
Malam ini Alice duduk merenung di ranjang tidurnya. Entah mengapa dirinya selalu teringat akan sosok Gavin Danendra. Padahal sudah berapa kali ia mencoba untuk menghalau pikiran tentangnya, akan tetapi ingatan itu kembali singgah membuat Alice merasa jengah.
Kedua matanya menatap lekat layar ponsel miliknya. Di sana ia ingin sekali mencoba menanyakan kabar kepada atasannya itu, tetapi ia mengurungkan kembali niatnya. Itu tidak mungkin ia lakukan! Bukankah ponsel Gavin hilang saat kecelakaan, pasti pria itu telah mengganti ponsel serta nomor barunya. Alice tampak bingung, dalam hati ia sangat mengharapkan untuk mendengar suara Gavin. Meskipun pria itu cukup membuatnya merasa kesal dan bosan.
"Alice ... bolehkah Ibu masuk?" dari luar terdengar suara ibunya. Alice pun dengan segera menjawab.
"Iya, Ibu. Masuklah! Tidak dikunci."
Nampak seorang wanita separuh baya tersenyum menatap ke arahnya. Alice membalas senyum simpul dan mempersilahkan ibunya untuk duduk. Diana pun langsung duduk setelah mengunci pintu kamar. Ia menatap wajah Alice dengan seksama. Terlihat raut wajahnya menggambarkan rasa iba yang begitu mendalam. Alice hanya bisa terdiam dan bergeming.
"Alice, maafkan Ibu, ya? Ibu harus memberitahu semuanya padamu." ujar Diana dengan terpaksa melukis senyum.
Mendengar hal itu justru membuat Alice merasa aneh dan heran. Sebenarnya ibunya akan menjelaskan kebenaran tentang apa? Alice menarik napas dalam dan menatap wajah ibunya.
"Ibu ... apa yang akan Ibu katakan?"
"Alice ... sebenarnya ... Ibu, Ibu telah mengetahui siapa teman masa kecilmu waktu itu. Tapi ... Ibu sangat tidak ingin jika kau menikah dengannya. Dulu, Ibu pikir anak itu sangat baik padamu dan tidak sombong. Akan tetapi, sekarang semuanya berbalik. Justru dia sangat membencimu. Maafkan Ibu, baru memberitahumu," Diana tampak terisak. Alice mencoba menenangkan wanita itu dan memikirkan apa yang dikatakan oleh ibunya.
"Ibu, tenanglah, jangan menangis! Coba Ibu jelaskan semuanya, siapa nama teman masa kecilku itu?"
Diana menarik napasnya dan menatap kembali putrinya. Di raut wajahnya, ia sangat tidak ingin jika putrinya nanti akan meninggalkannya setelah mengetahui kebenarannya.
"Maafkan Ibu, ya? Pria itu bernama Gavin Danendra,"
"Apa?!" Alice tersentak kaget. Ia tak dapat menduga jika pria teman masa kecilnya adalah Gavin Danendra, atasannya sendiri. Mengapa selama ini dia tak menyadari hal tersebut?
"Dahulu, Ibu dan Ibunya telah sepakat untuk menjodohkan kalian. Akan tetapi, tak lama dari itu Ibunya Gavin meninggal. Ibu tidak dapat kabar apa-apa lagi dari keluarganya setelah itu. Namun, sekarang Gavin sendiri telah melupakanmu, dia tidak mengingatmu, kan? Maafkan Ibu, Alice. Ibu tidak bermaksud menyembunyikan semua darimu,"
"Ibu ... aku tidak yakin jika dia adalah Gavin yang sombong itu,"
__ADS_1
"Kau harus mempercayainya, Alice. Ibu tau, Gavin bukan sengaja melupakanmu. Melainkan karena gadis pembohong itu yang membuat ingatannya tidak normal. Kau harus mempercayai itu, Alice. Gavinlah teman masa kecilmu,"
"Ibu ... aku tidak mempercayainya,"
"Jika kau tidak mempercayainya, kau dapat menanyakan langsung pada ayahnya. Beliau mengetahui semua masa lalu antara kalian,"
"Tapi, Ibu ...."
"Dan juga, jika kau ingin menemui orangtuamu, silahkan. Ibu tidak melarangmu. Kau berhak mengetahui siapa mereka?"
"Siapa orangtuaku, Ibu?"
"Mereka bernama Jhordy dan Kania. Kau bisa mencaritahu keberadaannya melalui Jeff, ayah Gavin,"
Alice terdiam, ia meratapi semua yang terjadi. Di mana semua kebenarannya telah terungkap dengan jelas. Membuat dirinya tak begitu mempercayai akan hal tersebut. Bagaimana bisa, teman kecilnya adalah pria yang sangat dibencinya. Sungguh tidak percaya jika itu benar adanya.
"Ibu juga harus tidur, ya?"
Wanita itu tersenyum dan menutup pintu dari luar. Sementara, Alice masih memikirkan semua kebenaran itu. Ia menarik napas dalam-dalam dan mencoba untuk menghilangkan semua pikiran itu. Terlebih, ingatan mengenai Gavin, selalu mondar-mandir tak tentu arah. Semua itu sangat membuatnya semakin mabuk kepayang.
***
Mentari mulai menampakkan dirinya malu-malu di balik awan yang mengepul kemerahan. Gavin bangkit dari tidurnya dan bersiap untuk pergi ke kantor. Walaupun kepalanya saat ini masih tampak sakit, ia harus tetap menjalankan tugasnya yang telah diperintahkan olehnya. Apalagi, hari ini ia akan pergi ke kelurahan desa Bendungan Hilir untuk meminta penjelasan mengenai proyek semalam.
Untungnya, ingatannya saat ini telah kembali normal. Hanya saja ia melupakan insiden kecelakaan itu. Bukan sepenuhnya melupakan, melainkan dirinya tak mengingat gadis yang telah menyelamatkannya. Gavin berjalan menuju kamar mandi dan segera membersihkan dirinya.
Kali ini ia harus benar-benar semangat dalam bekerja. Semua masalah belum selesai! Ia pun harus menuntaskan semua masalah yang membuat dirinya terpikul beban.
"Gavin ... kau sudah bersiap?" Suara ayahnya dari luar mengejutkan Gavin yang sedang mengganti pakaian.
__ADS_1
"Sebentar, Pa. Aku akan turun segera." jawab Gavin.
Kini Gavin telah selesai bersiap, ia mengenakan setelan jas berwarna hitam dan juga dasinya yang terlihat rapi. Ia tersenyum pongah di depan cermin, lalu merapikan rambutnya.
Tak lupa ia mengenakan parfum yang wanginya sangat menggoda. Sepertinya itu cukup memikat para wanita di kantor. Siapa saja yang berada di dekatnya, pasti akan mencium bau hormon yang sangat menggoda.
Usai itu, Gavin berjalan turun dari tangga dan melihat ayahnya serta ibunya telah menunggunya di bawah. Mengapa mereka hanya berdua? Di mana Bian? Apakah anak itu masih tertidur?
"Gavin, duduklah." Ayahnya menggeserkan kursi untuknya. Gavin pun duduk di samping ayahnya.
Tumben sekali ayahnya bersikap demikian? Memperlakukan dirinya layaknya seorang raja. Gavin terdiam sampai ayahnya membuka percakapan.
"Gavin, sebaiknya kau harus segera menikah. Menikahlah dengan Cecilia, dia sudah menyelamatkanmu, kan? Papa juga sudah merasa hutang budi pada keluarganya, apa kau bersedia?" ujar Jeff pada putranya.
"Pa. Apakah ini tidak terlalu cepat? Aku baru saja gagal tunangan semalam, dan sekarang harus segera menikah. Aku tidak bisa, Pa. Aku masih memikirkan pekerjaan kantor, itu saja sudah membuatku pusing. Ditambah lagi harus menikah, aku tidak mau." Gavin bangkit dari duduknya dan bergegas pergi menuju ke luar.
Sementara Jeff hanya menghembus napas dalam dan meratapi kepergian putranya yang keras kepala itu.
"Sudahlah, Pa. Jangan terburu-buru, biarkan saja Gavin mengurus kantor dulu," ucap Kelly pada suaminya.
"Anak itu memang egois, tidak pernah mendengarkan saran Papanya sendiri," ketus Jeff geram.
"Jangan terlalu dipikirkan, Pa. Ayo sarapan dulu, ini tehnya segera diminum, Pa, keburu dingin,"
"Iya, Ma, terima kasih."
Dengan segera mereka berdua menyantap sarapan pagi itu. Meskipun Kelly sangat tidak menyukai Gavin, akan tetapi ia harus bersikap baik dihadapan suaminya. Sebelum niatnya untuk mengambil alih perusahaan, ia tak akan pernah berhenti memojokkan Gavin. Ini memang suatu hal yang buruk. Namun, baginya jika Gavin dapat mengelola perusahaan itu tidak adil untuk putranya. Bagaimana pun caranya dirinya harus bisa menyingkirkan Gavin dari perusahaan.
###
__ADS_1