
"Tuan Muda mau bawa saya ke mana?" tanya Alice dengan polosnya saat telah memasuki mobil dan duduk di samping Gavin.
"Kau tidak perlu tau saya akan membawamu ke mana. Nanti juga kau akan tau sendiri." sahut Gavin dengan terus mengemudi.
Perasaannya benar-benar diliputi rasa curiga terhadap Alice dan juga calon tunangannya itu. Sepertinya Gavin akan membawa Alice ke apartemen miliknya.
Karena, tepat di depan apartemen tersebut Gavin menghentikan mobilnya. Ia pun turun dari mobil dan mempersilahkan Alice untuk turun juga.
"T-Tuan, ini di mana?" tanya Alice dengan memandang sekeliling.
Gavin tampak menatap wajah Alice yang polos itu.
"Ini apartemen milikku, masuklah." ucap Gavin sembari meminta Alice untuk masuk.
Alice pun masuk dan mengikuti langkah Gavin. Ia merasa khawatir jika Gavin telah mencurigainya. Sejak tadi dadanya terus berdesir sangat hebat. Apalagi Gavin menatapnya dengan tatapan tajam.
"Duduklah. Di sini kita akan menyelesaikan dokumen ini," ujar Gavin sembari meletakkan map berisi dokumen di atas meja.
Alice pun terdiam duduk di sofa. Ia menatap ke seluruh dokumen tersebut. Bagaimana jika nanti Gavin mencurigainya? Karena pengalaman kerja yang dimiliki oleh Alice tak sesuai dengan data tercantum di CV. Astaga!
"Tuan, apakah semua dokumen ini harus selesai sekarang?" tanya Alice.
"Ya. Kita harus menyelesaikan pekerjaan ini dalam waktu sekarang ini. Karena besok pagi saya sudah harus melakukan rapat online bersama dewan direksi," jawab Gavin sambil menghempaskan pantatnya dan duduk di samping Alice.
Alice tampak manggut-manggut dan menatap wajah Gavin dari samping. Ternyata sangat terlihat tampan juga. Alice tersenyum dan terpesona dengan ketampanan Gavin.
"Sekarang, kau harus menyalin lembaran yang ini. Setelah itu saya akan mereviewnya, kau mengerti?" ucap Gavin sambil memperlihatkan selembar kertas berisi dokumen.
Alice masih tampak terdiam. Ia tampaknya sedang terlena dengan ketampanan Gavin. 'Ternyata kau sangat tampan, ya? Meskipun kau sangat kejam dan sombong.' ujar Alice dalam lamunannya itu.
Gavin yang mendengar itu, ia pun menatap wajah Alice dengan mengerutkan alis.
"Kau bilang apa tadi?" tanya Gavin penasaran.
Ia berharap agar Alice mengatakannya kembali. Alice pun tersadar dari lamunannya dan mengalihkan pandangannya. Ia mencari alasan supaya Gavin tidak mencurigainya.
"Tuan, apa yang harus saya kerjakan?" tanya Alice mengalihkan pembicaraannya.
__ADS_1
Gavin yang masih dipenuhi tanda tanya tak segera menjawab pertanyaan itu. Justru ia malah mendekati Alice dan mendorongnya di sofa. Alice pun terbaring dengan wajah khawatir.
"Sebenarnya kau siapa?? Dan apa hubunganmu dengan Cecilia?!" tanya Gavin dengan sedikit menekan kata-katanya itu.
Alice mulai cemas dan bingung. Ia tidak tau harus menjawab apa? Sepertinya kerja kerasnya selama ini hanya sia-sia. Bagaimana bisa ia akan membalas dendam kepada pria setampan Gavin?
"T-Tuan. Saya tidak ada apa-apa dengan Mbak Cecilia. Saya hanya … adik sepupunya. Iya, benar … saya adik sepupunya dia," jawab Alice dengan terbata.
"Kau yakin dengan jawabanmu itu?"
Alice tampak mengangguk pelan.
"Tapi, saya merasa kau berbohong padaku. Saya merasa kau sangat mirip dengan seseorang, gadis kampung pemeras!" cerus Gavin dengan nada sombongnya.
Alice tersentak kaget dengan perkataan Gavin. Bagaimana bisa pria itu bisa mencurigainya? Padahal dirinya sudah berupaya melakukan operasi plastik, kenapa masih juga hampir mengenalinya.
"Tuan, saya tidak tau maksud Tuan apa? Yang jelas saya tidak ada hubungan apa-apa dengan gadis kampung itu,"
Gavin mendengkus napas pelan. Ia pun bangkit dan berdiri. Kedua matanya menatap wajah Alice yang ketakutan.
Alice menghela napas dalam. Karena Gavin tidak menginterogasi begitu banyak tentang dirinya. Namun, ia pun harus tetap waspada dan hati-hati. Jangan sampai rencananya gagal begitu saja.
***
"Kenapa kau tidak menunggunya saja?" tanya Radit pada Mawar.
Mawar hanya menghela napas dalam. Raut wajahnya terlihat sangat kecewa karena ia merasa telah dipermainkan oleh Gavin. Calon tunangannya sendiri.
"Jika kau mencintainya, kau tidak boleh menyerah begitu saja, Nona Mawar," tutur Radit kembali.
"Tapi, aku sudah terlanjur kecewa, Tuan Radit. Dia sudah berulang kali melakukan hal seperti ini," tangis Mawar.
Radit yang melihatnya merasa tidak tega. Apalagi dirinya sangat tidak bisa jika melihat wanita di depannya menangis.
"Sudahlah, kau jangan bersedih. Aku siap membantumu. Bukankah kau akan bertunangan besok?"
Mawar hanya bungkam tak bersuara. Wajahnya kusyt karena tangisannya itu. Radit pun menyetir mobilnya menuju sebuah studionya. Berharap di sana Mawar akan membaik dan tidak bersedih kembali.
__ADS_1
"Turunlah, istirahat saja di studioku saat ini," pinta Radit saat telah tiba di depan studio.
Mawar pun turun dari mobil tersebut, lalu berjalan masuk mengikuti langkah Radit. Untung saja suasana sekitar sangat sepi, sehingga tidak ada yang akan mencurigainya.
"Kau istirahat saja dulu di kamar ini, aku akan membelikan makanan untukmu," ucap Radit.
"Tidak perlu repot-repot," balas Mawar sembari mencekal tangan Radit.
Radit pun tersenyum dan menatap wajah Mawar. Ia duduk di hadapan gadis itu seraya mengusap-usap pucuk kepala Mawar.
"Tidak apa-apa, Sayang. Aku tidak akan membiarkanmu kelaparan. Tunggu ya?"
Mawar pun tersenyum dan mengangguk pelan. Ia menatap kepergian Radit yang telah berlalu.
***
"Bagaimana sih ini, Pa. Masa Gavin beljm juga mengajak Mawar untuk memilih gaun pertunangan mereka? Kan tinggal satu hari lagi mereka bertunangan. Pokoknya Mama akan temui keluarganya," tutur Marcelia, ibu Mawar.
"Ma, sudahlah. Jangan terlalu risau begitu. Lagipula hari ini kan Mawar bertemu Gavin. Pasti mereka akan membahas tentang pertunangan mereka," ucap Johan dengan tenang.
Sesekali mata lelaki itu menatap koran yang dibacanya. Lain dengan Marcelia, wanita itu tampak risau dengan apa yang terjadi.
"Meskipun begitu, Mama tidak akan membiarkannya, Pa. Mawar itu putri satu-satunya kita, dia perlu seseorang yang pasti dan jelas untuk masa depannya,"
"Ya, Papa tau. Tapi kan Gavin sudah jelas dan pasti akan menikahi Mawar, Ma. Sudahlah, jangan berpikir yang tidak-tidak. Hubungan mereka pasti baik-baik saja,"
Marcelia pun duduk lemas di atas sofa. Ia tampak mengatur napasnya dan mengontrol emosi yang kian meluap. Sepertinya memang benar yang dikatakan oleh suaminya itu. Mawar pasti baik-baik saja.
"Pa … jika sampai besok Gavin belum juga mengajak Mawar memilih gaun, Mama pokoknya harus turun tangan. Kalau bisa Mama tidak akan merestui hubungan mereka," cetus Marcelia.
"Astaga, Ma! Sudahlah, percaya sama Papa. Gavin pasti akan memperlakukan Mawar dengan baik,"
"Ya … semoga saja, Pa."
Lalu Johan pun tersenyum melihat istrinya itu. Ia mendekap erat tubuh wanita itu mencoba untuk menenangkan pikiran istrinya.
###
__ADS_1