Mencintai Tuan Muda CEO

Mencintai Tuan Muda CEO
Chapter12. Booming


__ADS_3

Malam ini Gavin mengemudi mobilnya menuju sebuah apartemen miliknya. Wajahnya sangat tampan dengan balutan sweater berwarna kuning.


Klungg klungg


Tampak ponselnya berbunyi dengan keras. Ia pun merogoh ponsel di saku celananya dan melihat layar ponselnya. Di situ tertera nama Honey. Ia pun segera menjawab panggilan tersebut.


"Hallo, Mawar. Ada apa?" ujar Gavin dalam telepon.


"Gavin, kau ada waktu tidak? Temani aku, ya malam ini?" terdengar suara Mawar di seberang sana dengan manja.


Gavin tampak menghela napas.


"Mawar, maaf. Malam ini aku sedikit sibuk, bagaimana kalau besok kita makan siang saja?"


"Kau selalu saja sibuk, padahal aku hanya ingin berduaan denganmu,"


"Mau bagaimana lagi, aku sedang sibuk dengan urusan kantor,"


"Yasudahlah. Kau terus saja begitu, sampai kau tak punya waktu sedikit pun untukku."

__ADS_1


Panggilan pun terputus begitu saja. Gavin mendengkus napasnya dan meletakkan ponselnya di saku celana. Ia sudah terbiasa dengan sikap calon tunangannya itu yang keras kepala.


***


[Pemirsa, seorang gadis kampung yang berjuang demi menghidupi keluarganya sangat memotivasi para kalangan masyarakat. Anya Maurine, gadis cantik dan polos yang bekerja sebagai endorse di sebuah studio milik Tuan Raditia Rahman. Karena kegigihan dan kerja keras yang dimiliki oleh gadis tersebut membuat namanya populer di media sosial. Berikut potret manis seorang endorse cantik, Anya Maurine.]


"Sial! Gadis polos itu bisa-bisanya dengan cepat populer di media? Ini tidak bisa dibiarkan. Ini tidak adil bagiku." gerutu Mawar saat menyaksikan acara televisi.


Sebuah berita mengabarkan bahwa Anya Maurine telah menjadi populer di media sosial. Sungguh itu membuat hati Mawar merasa terbakar emosi.


"Waah! Gadis itu cantik sekali, Non. Apakah itu teman Nona?" ujar pembantu rumah yang kebetulan melihat acara tersebut.


"Bukan!" cetus Mawar, lalu beranjak bangun dari duduknya.


***


"Menjadi endorse kosmetik? Sangat tidak cocok dengan wajahnya yang polos." sahut Gavin dengan sombongnya.


Kini tangannya tampak sibuk dengan pekerjaan yang harus diselesaikan. Menyelesaikan beberapa dokumen untuk wawancara sangat membosankan.

__ADS_1


Apalagi, ini seharusnya bukan pekerjaannya. Melainkan tugas seorang sekretarisnya. Akan tetapi, karena sekretaris tersebut izin cuti beberapa minggu, terpaksa ia harus menyelesaikannya sendiri.


***


"Ibu, lain kali Ibu jangan terus-terusan bekerja keras. Biar aku saja yang kerja, lihatlah! Ibu sampai sakit begini jadinya," ucap Anya sambil menuntun Ibunya ke dalam kamar.


Diana hanya termenung sembari menahan rasa sakit yang dialaminya.


"Ibu, pokoknya mulai besok Ibu tidak perlu lagi bekerja. Biar aku saja yang bekerja,"


"Apa kau yakin dengan pekerjaanmu itu?" ujar Diana dengan suara sedikit serak.


Anya membaringkan Diana di atas ranjang. Senyumnya mengembang dengan penuh warna.


"Ibu, namaku sudah populer di media masa. Ini sangat membantuku di masa mendatang. Dengan begini, nantinya akan ada photografer ataupun perusahaan yang ingin bekerja denganku. Tapi aku tidak yakin seratus persen, yang jelas akan ada peluang untukku nantinya,"


"Ibu ikut senang, sekarang kau bisa mandiri dengan bekerja. Kau juga jangan lupa berterima kasih kepada Radit, ya?"


"Iya, Ibu. Jika bukan karena Radit, aku pun tidak akan bisa seperti sekarang ini."

__ADS_1


Anya pun tersenyum dan menggenggam erat tangan Diana. Wajahnya sangat bahagia dengan pencapaiannya saat ini. Dalam waktu sekejap, namanya sudah booming di media sosial. Bagaimana dengan seterusnya?


###


__ADS_2