karena perkataan Mawar barusan. Pasti Anya merasa sedih dan tidak percaya diri.
"Anya, jangan kau ambil hati perkataan Nona Mawar tadi. Anggap saja itu angin lalu, ya?" ujar Radit pada Anya.
"Aku tidak apa-apa, Dit. Lagi pula aku juga sadar diri siapa aku. Toh! Emang benar aku kampungan," ucap Anya mencoba untuk tenang.
Radit menghela napas dan menatap wajah Anya. Dipandanginya gadis itu dari atas hingga bawah. Tampak sempurna, hanya saja satu saja yang kurang. Makeup di wajahnya.
Anya memang berbeda dengan gadis lainnya, ia lebih menyukai dirinya apa adanya tanpa polesan makeup sedikit pun. Setiap hari ia hanya tampil polos tanpa polesan makeup apa pun.
"Anya ⦠apa kau sudah terbiasa tampil tanpa makeup?" tanya Radit.
"Aku lebih mencintai diriku yang seperti ini, Dit," jawab Anya santai.
"Anyaa, aku tau kau lebih menyukai dirimu yang natural itu. Tapi, tidak ada salahnya jika kau perlu merias wajah. Karena untuk menjadi endorse ini, yang diutamakan adalah goodlooking dan menarik. Kau cantik dan menarik, akan tetapi supaya kau lebih menarik dan memukau, kau perlu merias diri terlebih dahulu. Aku akan membawamu ke salon kecantikan, di sana kau akan dirias dengan MUA handal dan juga, kau perlu mengganti gaunmu yang lebih menarik, apa kau setuju?"
Anya terdiam membisu. Ia memperhatikan penampilannya di depan cermin panjang yang terpajang di studio itu.
"Apa aku begitu kampungan dan polos?"
Radit tersenyum. Tangannya memegang cannon di tangannya. Diam-diam ia memotret wajah Anya saat di depan cermin.
"Kau cantik. Tapi kau hanya perlu sedikit polesan makeup saja, ayolah! Akan aku bawa kau untuk mengubah dirimu,"
Anya tersenyum simpul. Ia mengangguk dan menerima ajakan Radit untuk pergi ke salon. Meskipun dirinya sangat kampungan, ia harus tetap bersikap tenang supaya tidak malu-maluin nantinya.
###
__ADS_1