
Tampak di depan mata sebuah dum truk melintas dan menabrak mobil yang dikemudi oleh Gavin.
"Aaaaakh ... tidaaakk." teriak Gavin histeris.
Gubrakkkk!!
Seketika mobil pun terpental jauh ke dalam jurang, sementara Gavin terlihat lunglai dengan penuh darah di sekujur tubuh.
Hari itu tampak mulai sudah gelap, Gavin merintih kesakitan sembari menahan air mata yang keluar.
Dari kejauhan tampak seorang gadis cantik berjalan menuju sumber suara tersebut. Wajah gadis itu seketika membeku dengan penuh ketegangan. Ia merasa cemas dengan apa yang dilihatnya.
Alice, berjalan memapah Gavin yang penuh luka di tepi pohon besar. Ia mengoyakkan pakaian yang dikenakan untuk membalut luka pada kepala Gavin yang berlumur darah.
"Tuan Muda, bertahanlah. Kau pasti baik-baik saja," ujar Alice sambil membalut luka tersebut.
Namun, sejak kedatangan Alice, Gavin tampak lemah tak berdaya. Sepertinya ia telah pingsan kehabisan oksigen. Astaga! Apa yang harus dilakukan Alice? Apa ia harus mengantarnya ke rumah sakit?
Dengan terpaksa, Alice berjalan tergopoh-gopoh sambil memapah Gavin menuju jalan besar. Di sana ia menyetop taxi yang akan membawanya ke rumah sakit.
Bagaimana bisa kecelakaan itu terjadi pada Gavin? Apakah memang benar Gavin sendiri sedang ada banyak masalah dan pikiran.
Setibanya di rumah sakit, dokter segera menangani Gavin di ruang UGD. Di luar sana, Alice dengan setia menunggu Gavin hingga sadar.
Kluungg kluung!
Di saat itu ponselnya berdering dengan lantangnya. Matanya menatap layar ponsel pada tangannya. Ternyata sang ibu yang memanggilnya. Dengan segera ia menjawab panggilan tersebut.
"Hallo Ibu, ada apa?" ujarnya dalam panggilan telepon.
"Alice, kau di mana? Sudah malam begini kau belum juga kembali. Ibu kan tadi menyuruhmu untuk membeli susu, kau sekarang di mana?" tampak Diana mulai mengkhawatirkannya.
__ADS_1
Alice tak segera menjawab, ia memilih untuk diam dan menarik napas dalam. Kedua bola matanya menatap ke arah ruang UGD di mana Gavin sedang ditangani oleh sang dokter.
"Alice, kau dengar tidak? Ibu sedang berbicara padamu. Sekarang kau di mana? Biar Ibu minta Crish untuk menjemputmu,"
Lagi-lagi, Alice hanya diam. Ia tidak tau harus menjawab apa? Apakah ia harus berkata jujur pada ibunya tentang keberadaannya saat ini? Tapi, jika begitu nanti masalah akan semakin besar.
"Tidak perlu, Ibu. Aku sedang dalam perjalanan pulang, akh sinyal di sini sangat jelek Ibu ... hallo ... hallo,"
Tutttttt
Tanpa basa basi lagi, Alice segera mematikan panggilan tersebut. Ia tidak ingin jika ibunya mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Cekklekkk!
Tampak sang dokter keluar bersama suster di sampingnya. Dokter itu menghampiri Alice yang sedang duduk termenung.
"Nona Alice, apakah anda saudara dari pasien bernama Gavin?" tanya dokter.
"I-iya, Dok. Saya istrinya. Apakah pasien baik-baik saja?" jawab Alice.
"Baiklah. Untuk sementara keadaan pasien masih belum siuman. Akan tetapi luka pada pasien mengakibatkan sistem saraf pada otaknya tidak berjalan stabil, jadi ... bisa dibilang pasien dapat mengalami amnesia," jelas sang dokter pada Alice.
Alice terdiam sejenak, ia mencerna apa yang telah dikatakan oleh dokter.
"Dokter ... apakah, amnesianya dapat disembuhkan?"
"Kita tidak memastikan seratus persen pasien mengalami amnesia, namun besar kemungkinan pasien dapat mengalami amnesia sekitar dua puluh persen,"
"Tapi, Dokter. Pasien dapat disembuhkan, kan?"
"Bisa, dengan menjalani terapi medis secara rutin, dapat mengembalikan daya ingatan pasien,"
__ADS_1
"Baik, Dok. Terima kasih,"
"Setelah pasien siuman, Nona dapat menebus obatnya di ruangan saya, kalau begitu saya permisi dulu."
Alice hanya menjawab dengan anggukan kecil dan memberikan salam perpisahan. Ia menatap bayangan Gavin dari pintu kaca transparan itu.
Entah mengapa hatinya sangat berat untuk meninggalkan Gavin seorang diri. Sedangkan, ia tidak mempunyai nomor ponsel keluarganya. Mau tidak mau ia harus mengurus semuanya sendirian.
***
"Sudah cukup lama menunggu, eh ujung-ujungnya kelurahannya tidak dapat ditemui," gerutu Kania saat tiba di rumah.
"Namanya juga beliau sedang sibuk, Ma. Wajar saja tidak bisa ditemui, lain kali saja kita ke sana, ya?" tutur Jhordy sambil menghempaskan pantatnya di sofa.
"Ma, Pa. Aku ke kamar dulu, ya? Papa sama Mama jangan lupa istirahat," ucap Cecilia kepada orangtuanya.
"Ya, Sayang. Pergilah,"
Sepeninggal Cecilia, Jhordy menatap foto bayi kecil yang ada di dompetnya. Wajahnya tampak lesu pucat tak bergairah.
"Semoga saja kita dapat menemukanmu, Maurine." ujar Jhordy dengan tatapan gusar.
"Semoga saja, Pa"
"Andai saja, saat Maurine kecil tidak diculik, pasti dia sudah dewasa,"
"Pokoknya, Papa harus menuntut keluarga Johan ke jalur hukum, Pa. Mama tidak terima, jika pengkhianat masih berkeliaran di luar sana, Pa."
"Benar, Ma. Johan dan juga Marcelia itu bukan hanya sekedar pengkhianat, mereka juga penjilat yang menjijikkan. Sudah merenggut nyawa Morina Thomas berharap putrinya menikah dengan Gavin Danendra, dasar tidak punya malu."
Di saat itu ponsel milik Jhordy berbunyi dengan kerasnya. Ia mengambil ponsel tersebut dan melihat siapa yang memanggil. Ternyata, di situ tertera nama Jeff.
__ADS_1
Ada apa Jeff malam-malam begini menelponnya? Akankah ada hal penting yang akan dibicarakan?
###