
"Ini kamarmu, kau bisa menempati kamar ini sebagai tempat istirahatmu. Aku rasa kau tidak perlu membersihkannya lagi, karena aku sudah membereskan kamar ini sebelum kau datang, Crish," ucap Alice sembari menatap Crish di depan pintu kamar.
"Baiklah, terima kasih. Aku sudah sangat lelah, aku istirahat dulu, ya?" balas Crish.
"Istirahatlah, semoga tidur nyenyak, ya?"
Sepeninggal Alice, Crish hanya tersenyum dan masuk ke dalam kamar. Tangannya meraih gagang pintu dan menguncinya dari dalam.
Sepertinya dia akan betah dengan suasana barunya itu. Tentu saja, baru pertama kali datang saja ia sudah terpesona melihat kecantikan Alice. Jangan-jangan Crish mulai tertarik padanya.
Alice kembali berjalan ke kamarnya di sana ia merenung menatap jendela kaca. Tatapannya tampak gusar kala ia mengingat wajah Gavin.
Entah kenapa bayangan pria itu selalu melintas dipikirannya.
Klungg klungg!
Sesaat itu ponselnya bergetar, Alice mengambil ponselnya dan membuka notifikasi tersebut.
[Kau di mana? Ayo kita bertemu.]~Gavin Danendra.
Deg! Hati Alice mulai tersentak saat membaca pesan dari atasannya. Ada apa sebenarnya? Mengapa Gavin ingin menemuinya?
Alice pun segera membalas pesan tersebut.
[Aku di rumah, baiklah.]~Alice.
Setelah itu Alice menghempaskan tubuhnya di atas kasur empuknya. Pikirannya sangat kacau tak menentu. Ia sangat takut jika Gavin telah mencurigainya.
***
"Kurang ajar! Dasar keluarga tidak tau malu. Berani-beraninya mereka membohongiku." gertak Jeff saat tiba di rumah.
Lelaki itu merasa kesal dengan perlakuan keluarga Johan yang telah membohonginya.
"Sudahlah, Pa. Jangan terlalu emosi, kau harus sabar. Nanti penyakitmu kambuh lagi," tutur Kelly mencoba menenangkannya.
"Bagaimana aku bisa bersabar, Ma. Keluarga Johan itu sudah sangat keterlaluan. Mereka telah merenggut nyawa Morina Thomas. Papa tidak akan tinggal diam, pokoknya Papa harus meminta Jhordy untuk menuntut mereka ke jalur hukum." emosi Jeff tampak meluap.
Mendengar itu Kelly hanya menghela napas dalam. Ia sendiri tak dapat berbuat apa-apa selain membiarkan Jeff menjalankan rencananya.
***
Di dalam perjalanan, Jhordy tampak mengemudi mobil bersama istri dan anaknya. Kania merasa tidak sabar untuk segera mencapai tujuannya.
__ADS_1
Apakah benar putri bungsunya masih hidup? Jika benar, ia akan merasa senang dengan semua itu. Setelah berpuluh tahun lamanya terpisah dan membuatnya jatuh syok karena kehilangan putrinya, kini ia sangat berharap bahwa yang tinggal desa Bendungan hilir itu memang benar putri kandungnya.
"Pokoknya kita harus segera bertemu dengan kelurahan desa tersebut, Pa. Mama yakin kalau gadis itu pasti benar putri kita," ujar Kania.
"Ma, tenanglah. Sebentar lagi kita sampai kok," tutur Cecilia.
"Benar atau tidaknya kita belum tau, Ma. Yang jelas kita berusaha aja dulu," timpal Jhordy sambil terus mengemudi.
"Iya, Pa. Mama sudah berharap sekali kalau Maurine segera kembali,"
"Semoga saja, Maurine baik-baik saja."
Mobil pun terus melaju menuju tujuan mereka. Cecilia hanya diam sambil menatap sekitar perjalanan itu. Di sisi lain ia merasa puas karena Mawar telah dicampakkan oleh Gavin. Di sisi lainnya lagi, ia sangat berharap segera bertemu dengan adik kandungnya.
Setibanya di depan rumah kelurahan tersebut, mereka segera turun dan keluar dari dalam mobil. Terutama Kania, ia dengan segera berjalan menuju pintu masuk dan menekan tombol bel.
Tampaknya wanita itu sudah tidak sabar untuk mencari informasi kebenaran tentang putri bungsunya.
Dalam sekejap pintu terbuka lebar, nampak seorang pembantu rumah membukakan pintu dan mempersilahkan mereka untuk masuk.
"Ada perlu apa? Masuklah." ucap pembantu rumah tersebut.
Mereka bertiga pun segera masuk dan menjelaskan tujuan kedatangannya. Tak lain adalah untuk bertemu dengan kelurahan tersebut.
"Benar," jawab mereka bersamaan.
"Sebentar, ya? Saya coba hubungi beliau, karena beliau sedang ada urusan di luar. Mohon ditunggu, ya?"
"Baiklah,"
Pembantu teesebut pun berlalu mengambil ponsel dan mencoba menghubungi tuan rumahnya. Sementara, Kania, Jhordy dan Cecilia terdiam merenung sambil menunggu kedatangan kelurahan tersebut.
***
"Tuan Muda, sebenarnya ada hal penting apa yang membuatmu ingin bertemu denganku?" tanya Alice menatap wajah Gavin yang tampan itu.
Kini mereka berada di dalam mobil. Tak mungkin jika Alice membiarkan Gavin untuk masuk ke dalam rumahnya. Di sana ada ibu dan juga Crish. Ia takut jika Gavin akan mencurigai mereka nantinya.
"Kau ingin tau maksud kedatanganku?" tanya Gavin penuh dengan penekanan.
Alice mengangguk pelan.
"Jelaskan padaku, siapa kau sebenarnya?"
__ADS_1
Deg!
Tidak. Tidak mungkin jika Gavin datang padanya hanya untuk menginterogasinya. Tapi, apakah mungkun jika Gavin telah mencurigai siapa dirinya sebenarnya? Atau mungkin Gavin telah mengetahui semua kebenarannya?
"T-Tuan Muda. Sebenarnya ada apa? Aku tidak mengerti apa maksud Tuan," Alice tampak bingung harus menjawab apa. Ia terpaksa harus bersikap pura-pura tidak mengerti.
"Kau jangan beralasan. Aku tau kau sedang berbohong padaku. Ayo! Jelaskan semuanya padaku. Siapa kau sebenarnya? Atau ... tunggu aku yang mengetahui semua kebenarannya?"
"Kau tidak perlu menginterogasiku, Tuan Muda. Kau tau sendiri kan siapa aku? Aku adalah Alice Cyntia Magdalena, apa lagi yang perlu dijelaskan?? Semua sudah jelas." sahut Alice dengan nada sewot.
Jujur saja ia benar-benar kesal karena ada seseorang yang menginterogasi dirinya. Jika begini lama-lama topeng kebohongannya akan terbuka juga.
Mendengar itu Gavin hanya tertawa geli. Ia menatap wajah gadis di depannya dengan tatapan tajam.
"Jujur saja, Anya Maurine. Kau tidak perlu berbohong lagi padaku."
Alice tampak tersentak saat mendengar Gavin menyebutkan nama aslinya. Bagaimana bisa? Apakah Gavin telah mengetahui identitas aslinya? Gawat!
"Siapa Anya Maurine, Tuan?"
"Oh?? Jadi kau ingin tau siapa gadis itu? Dia adalah sosok gadis pemeras dan kampungan. Aku sangat membenci gadis itu."
Alice merasa tersakiti dengan perkataan itu. Ia menatap wajah Gavin dengan seksama. Bagaimana bisa dirinya mulai tertarik pada pria kejam dan sombong seperti Gavin?
"Dasar pria sombong!" cetus Alice dengan kesal.
"Apa kau bilang?"
"T-tidak, Tuan Muda. Kau sangat tampan hari ini, harusnya kau bersanding dengan tunanganmu, kan? Kenapa malah datang ke sini hanya untuk menginterogasiku?"
Gavin terdiam dan merenung. Ia merasa kesal jika mengingat nama Mawar dalam hidupnya. Jujur, ia merasa kecewa pada gadis yang selama ini ia harapkan. Ternyata gadis itu tak lebih dari seorang penjilat dan pembohong.
Melihat Gavin terdiam, Alice merasa bingung. Ia pun menatap wajah Gavin dengan senyum mengembang.
"Tuan, apa kau baik-baik saja?" tanya Alice memastikan.
"T-tidak. Aku baik-baik saja," balas Gavin tak bergairah.
"Benarkah?? Sepertinya kau sedang ada masalah?"
"Tidak. Kau masuklah, aku akan pulang,"
Alice mendengkus napas pelan sambil sesekali memperhatikan wajah Gavin. Ia yakin dan percaya bahwa pria di depannya pasti sedang berduka karena gagal merayakan hari pertunangannya. Tapi? Apa sebabnya tunangan mereka gagal? Akh! Tidak. Sepertinya ia tidak perlu mencari tahu hal itu. Lagi pula semua itu tidak ada hubungannya dengannya.
__ADS_1
###