Mencintai Tuan Muda CEO

Mencintai Tuan Muda CEO
Chapter36. Gadis Misterius


__ADS_3

"Aku di mana?" tampak Gavin mulai siuman. Ia menatap sekeliling ruangan tampak kosong melompong. Hanya ada peralatan medis.


Ia berusaha bangkit dan menyandarkan tubuhnya di brankar rumah sakit. Tangannya menyentuh kepalanya yang terasa sakit mengguncang.


"Apa yang terjadi padaku?" tanya Gavin dengan penasaran. Entah mengapa, ia tidak mengingat hal yang telah terjadi padanya. Akankah memang benar jika ia mengalami hilang ingatan?


Cekklekk!!


Sesaat pintu terbuka lebar. Nampaklah seorang gadis cantik berjalan menghampiri Gavin.


"Kau mengalami kecelakaan tadi sore, dan sekarang kau sedang dirawat di rumah sakit." ujar Cecilia.


Kenapa Cecilia yang berada di rumah sakit? Lalu, di mana Alice?


"Kau ... kau siapa?" tanya Gavin dengan tatapan heran.


Cecilia mengernyitkan alisnya dan menatap Gavin dengan tatapan nanar. Sebenarnya ada apa dengan Gavin? Kenapa ia tidak mengenalinya?


"Kau tidak mengenalku? Aku pacarmu, Gavin. Cecilia," jawab Cecilia sambil tersenyum tipis.


Gavin hanya diam dan mencoba memikirkan sesuatu. Ia sungguh tidak mengingat apa-apa tentang kejadian itu.


"Apa kau mengingat sesuatu tentang kecelakaan itu?" tanya Cecilia.


"Aku ... akh ... aku tidak mengingatnya, aku hanya mengingat ada sosok gadis misterius yang telah menyelamatkanku. Akan tetapi, aku tidak mengingat wajahnya, apa kau yang telah membawaku ke rumah sakit?" jawab Gavin.


Cecilia menyungging senyum puas. Ini adalah kesempatan emas untuk meraih hati Gavin kembali. Ia pun menggenggam tangan Gavin dan menatap wajahnya.

__ADS_1


"Benar, Gavin. Aku yang telah membawamu ke rumah sakit, karena aku mencintaimu."


Gavin mendengkus napas pelan. Ia tidak tau bahwa gadis di depannya ternyata telah menyelamatkannya. Namun, entah mengapa perasaannya tidak yakin seratus persen kalau gadis ini yang menyelamatkannya.


Sedangkan ia sendiri juga tak dapat mengingat siapa gadis misterius itu. Wajahnya sangat tidak jelas dalam ingatannya.


"Apa kau sudah baikan? Sekarang minumlah obat ini, besok aku akan mengantarmu pulang."


Gavin hanya mengangguk pelan. Ia pun mulai meminum obat yang diberikan oleh Cecilia.


Di luar pintu, seorang gadis manis tersenyum getir melihat mereka berdua. Alice, ia menatap Gavin bersama Cecilia dengan pandangan gusar.


"Tugasku sekarang sudah selesai, sekarang waktunya aku untuk undur diri. Semoga Mbak Cecilia bisa merawat Tuan Muda dengan tulus." ungkap Alice, lalu beranjak pergi dari rumah sakit.


Sepanjang perjalanan, ia hanya diam tak bergeming. Ingatannya selalu terbayang akan sosok Gavin yang saat ini telah membuatnya tertarik. Entah mengapa, ia merasa bahwa Gavin adalah sosok malaikat tak bersayap yang telah memenangkan hatinya.


Walau sikapnya sombong dan jutek, Alice bahkan merasa tertarik padanya. Apakah Alice telah jatuh cinta padanya?


"Ibu, aku pulang." ujar Alice saat tiba di rumah.


Bukan jawaban yang ia terima dari ibunya, melainkan sebuah tatapan heran dari wajah ibunya itu. Diana berjalan menghampiri Alice dan mengamati seluruh tubuh putrinya. Sepertinya ada yang aneh pada diri putrinya.


"Ibu ... kenapa Ibu menatapku seperti itu? Ini susunya Ibu, aku baru saja membelinya," tutur Alice kembali, lalu menyodorkan kantong plastik yang berisi sekotak susu.


"Kau membeli susu atau dari mana? Lihatlah! Pakaianmu sangat lusuh dan kotor, jelaskan pada Ibu, apa yang sebenarnya terjadi?"


Alice mendehem pelan, lalu duduk di kursi. Ia mengatur napasnya dan memikirkan jawaban apa yang harus ia berikan pada ibunya.

__ADS_1


"Kau jangan berbohong pada Ibumu, Alice. Ayo jelaskan pada Ibu, apa yang terjadi padamu?"


"Ibu, aku tidak apa-apa. Aku baik-baik saja, pakaianku kotor karena aku terjatuh tadi, Bu. Aku tidak sengaja terpeleset,"


"Benarkah begitu, Alice?"


"Benar, Ibu,"


Diana terdiam sejenak. Ia mengamati pakaian Alice dengan seksama. Seketika matanya terbuka lebar merasa terkejut dengan apa yang telah ia lihat.


"Darah?? Ini darah, Alice. Lihatlah! Pakaianmu sobek dan terdapat bercak darah di pakaianmu, kau dari mana Alice? Apa yang sebenarnya terjadi? Kau tidak perlu berbohong pada Ibu, cepat jelaskan yang sebenarnya?"


Bagaimana ini? Alice merasa dirinya sedang berada dalam situasi yang rumit, apakah ia harus mengatakan yang sebenarnya?


Sepertinya, ia harus menjelaskan pada ibunya tentang kejadian itu. Ia pun terpaksa menceritakan kecelakaan yang menimpa Gavin Danendra.


"Apa???! Lalu bagaimana keadaannya?" ujar Diana sedikit terkejut.


"Sepertinya keadaannya sudah cukup baik, Ibu. Aku meminta Mbak Cecilia untuk menjaganya, karena aku tidak ingin Ibu mengkhawatirkanku nantinya," ucap Alice.


"Kau ini ... kenapa kau tidak jujur pada Ibumu sejak tadi, kalau kau jujur Ibu juga tidak akan melarangmu. Kau tau sendiri kan? Tuan Gavin itu atasanmu, kau sudah selayaknya bersikap baik padanya,"


"Tidak apa-apa Ibu, lagi pula tugasku sudah selesai, aku mempercayai Mbak Cecilia mampu menjaga Tuan Muda dengan baik. Sudahlah, Ibu ... jangan terlalu memikirkannya, aku mau istirahat dulu,"


"Ya, ya. Jangan lupa mandi ... badanmu bau amis menjijikkan,"


"Baik, Ibu, Ibu jangan lupa minum susunya. Supaya Ibu cepat sehat, ya?"

__ADS_1


"Baiklah,"


###


__ADS_2