Mencintai Tuan Muda CEO

Mencintai Tuan Muda CEO
Chapter25. Terbebas Dari Pekerjaan


__ADS_3

Pagi ini Alice bangkit dari tidurnya sangat pagi sekali. Ia terlihat sudah rapi mengenakan seragam kantor. Blouse dan rok span mini. Rambutnya, ia ikat seperti ekor kuda. Wajahnya yang imut ia poles sedikit makeup dan lipstik.


Usai itu langkahnya bergegas menemui ibunya yang tengah menyiapkan sarapan pagi. Alice tersenyum dan duduk di sana.


"Pagi, Ibu …." sapa Alice pada ibunya.


"Pagi, Sayang. Sarapanlah dulu, nanti kau terlambat pula ke kantor," balas ibunya.


"Iya, Ibu. Ibu juga sarapan, ya?"


Diana tampak tersenyum dan duduk berhadapan dengan putrinya itu. Kemudian Alice menyendok nasi dan lauk.


"Ini untuk Ibu, Makanlah," ucapnya sembari menyodorkan sepiring nasi dan lauk kepada ibunya.


"Terima kasih, Sayang,"


"Ayo Ibu, makan."


Kini keduanya tampak menikmati makanan tersebut. Dengan menu lauk daging asam manis. Selain sup iga manis menu ini juga termasuk kesukaan Alice sejak kecil.


***


"Arrrrrggghhhh! Huammmm." tampak Bian terbangun dan menguap di atas ranjang.


Ia tampak mengerjap-erjapkan matanya dan menatap ke sekeliling. Sesaat kedua matanya terbuka lebar menyadari seorang gadis cantik tengah tertidur di sampingnya.


Bian pun menoleh gadis itu, ternyata Cecilia. Sial! Bagaimana bisa gadis itu tidur bersamanya? Bian mencoba mengingatnya apa yang sebenarnya terjadi padanya?


Flash back


Malam itu tepatnya pada dini hari, hujan turun dengan derasnya. Cecilia turun dari mobil sembari memapah Bian untuk membawanya masuk ke apartemennya. Semoga saja tidak ada yang mencurigainya. Ia pun berjalan dengan sempoyongan menuju sebuah kamar.


Di sana, Cecilia membaringkan Bian yang sedang dalam kondisi mabuk itu. Sunggingan senyum sinis terlukis di bibirnya yang sexy. Entah kenapa, tiba-tiba kepala Cecilia sangat terasa pusing. Dengan segera, ia pun menghempaskan tubuhnya di ranjang.


"Cecilia … plisss jangan pergi. Aku masih membutuhkanmu …." gumam Bian yang antara sadar dan tidak.


Namun, ia menyadari bahwa gadis yang di sampingnya adalah Cecilia. Bian pun merangkul tubuh gadis itu dengan sangat erat sekali. Sementara, Cecilia tampak tersentak dan mencoba melepaskan pelukan itu.


"Sial! Kau berani-beraninya menyentuhku." gertak Cecilia lalu memalingkan tubuhnya dan membelakangi Bian.


Bian tampak tak memperdulikan perkataan yang dilontarkan oleh Cecilia. Ia tersenyum dan mendekap tubuh Cecilia dari belakang. Cecilia pun berontak.


"Bian … pliss lepaskan aku. Kau tidak pantas bersamaku, aku tak lagi mencintaimu. Kau pasti tau sendiri alasannya, kan? Aku lebih mencintai Gavin setelah kau pergi meninggalkanku begitu saja." cetus Cecilia lalu bangkit dari tidurnya.


Bian tampak menarik tangan Cecilia. Kini tampaknya ia mulai sadar dari mabuknya. Wajahnya menatap lekat gadis itu.


"Tapi, aku masih mengharapkanmu. Aku ingin kau memaafkanku, Cecilia. Aku tau aku salah. Tapi, aku pergi demi menyelesaikan studyku," ujar Bian.

__ADS_1


Cecilia tampak mengalihkan pandangannya. Ia tersenyum sangat kecut sekali.


"Lalu kenapa kau tidak memberiku kabar sama sekali? Kau tau kan saat itu aku sangat mengkhawatirkanmu,"


Sejenak Bian pun terdiam. Ia memang menyadari kesalahannya. Akan tetapi, hal yang membuatnya lebih sakit adalah saat ia mengetahui bahwa Cecilia tidak mencintainya, gadis itu lebih memilih Gavin daripada dirinya.


Oleh karena itu, Bian dengan terpaksa mengambil keputusan untuk melanjutkan studynya di luar negeri dan mencoba melupakan Cecilia. Akan tetapi, ia merasa sangat bersalah karena ternyata Cecilia dan Gavin tidak ada hubungan apa-apa.


"Sudahlah, Bian. Lupakan saja aku. Aku tidak ingin mempermasalahkan hal itu. Lagipula semuanya sudah terjadi,"


Bian mendengkus napas dan menarik tangan Cecilia. Kini posisi mereka sangat berdekatan. Jarak antara bibir mereka hanya beberapa senti saja.


Napas Bian mulai memburu kala ia melihat kecantikan gadis itu. Ia sangat merindukan masa-masa saat bersama Cecilia. Pikiran kotornya pun mulai mengelabuhinya.


Cuppp!


Sesaat sebuah kecupan mendarat di bibir Cecilia, Bian tampak bernafsu menikmati bibir gadis itu. Cecilia terperanjat hebat dan tersentak. Kedua matanya terbuka lebar saat menyadari benda kenyal yang menyentuh bibirnya. Tidak!


Cecilia melepas ciuman itu dan mendorong Bian.


"Kurang ajar! Kau berani-beraninya menodaiku? Kau tau bibir ini belum pernah ada yang menyentuhnya." sahut Cecilia sambil mengelap bibirnya yang basah.


Bian merasa kesal karena Cecilia tak mau menghargainya. Ia pun menarik tangan gadis itu secara paksa dan mendorongkannya ke atas ranjang.


"Tidaaakkk!!! Bian, pliss. Jangan lakukan itu. Aku tau kau masoh mencintaiku, tapi tolong jangan main kekerasan," ujar Cecilia dengan nada tinggi.


"Sudahlah, lupakan saja." sahut Bian sambil memejamkan matanya untuk tidur.


***


"Pagi, Tuan Muda Gavin," sapa Alice saat telah tiba di ruangan Gavin.


"Pagi," balas Gavin singkat.


Ia tampak terdiam merenung di meja kerjanya. Tangannya mengutak atik ponsel berharap akan ada balasan dari calon tunangannya itu.


"Apakah Tuan baik-baik, saja?" tanya Alice pada Gavin.


Gavin tak segera menyahuti. Justru ia malah membungkam mulutnya dan sedikit pun tak memperhatikan Alice.


"Baiklah, Tuan. Sepertinya Tuan lagi ada masalah, kalau begitu saya tidak akan mengganggu. Saya lanjut kerja dulu, Tuan."


Alice pun berlalu menuju tempat kerjanya. Di sana ia duduk di kursi sembari memperhatikan dokumen-dokumen yang tersusun rapi di meja. Ia merasa bingung harus mengerjakan dari mana? Sedangkan dirinya tidak bisa mengoperasikan komputer tersebut.


'Astaga, aku harus bagaimana?' gumam Alice merasa cemas.


Ia pun mencoba mencari cara supaya Gavin tidak mencurigainya. Alice pun tersenyum dan berharap kali ini ia dapat terbebas lagi untuk menyelesaikan tugasnya.

__ADS_1


"Tuan … saya buatkan kopi dulu, ya," ujar Alice pada Gavin.


"Ya." balas Gavin singkat.


Alice pun bergegas menuju keluar untuk membuatkan kopi. Usai itu ia kembali dengan segelas kopi di tangannya.


"Ini Tuan, kopinya. Silahkan diminum," pinta Alice.


"Ya, terima kasih." sahut Gavin sembari sesekali menatap Alice.


"Tuan, saya lanjut kerja dulu, ya?" tutur Alice.


Gavin pun mengangguk dan mempersilahkan Alice. Tawa Alice menggelegar saat melihat Gavin mulai meneguk kopinya. 'Semoga saja rencanaku berhasil,' batin Alice.


Tadi Alice sengaja memberi sedikit obat tidur pada kopi tersebut. Berharap dengan begitu Gavin bisa tertidur dan tidak memperhatikan dirinya saat bekerja. Mau bagaimana lagi? Mungkin itu satu-satunya cara yang manjur agar terbebas dari pekerjaan yang sulit itu.


"Huaammmm, kenapa ngantuk sekali, ya?" ujar Gavin sembari meregangkan otot-ototnya. Ia pun tampak mulai terpejam dan tertidur.


Dari kejauhan, Alice tertawa kecil karena merasa puas dengan rencananya. Dengan begitu, ia dapat terbebas dari pekerjaan tersebut. Akh! Syukurlah. Saatnya istirahat.


***


Mawar tampak turun dari mobil dan menatap wajah Radit yang cukup tampan itu. Gadis itu mengulum senyum pada Radit.


"Terima kasih, Tuan Radit. Sudah mengantar saya pulang," ujar Mawar.


"Sama-sama, Nona Mawar. Ohh, iya … jika kau menginginkannya lagi, saya selalu siap kapan saja," ucap Radit sambil memicingkan matanya.


Mawar tampak tersenyum geli melihatnya. Ia pun berjalan masuk ke dalam rumah dan meninggalkan Radit yang menatap kepergiannya.


Usai itu, Radit pun berlalu pergi dengan mobil sportnya itu melesat meninggalkan halaman rumah yang indah itu.


"Kau baru pulang? Dari mana saja kau, Sayang?" tanya Wanita separuh baya itu yang tak lain ibunya Mawar.


"Biasa, Ma. Ada urusan pekerjaan," jawab Mawar berbohong.


Ia pun berjalan menyelonong masuk ke kamarnya. Di sana ia menghempaskan tubuhnya diranjang dan menatap layar ponselnya. Ada banyak sekali pesan dan panggilan dari Gavin. Mawar pun menghela napas dan membaca pesan tersebut.


Gavin:


[Kau di mana? Kenapa kau tidak menjawab telponku semalam? Apa kau sibuk dengan pekerjaanmu itu?]


[Mawar, aku ingin bertemu besok siang. Aku ingin berbicara sesuatu padamu.]


Deg!


Hati Mawar tampak tersentak seketika. Semoga saja Gavin tidak mengetahui apa yang terjadi? Lalu, Gavin mau berbicara tentang apa pada Mawar?? Sepertinya sangat penting.

__ADS_1


###


__ADS_2