
Gavin tampak duduk terdiam di atas balkon. Di sana ia menatap bintang-bintang di langit. Tampaknya, malam ini akan segera turun hujan. Cuaca yang tadinya cerah berubah menjadi kelam.
Ia merogoh ponselnya di dalam saku dan mencoba untuk menghubungi Mawar. Berharap gadis itu segera menjawab panggilannya. Gavin tau benar sikap Mawar bagaimana? Saat gadis itu marah padanya pasti akan mengabaikannya.
"Astaga! Tidak dijawab juga. Apakah dia benar-benar Marah padaku? Sepertinya besok aku harus menemuinya." gumamnya.
Kemudian langkahnya berjalan menuju ranjang. Di sana ia tampak termenung. Sesaat pikirannya tertuju pada Alice. Sikap Alice yang menurutnya konyol benar-benar memenuhi otaknya.
Apalagi saat ia teringat kejadian di dalam mobil tadi, wajahnya tampak merona. Senyum tipisnya terlukis di bibirnya yang sensual itu.
"Gavin … tolong buka pintunya, Papa ingin berbicara padamu." tampak terdengar suara Jeff dari balik pintu.
Gavin pun bangkit dan membukakan pintu tersebut. Ia melihat Jeff tampak menatapnya dengan tatapan serius. Sepertinya lelaki itu akan berbicara hal penting pada putranya.
"Bicara di kamarmu saja, ya?" ujar lelaki itu.
Gavin pun mempersilahkan Jeff masuk. Lalu, ia mengunci pintu kamar dan duduk di dekat ayahnya.
"Gavin, Papa ingin berbicara sesuatu padamu," ujar Jeff.
"Ya, Pa. Bicaralah," ucap Gavin.
"Papa ingin kau merekrut Mawar ke perusahaan. Jadikan Mawar sebagai pengganti manajer Fan. Papa rasa, Mawar akan bekerja sangat bagus," ucap Jeff pada Gavin.
"Tapi, Pa. Aku sama Mawar sedang …." seketika Gavin tak melanjutkan perkataannya. Bisa-bisa masalah tambah besar jika ayahnya mengetahui tentang hubungannya.
"Ada apa, Gavin? Kau tidak sedang dalam masalah kan dengan Mawar?"
"T-tidak, Pa. Hubungan kami baik-baik saja,"
"Yasudah, besok kau coba bicarakan pada Mawar, ya?"
"Baik, Pa,"
__ADS_1
"Yasudah, istirahatlah. Jangan tidur terlalu larut, ya?"
"Baik, Pa."
Seketika Jeff pun tersenyum dan berlalu keluar dari kamar putranya itu. Langkahnya berjalan menuju ruang tengah. Di sana, tampak Kelly mondar mandir dengan wajah cemas. Jeff pun mendekati istrinya itu dan duduk di sofa.
"Ada apa sih, Ma? Dari tadi mondar mandir terus?" tanya Jeff pada Kelly.
"Bagaimana Mama tidak risau, Pa. Bian dari tadi belum juga pulang, Mama khawatir dia mabuk lagi, Pa," ujar Kelly dengan khawatir.
"Anak itu! Memang tidak bisa dibilangin. Mama sih, terlalu memanjakannya. Sikapnya jadi ngelunjak semaunya saja," tukas Jeff.
"Papa ini, malah menyalahkan Mama. Itu salah Papa sendiri yang terlalu mengekangnya. Jadinya Bian kecewa dan berbuat semaunya,"
"Kok malah menyalahkan Papa. Papa melarang Bian keluyuran malam-malam itu demi kebaikan dia sendiri, Ma. Itu salah Mama yang terlalu memanjakannya. Sekarang, telpon saja dia biar Papa yang bicara,"
"Tidak dijawab, Pa,"
"Dasar! Anak nakal."
"Pa, mau ke mana, Pa?" tanya Kelly.
"Menyusul Bian." sahut Jeff sembari membuka pintu rumah.
Langkahnya menuju garasi dan masuk ke dalam mobil. Ia pun menyetir mobil itu menuju tempat di mana Bian berada. Jeff sendiri sudah tau benar, perilaku putra bungsunya itu. Setiap malam minggu pasti selalu menghabiskan waktunya di bar.
***
Bian tampak berjalan sempoyongan menuju tempat parkir. Kali ini ia tampak mabuk berat akibat kebanyak meminum alkohol.
Brukkk
Sekita badannya ambruk di depan gadis cantik yang tengah berjalan. Untung saja, gadis itu dengan cepat menangkapnya.
__ADS_1
"Bian …." ujar gadis cantik itu, yang tak lain adalah Cecilia.
Sementara Bian hanya diam di dalam dekapan gadis itu. Dengan cepat, Cecilia pun membawanya ke dalam mobil. Di sana ia mencoba menyadarkan Bian dengan berbagai cara. Mulai dari memberinya minyak angin aroma terapi dan juga membasahi wajahnya dengan sedikit air.
"Pliss, Bian. Bangun, kau harus sadar. Aku tidak ingin orang lain melihat kita," ujar Cecilia sambil terus membangunkan Bian.
"Kepalaku … pusing … sekali," tutur Bian dengan mata masih terpejam.
Cecilia tampak mendekap Bian. Sejujurnya ia merasa kesal dengan pria itu. Di mana pria yang dulu sangat ia cintai namun pergi begitu saja meninggalkan dirinya demi studynya.
Cecilia pun menghembus napas pelan dan sesekali menatap wajah Bian.
"Ayo! Bangunlah. Ini sudah malam, dan sebentar lagi akan turun hujan," tutur Cecilia.
Cecilia pun tampak bingung. Ia tidak tau harus melakukan apa? Tidak mungkin ia membiarkan Bian pulang sendiri dalam keadaan mabuk begini. Kalau mengantarnya pulang? Bisa kacau rencanaku untuk mendekati Gavin. Sial!
Cecilia pun dengan terpaksa mengemudi mobilnya dan membawa Bian pergi dari bar tersebut. Di mana Cecilia akan membawa Bian?? Apartemen. Ini adalah satu-satunya cara yang harus ia lakukan. Dengan begitu, keesokan harinya dia dapat menghubungi Gavin untuk menjemputnya pulang.
***
"Gavin??" gumam Mawar saat melihat ponselnya.
Di situ tertera banyak sekali panggilan tak terjawab dari Gavin. Mawar pun mendengkus napas pelan dan menatap layar ponselnya.
"Siapa, sih? Calon tunanganmu, ya?" tanya Radit sambil memeluk erat tubuh Mawar dari belakang.
Mawar pun mengangguk dan jujur pada Radit. Usai itu ia meletakkan ponselnya.
"Balas saja dulu, pasti dia sangat khawatir padamu, setelah itu kau mandi, ya? Aku akan pergi keluar sebentar mencari makanan, kau pasti lapar, kan?" ujar Radit sambil bangkit dan melepas pelukan itu.
"Baiklah," ucap Mawar pelan.
Radit pun tak lupa mengecup kening Mawar dan membiarkan gadis itu sendirian. Langkahnya kini berjalan menuju kamar mandi untuk membereskan diri. Usai mengganti pakaian, Radit pun berlalu pergi keluar.
__ADS_1
'Ternyata, Tuan Radit begitu perhatian padaku.' gumam Mawar sambil tersenyum menatap kepergian Radit. Tampaknya Mawar sudah mulai tergoda oleh perlakuan Radit, ataukah Mawar lebih memilih Radit dari pada Gavin??
###