Mencintai Tuan Muda CEO

Mencintai Tuan Muda CEO
Chapter26. Yayasan Panti Asuhan


__ADS_3

Tepat jam istirshat kerja, Gavin terbangun dari tidurnya. Ia menatap seluruh ruangan terlihat kosong tiada seorang pun. Di mana Alice? Kenapa tidak terlihat batang hidungnya?


"Tuan, sepertinya anda tidur terlalu lama. Tadi Nona Alice izin pulang lebih awal karena ada urusan keluarga," tutur Hans yang menghampiri bosnya itu.


"Apa?! Pulang? Baru saja dua hari masuk kerja sudah berani izin pulang. Pokoknya besok jika dia meminta izin lagi jangan diperbolehkan," sahut Gavin merasa kesal.


"B-baiklah, Tuan."


Gavin pun bangkit dari duduknya. Kedua matanya melirik ke arah meja di mana tempat Alice bekerja. Gavin merasa kesal karena meja tampak berserakan. Ia pun melangkahkan kakinya menghampiri meja tersebut dan mengemasnya.


Seperti yang sudah diketahui, bahwa Gavin sangat mencintai kebersihan dan kerapian. Ia tak ingin ada benda sedikit pun yang mengotori ruangan atau benda-benda yang berserak. Dengan teliti, Gavin mengambil map yang berisi dokumen dan menyerahkannya pada Hans.


"Bawa dokumen ini. Saya akan menyelesaikannya di apartemen. Karena besok sudah harus mulai rapat," ucap Gavin pada Hans.


"Jadi, Tuan Muda mau pulang lebih awal?" tanya Hans penasaran.


"Ya. Saya akan mengantar kau pulang. Karena saya ada urusan mendadak,"


"Baiklah. Tuan Muda."


Gavin pun beranjak berjalan meninggalkan ruangan. Langkahnya diikuti oleh asistennya itu. Tampaknya Gavin akan menemui seseorang, siapa??


***


"Ibuu … jadi Ibu sudah mengatakan pada Paman bahwa rumah kita yang di Bendungan Hilir akan sewakan untuk yayasan panti asuhan?" tanya Alice sembari menghampiri ibunya.


Diana mengangguk pelan sambil menyiapkan makan siang untuk putrinya.


"Sebenarnya bukan Ibu yang mengusulkan, tetapi Paman sendiri yang mengusulkan. Dari pada digusur oleh perusahaan Tuan Muda Gavin, alangkah baik jika dijadikan yayasan panti asuhan. Lagipula, Paman sendiri belum menanda tangani surat perjanjian, hanya surat pernyataan saja. Jadi, perusahaan tidsk dapat menuntut semena-mena," ujar Diana.


Alice menghela napas dan duduk bersama ibunya. Ia menatap lekat wajah ibunya.


"Ibu … kalaupun perusahaan akan menuntut Paman, penggusuran rumah tidak akan terjadi. Karena surat kepemilikan lahan tersebut masih ditangan Paman. Terkecuali, kalau perusahaan telah mendapat pembagian lahan tersebut,"


"Ya, orang kaya memang begitu. Tidak pernah merasa puas dengan apa yang dimiliknya. Pokoknya, Ibu tidak akan membiarkan penggusuran itu terjadi. Bagaimana pun Pamanmu itu adik Ibu sendiri. Ibu akan berada di pihaknya,"


"Sudahlah, Ibu. Jangan khawatirkan itu. Tenang saja, hal itu tidak akan terjadi,"


"Ya … semoga saja, ya?"


Alice pun tersenyum sembari menikmati hidangan makanan tersebut. Sementara Diana masih tampak menggerutu.

__ADS_1


"Ibu, setelah ini aku akan pergi keluar. Aku ingin menemui Mbak Cecilia, ada hal penting yang mau dibahas,"


"Yasudah, tidak apa-apa. Kau harus hati-hati, ya?"


"Baik, Ibu."


***


Usai mengantarkan pulang asistennya, Gavin kini mengemudi mobilnya melintasi jalan tol. Ia sepertinya sudah memiliki janji dengan seseorang. Siapa? Mawar Jingga. Gavin telah berjanji untuk menemui Mawar di sebuah Cafe yang tak jauh dari kota.


Senyumnya terus mengembang saat ia mengingat wajah cantik Mawar. Tampaknya ia sudah tak sabar untuk menemui gadis itu.


Klunggg kluuunggg


Seketika ponselnya berbunyi, dengan segera Gavin pun melihat pada layar ponselnya. Ternyata Cecilia. Ia pun mendengkus napas dan membiarkan ponsel itu terus berdering.


Kluunggg kluungggg


Namun, ponsel itu terus saja berdering membuat Gavin merasa kesal. Ia pun mau tidak mau menjawab panggilan tersebut.


"Hallo, ada apa kau menelponku?" tanya Gavin dengan malas.


Gavin sendiri merasa begidik.


"Sudahlah, kau kalau mau bicara, bicara saja. Jangan bertele-tele,"


"Bian bersamaku," ujar Cecilia.


Gavin tersentak kaget. Pantas saja semalaman ayahnya marah besar karena Bian tidak kembali. Justru malah meninggalkan mobilnya di garasi bar. Gavin pun mendengkus napas pelan.


"Baiklah, aku segera ke sana."


Panggilan pun berakhir. Ia pun harus terpaksa mengurungkan niatnya untuk menemui Mawar. Kini mobilnya menuju jalan di mana apartemen Cecilia berada. Karena tidak ingin membuat ayahnya marah kembali, dengan terpaksa Gavin harus menjemput adiknya itu. 'Dasar! Anak nakal.' gumam Gavin.


***


Alice tampak turun dari taxi saat telah tiba di depan apartemen yang cukup mewah. Ternyata apatemen itu milik Cecilia. Ia pun tersenyum cerah memandang sekeliling. Banyak terdapat bunga hias dan pepohonan lainnya.


Langkahnya pun berjalan menuju pintu masuk. Namun, ia sedikit tertegun karena melihat bayang-bayang Cecilia bersama seorang pria. Alice menatapnya dari balik jendela kaca yang transparan itu. Ia memperhatikan betul-betul siapa pria tersebut? 'Sepertinya, bukan Tuan Gavin. Lalu siapa?' gumam Alice merasa bingung.


Hatinya semakin diliputi rasa penasaran. Bukankah selama ini Cecilia sendiri yang memintanya untuk menjauhkan Mawar dari Gavin, supaya ia dapat dengan leluasa mendekati Gavin. Lantas, kenapa Cecilia masih bersama pria lain? Atau Cecilia telah menipunya?

__ADS_1


Ting tong


Alice pun menekan tombol bel di pintu itu. Dalam sekejap pintu terbuka lebar. Cecilia tersenyum dan mempersilahkan Alice untuk masuk. Secara bersamaan, mobil Gavin pun melintas dan berhenti di depan apartemen itu.


Deg!


Jantung Alice terasa akan copot saat melihat sosok Gavin keluar dari mobil. Begitu juga dengan Cecilia, ia sepertinya sedikit tersentak karena menyadari kedatangan Alice dan Gavin hampir bersamaan.


Alice pun mencoba menutup wajahnya dengan dompet yang dibawanya.


'Akh! Tidak! Bisa gawat kalau dia tau aku ada di sini juga. Pasti dia marah besar karena aku kabur gitu aja dari kantor. Oh Tuhan!'


"Kauuu …?" ujar Gavin sambil menunjuk ke arah Alice.


Cecilia mengulum senyum dan menggandeng tangan Gavin.


"Kau tidak perlu tau siapa dia. Dia itu pembantu baruku." sahut Cecilia, kemudian menyeret Gavin masuk.


Gavin pun menatap ke arah Cecilia dan melepas cengkraman itu.


"Aku ke sini bukan untuk menemuimu, Cecilia. Aku ke sini ingin menjemput Bian untuk pulang. Jadi jangan sentuh saya!" sahut Gavin merasa kesal.


"Tapi, aku sangat merindukanmu, Gavin," ucap Cecilia dengan wajah memelas.


Alice hanya diam terpaku saat mendengar penuturan Cecilia tadi. Yang mengatakan bahwa dirinya pembantu barunya. Alice pun menghela napas mencoba bersabar. Ia menganggap bahwa ucapan itu hanya angin lalu.


"Mbak Cecilia, saya ke sini ingin …." ucap Alice sambil menghampiri Cecilia dan Gavin.


Alice tampak tidak berani mengutarakan niatnya itu saat Gavin menatapnya.


"Kauuu???" gumam Gavin sembari menatap jelas wajah Alice.


"Dia Alice, adik sepupuku." sahut Cecilia.


Gavin menatap wajah Cecilia dengan beribu pertanyaan. Ia merasa bingung sendiri dengan perkataan Cecilia.


"Bukankah kau tadi bilang, dia pembantumu. Ohh … aku mengerti. Kau bekerja sama dengannya supaya kau bisa mendekatiku?!" gertak Gavin.


Alice dan Cecilia tampak terbelalak lebar. Keduanya merasa terkejut dengan perkataan yang barusan diucapkan oleh Gavin. Akankah Gavin sudah mulai curiga? Atau Gavin telah mengetahui semua kebenarannya??


###

__ADS_1


__ADS_2