
Jam telah menunjukkan pukul 15.00 wib. Di kantor, Alice terbangun dan menyadari bahwa ada seseorang di sudut sana. Gavin Danendra, dia tampak terbaring di sofa sambil tertidur. Alice menghela napas dalam dan bangkit dari duduknya.
Langkah kecilnya berjalan menghampiri Gavin, di sana Alice tersenyum kagum padanya. Entah mengapa dirinya mulai mengagumi CEO tersebut. Padahal, Gavin selalu bersikap tidak baik pada dirinya.
Alice pun duduk di kursi kecil di samping sofa. Ia tidak mungkin pergi begitu saja meninggalkan Gavin. Sedangkan ia tau, pasti Gavin kelelahan karena terlalu lama menunggunya.
'Ternyata ganteng juga, ya?' gumam Alice sembari memperhatikan Gavin yang tertidur.
"Huaaaammmm …." tampak Gavin menggeliat sambil menguap.
Sejenak ia tertegun menyadari ada Alice di dekatnya. Ia pun mengerjap-erjapkan matanya menatap malu wajah Alice.
"Tuan Muda sudah bangun?" tanya Alice sembari memberi senyuman.
Gavin pun bangkit dari duduknya. Ia masih tampak malu karena Alice diam-diam memperhatikannya tertidur.
"Ayo pulang! Biar saya antar," ajak Gavin seraya mengambil ponsel di atas meja.
"T-Tuan Muda mau mengantar saya?" Alice malah berbalik tanya.
"Ya. Jangan banyak tanya, Ayo!"
Mendengar ucapan itu, Alice tersenyum manis. Ia berjalan membuntuti Gavin dari belakang. Meski penampilannya saat ini sangat cantik dan mempesona, akan tetapi sikap polos dan lucunya takkan bisa disembunyikan.
Sambil berjalan menuju eskalator, Alice mencoba untuk memulai aksinya. Ia berjalan pelan dengan tangan gemetar. Tangan kanannya memegang kepalanya berpura-pura pusing.
"Aduh, Tuan Muda. Kepala saya sakit sekali, saya tidak dapat berjalan sendiri. Tolong Tuan, bantu aku," ujar Alice sambil terus mencoba merayu Gavin.
Gavin tampak mengerutkan alisnya, ia yang sudah menuruni eskalator terlebih dahulu, pun kembali naik menghampiri Alice.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Gavin penasaran.
Alice tampak menarik tangan Gavin dan bergelayutan manja. Ia berharap agar Gavin tidak mencurigainya.
"Kepalaku sakit Tuan, kau bisa membantu memapahku, kan?"
Gavin mengangguk pelan. Kemudian ia membantu Alice memapah berjalan menuruni eskalator. Untung saja kantor sudah sepi, sehingga tidak ada yang mencurigai hubungan mereka.
***
Di tengah perjalanan Gavin hanya diam membungkam. Tak sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Alice pun diam-diam mencuri pandang wajah pria itu.
__ADS_1
"T-Tuan. Berhenti sebentar, ya? Di toko kue itu?" ujar Alice pada Gavin.
"Kau mau membeli kue? Bukannya tadi kau tidak bisa berjalan sendiri. Atau kepalamu sudah mendingan?" ucap Gavin.
Alice merenung sejenak. Ia mencari cara supaya Gavin tidak mencurigainya.
"B-bukan Tuan. Kepala saya memang masih sakit, mungkin karena belum makan siang. Makanya saya ingin membeli beberapa kue untuk makan," jawab Alice.
Gavin mengangguk pelan dan mengemudi mobilnya menuju toko kue.
"Tunggu sebentar, ya Tuan,"
Alice pun turun dari mobil dan berjalan santai menuju toko kue tersebut. Di sana, ia ingin membelikan oleh-oleh untuk ibunya. Karena tinggal di desa, sang ibu sangat menginginkan untuk mencicipi bagaimana rasanya burger.
Alice pun membeli beberapa buah burger dan beberapa kue lainnya. Setelah itu ia kembali menemui Gavin yang menunggunya di mobil.
"Ma'af, Tuan. Agak lama," ucap Alice sambil duduk di kursi depan.
"Ya, tidak apa-apa," ujar Gavin, lalu melanjutkan mengemudi mobilnya.
Sementara, Alice dengan asik menyantap kue yang baru saja ia beli. Ia pun tersenyum menatap wajah Gavin yang tetap fokus menyetir.
"Terima kasih, kau makan saja. Saya tidak lapar." sahut Gavin.
Alice menghela napas dalam. Ia merasa kesal melihat Gavin yang bersikap dingin dan sombong itu. Ia pun menyadari bahwa Gavin sebenarnya sangat lapar. Berulang kali perutnya berbunyi. Alice tersenyum simpul dan merayunya.
"Tuan, kalau lapar jangan ditahan. Makanlah, roti ini masih hangat dan enak." ucap Alice terus merayunya.
Gavin tampak menelan salivanya. Jujur, sebenarnya ia juga sangat lapar.
"Tuan, saya tidak ingin kau sakit. Ayo makanlah. Aaaa …."
Saking gregetnya, Alice pun mencoba untuk menyuapi Gavin. Gavin tampak tersentak.
Ciiiiitttt
Dengan cepat Gavin menghentikan mobilnya dan menatap wajah Alice. Ia pun menerima roti tersebut.
"Terima kasih. Saya bisa makan sendiri," ucapnya singkat, lalu mengunyah roti tersebut.
"Nah! Gitu dong, Tuan." seru Alice dengan tersenyum.
__ADS_1
Gavin hanya diam sambil terus melahap roti tersebut. Ternyata gadis itu memiliki banyak kemiripan dengannya. Gavin juga sangat menyukai rasa cokelat, baginya rasa itu sangat enak dan menyehatkan.
***
"Bian, kau mau ke mana?" tanya Kelly yang melihat putranya telah rapi dengan setelan sweater itu.
"Biasalah, Ma. Cari angin." jawab Bian, lalu berjalan menuju keluar.
Di sana, ia mengambil motor KLX yang terparkir di garasi. Wajahnya tampak semangat dengan senyuman yang terlukis pada bibirnya.
"Kau tidak boleh memakai motor ini." sahut Gavin yang baru saja muncul dan menyambar kunci motor tersebut.
Bian tampak tersentak dan menatap wajah kakaknya itu.
"Dasar pelit! Aku hanya ingin memakainya sekali saja, Kak," ucap Bian dengan memelas.
Gavin menatap wajah adiknya itu dengan pongahnya.
"Kau tau, kan? Motor ini masih baru. Aku baru saja membelinya kemarin. Kau malah seenaknya mau memakai," ucap Gavin.
"Jadi karena baru, aku tidak boleh memakainya?!"
"Yaa … begitulah. Aku takut kau akan memakainya untuk ugal-ugalan. Kalau motor ini rusak, siapa yang mau bertanggung jawab?"
"Dasar pelit! Pinjam motor saja tidak boleh. Lagipula aku tidak akan bermain ugal-ugalan lagi,"
"Aku tidak percaya. Kau pakai saja mobil ini. Minggu depan setelah aku membeli mobil, mobil ini akan menjadi milikmu,"
Gavin tampak melempar kunci mobil kepada adiknya. Bian pun menerimanya dengan mata terbuka lebar.
"Wah! Benarkah? Ternyata kakakku memang baik juga. Meski terkadang sangat menyebalkan. Berbicara saja jutek sekali,"
"Apa kau bilang …."
Gavin tampak menjewer telinga Bian membuat Bian memekik keras.
"Ampun, Kak … ampun."
Gavin tertawa kecil dan melepaskan jeweran itu. Lalu langkahnya menuju masuk ke dalam. Sementara, Bian tersenyum gembira dan bergegas masuk ke dalam mobil.
###
__ADS_1