Mendadak Jadi Istri

Mendadak Jadi Istri
Sah


__ADS_3

"Baiklah ayo kita lanjutkan acara resepsi pernikahannya," ucap Ummu Hasna.


Aku pun terdiam dan tidak tahu harus bagaimana lagi bersikap, tanganku di gandeng oleh Ummu Hasna dan Bunda Nirmala wajah mereka memancarkan kebahagiaan, mereka membawaku kembali ke ruang tengah lantai bawah tempat ahad nikah tadi berlangsung.


Ini untuk kedua kalinya aku berada di tengah-tengah tamu undangan yang merupakan keluarga besar Ummu Hasna dan juga Bunda Nirmala, aku kembali di dudukkan di hadapan penghulu berdampingan dengan Adnan.


"Maafkan kami karena acaranya sedikit menemui kendala ada kesalahpahaman, dan salah cetak nama dalam undangan, ini juga termasuk anak saya walaupun bukan saya yang melahirkan, hari ini saya akan menikahkan putri kedua saya dengan putra ummu Hasna, kami selaku pihak keluarga mohon maaf atas ketidak nyamanan para tamu dan kami juga mohon doa restu untuk pernikahan anak kami," ucap Bunda Nirmala pada para tamu undangan.


"Mari Pak penghulu bisa minta tolong diulang acaranya, ijab kabulnya tadi? karena ini tadi ada sedikit kendala" lanjut Bunda mempersilakan pak penghulu untuk menikahkanku dengan Adnan lagi.


"Saya terima nikah dan kawinnya Salsabila Putri binti Ronaldo efindi dengan mas kawin tersebut di bayar tunai," ucapan Adnan terdengar samar samar di telingaku karena saat ini sungguh aku tidak bisa fokus dengan apa yang ada di hadapanku pikiranku melayang entah kemana.


"Sah," Teriak para undangan yang menjadi saksi pernikahan kami.


Bagiku ini seperti mimpi tiba-tiba statusku berubah menjadi seorang istri, yang awalnya aku hanya ingin menolong sahabatku agar pernikahannya batal tapi harus berakhir dengan aku yang tiba-tiba menjadi pengantin beneran aku bengong memikirkan ini semua.


"Ayo berdiri sambut suamimu!" ucap Bunda sambil mencekal tanganku dan itu sukses membuatku terkaget dan kembali ke dunia nyata.


Aku pun berusaha menegakkan tubuhku dan ingin berdiri menuruti perkataan Bunda tapi nasib malang yang aku terima kakiku kesemutan dan aku terjatuh di pelukan Adnan. Sebenarnya ini nasib malang atau keberuntungan ya?.


"Ciye pengantin wanitanya sudah tidak sabaran," goda para tamu undangan. Aku tersenyum kecut sambil berusaha menegakkan kembali badanku.


Kini tangan Adnan berada di pucuk kepalaku, aku dengar samar samar dia melafalkan doa, entah doa apa aku tidak paham.


"Sekarang cium tangan suamimu!" perintah Bunda lagi. Aku pun menoleh ke arah Bunda dan mengangguk tanda aku mengerti, aku segera melakukan perintah Bunda, aku meraih tangan Adnan dan menciumnya, tangan itu sangat harum mungkin dia tadi menyemprotkan parfum di tangannya, aku terlena dengan bau parfum yang ada di tangan Adnan sehingga aku tidak segera melepaskan tangan itu, cukup lama aku mencium tangan Adnan.

__ADS_1


"Ckkk... nafsu amat," gumam Adnan yang masih bisa di dengar orang yang berada di dekat kami.


Aku tersadar dari pesona harumnya parfum Adnan dan aku pun segera melepaskan tangan Adnan dengan tiba-tiba, dan sikapku itu sukses membuat para tamu undangan terkekeh.


"Idih Ning cantik nafsuan banget sudah tidak tahan ya," goda para tamu undangan yang hadir. Aku pun tertegun dan menggaruk tengkukku yang tidak gatal untuk mengurangi rasa malu.


"Cium keningnya," samar samar kembali aku mendengar petunjuk dari Bunda Nirmala.


Aku yang masih merasakan sedikit malu karena sensasi wangi tangan tadi tanpa menunda waktu berharap acara ini segera selesai, aku tanpa membuang waktu lagi segera berjinjit dan mencium kening Adnan sekilas dan di telingaku kembali terdengar riuhnya tawa para tamu undangan yang ada di ruangan itu.


"Astaghfirullah Sabila!" ucap Bunda setengah berteriak.


Aku pun segera menoleh menatap bunda dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Tentu itu salah Sa! seharusnya Adnan yang mencium keningmu , bukan malah sebaliknya Sabila," ucap Bunda sambil mengusap wajahnya kasar.


Seketika wajahku berubah warna seperti lampu lalu lintas, merah padam, seandainya dulu setiap kali datang ke undangan pernikahan aku memperhatikan tata caranya walaupun hanya sekali mungkin aku tidak akan melakukan kesalahan yang sangat memalukan seperti ini, tapi sayangnya dulu setiap dapat undangan ke pesta pernikahan aku hanya mementingkan makanan saja, seandainya waktu bisa di putar aku akan belajar tata cara adat pernikahan ini biar tidak malu seumur hidup.


Adnan pun memegang daguku dengan lembut kemudian mencium keningku sekilas.


"Begini yang benar, makanya jangan main sosor saja," bisik Adnan lalu menjauhkan wajahnya dari wajahku.


Ingin rasanya aku tabok itu mulut ternyata suamiku mulutnya bisa juga seperti ibu ibu kompleks.


Setelah acara ritual pernikahan itu selesai dan aku telah berganti pakaian dengan piyama kesayangaku, segera aku hempasan tubuhku diatas tempat tidur yang penuh dengan kelopak mawar merah, seharusnya kamar ini menjadi milik Nabila tapi takdir berkehendak lain kini malah aku yang menempatinya.

__ADS_1


Ternyata ritual pernikahan itu sangat melelahkan kelihatannya saja yang membahagiakan dan indah ternyata begini rasanya seluruh tubuhku rasanya sakit semua, sejak mulai ahad nikah sampai selesai menyalami para tamu yang hadir aku tidak diberi kesempatan untuk beristirahat sedikitpun sungguh ingin sekali aku berbaring di pelaminan tadi untuk melepas penatku.


Aku segera mengambil ponsel dan menghubungi teman laknatku itu, gara gara dia kini aku mendadak jadi istri, parahnya lagi suamiku seorang ustadz sudah bisa di pastikan pakaianku yang seksi seksi tidak boleh di gunakan, tapi aku akan tetap memakainya masa bodo dia mau marah biarkan saja untung untung kalau dia sampai menceraikanku pasti aku akan bahagia lagi.


Panggilan teleponku segera diangkat setelah dering ketiga.


"Hoiii ...anak monyet sialan! kamu menjebakku ternyata," ucapku kesal.


Bukannya marah Nabila malah tertawa terbahak-bahak semakin membuatku kesal.


"Hahahaha selamat menikmati jadi istrinya ustadz Sabilaku sayang! ingat hidup sama ustadz itu dekat dengan surga loh," ucapnya lagi sambil tertawa.


"Senang banget ya kamu lihat teman menderita, baju-baju seksi ku terancam punah woi! cepat pulang dan gantikan posisiku ngurusi suamimu itu!" ucapku kesal.


"Sadar Sabila yang nikah itu kamu, jadi ya kamu yang ngurusi itukan suami kamu sekarang aku lagi ngurusi calon suamiku sendiri," kekeh Nabila.


"Sialan kamu Na," ucapku emosi.


"Eh mulai sekarang di kurangi itu ngomong jeleknya, jangan suka mengumpat kamu kan sekarang sudah jadi seorang umi istri Abi," goda Nabila lagi.


"Ah seandainya kamu ada di sini Na sudah aku cekik kamu," ucapku gemas.


"Hahaha di nikmati saja ya Sabilaku sayang, aku yakin suatu saat nanti kamu pasti akan berterima kasih padaku karena mengirimkan suami seorang ustadz yang membuat hidupmu semakin berwarna," kekeh Nabila.


"Berwarna gundulmu," ucapku dan langsung aku memutuskan sambungan telepon karena kalau terus-terusan aku berbicara dengan anak ini yang ada darahku semakin naik dan bisa bisa aku jadi stroke, gak lucukan pengantin baru tiba tiba stroke di malam pertama jadi pengantin.

__ADS_1


__ADS_2