
"Ini bukan kodok Mbk! ini teripang," ucap orang yang ikannya terjatuh dan memungutnya kembali menyodorkan ikan itu ke arah dekat wajahku.
Aku pun semakin gelagapan dan terkejut karena ulah orang itu.
"Kodok," teriakku histeris dan semakin menenggelamkan wajahku pada pundak Adnan, sungguh rasa takut ini tidak bisa dihilangkan dari dulu waktu aku masih SMA aku sangat takut dengan yang namanya kodok.
Tanpa aku sadar aku menumpahkan air mineral yang tadi sempat aku beli baru aku buka tutupnya mau aku minum tapi sudah keduluan Abang Abang pembawa ikan itu bikin ulah.
"Sabila kamu ini airnya tumpah semua jadi basah semua kan bajunya," ucap Adnan dengan suara berbisik di telingaku.
Aku pun shock karena melihat bagian bawah celanaku sudah basah semua, ini salah Mamang pembawa ikan tadi saking takutnya sampai tumpah semua itu air mineral kan sayang belum meminum.
"Efek takut gugup ada kodok itu," ucapku dengan bibir cemberut.
"Pulang yuk!" rengekku pada Adnan.
"Turun dulu dan ayo kita pulang," ucap Adnan membujukku.
"Tidak mau aku takut," rengekku masih dengan berada di gendongan Adnan.
"Cie .. pengantin baru selalu bisa mencuri-curi waktu dan kesempatan untuk bermesraan di manapun berada," ucap salah satu orang yang berada di pasar itu.
"Iya maklumlah namanya juga pengantin baru pinginnya nempel terus," sahut yang lainnya.
"Denger itu Sabila orang-orang itu membicarakan kita," bisik Adnan.
"Aku tidak peduli kamu kan suamiku biarkan saja mereka mau bicara apa, ayo pulang Adnan," ucap Sabila kembali merengek.
Adnan pun menghela nafas mau tidak mau dia pun akhirnya menuruti kemauan istrinya, walaupun saat ini dia belum mendapatkan semua belanja yang ada di catatan yang bunda berikan tadi.
__ADS_1
Sabila menenggelamkan dagunya di pundak Adnan dan memeluk erat tubuh suaminya itu, selain rasa takut, malu, Sabila juga merasa capek sejak tadi berjalan mondar-mandir di pasar, dengan begini lumayan lah Sabila bisa mengurangi rasa capeknya.
Pria yang tadi menjatuhkan ikan melihat Sabila yang bergelayut manja di gendongan Adnan pun memiliki ide jahil lagi-lagi dia menakut-nakuti Sabila.
"Kodok...Mbk...kodok," ucapnya sambil berjalan mendekati Sabila dan setelah itu berjalan agak menjauh lagi padahal tangannya kosong tidak membawa apa-apa.
"Kodok...kodok.... Mamang ini rese sekali sih bikin orang takut saja! aku sumpahin wajah Mamang berubah seperti kodoj," ucapku sebal.
Orang -orang yang mendengar ucapanku tanpa disaring terlebih dahulu itu pun cekikikan.
"Hust Sabila tidak boleh begitu! tidak boleh ngomong gitu gak sopan," bisik Adnan.
"Mamang itu sih bikin orang kesel saja, sudah tahu aku takut malah di takut-takuti," ucapku manja.
Hari ini apes sekali sudah badan gemetaran karena takut pakai baju basah semua belum dapat semua belanjaan pula. Ingin membeli baju ganti toko yang menjual pakaian pun berada di pasar bagian dalam dan sangat jauh dari parkiran itu artinya kami harus berjalan masuk lagi ke dalam pasar, karena malas akhirnya aku membujuk Adnan dan mengajaknya untuk segera pulang akhirnya kami pun pulang dengan hanya membawa belanjaan sayuran dan kue pesanan bunda untung saja tadi kami sempat mengambilnya terlebih dahulu kalau tidak sudah pasti kami pun akan meninggalkan kue itu dan mengambilnya lagi nanti setelah berganti pakaian.
Sesampainya di rumah aku berjalan cepat menuju kamar untuk segera berganti pakaian karena aku merasa risih pakaianku basah semua karena air mineral satu botol penuh tadi.
"bocor," jawabku asal dan segera mempercepat langkahku untuk menghindari ejekan Nabila jika dia tahu apa sebenarnya yang terjadi.
"Loh Kakak juga kok basah bajunya, hayo apa yang kalian lakukan di mobil? jangan-jangan kalian nganu ya?" ucap Nabila sambil cengengesan.
Ucapan Nabila masih bisa aku dengar dengan jelas, ku hentikan langkahku dan berbalik menatap Nabila.
"Tidak usah sok tahu ya! kalau bukan itu yang terjadi bisa jadi fitnah loh," ucapku kesal.
Melihat aku yang kesal pun Nabila semakin terbahak-bahak, ketika aku melihat Nabila ingin membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu aku pun segera bergegas melanjutkan langkahku, aku yakin Nabila pasti akan meledekku sebelum hal itu terjadi lebih baik aku bergegas pergi cari aman saja.
Aku pun segera masuk kamar dan menuju lemari mencari baju ganti, niatnya tadi tidak mau mandi malah harus mandi gara-gara belut sialan itu.
__ADS_1
****
"Sabila kok ayam dan ikannya tidak di beli, malah ini ada bayam, daun seledri, dan selada kan Bunda tidak mencatat ini semua," ucap Bunda yang sedang membongkar belanjaan.
"Maaf Bunda ayam dan ikannya gak sempet kebeli karena terjadi insiden mendadak, kalau soal bayam, selada, dan daun seledri itu tadi bonus dari ibu penjual sayur," jawabku.
Aku enggan mengatakan insiden memalukan tadi untung saja saat ini Adnan tidak berada di dapur bersama kami coba kalau ada mau di taruh di mana mukaku karena malu masa iya aku taruh di baskom kan gak lucu.
"Ya sudah ayo kita mulai acara masaknya, Bunda lihat ayam di kulkas masih cukup bisa di buat jamuan, nanti kita tambah menunya dengan olahan telur," ucap Bunda.
Bunda berjalan ke kulkas mengambil bahan yang masih ada di sana untuk diolah menjadi masakan, Nabila duduk di meja makan memotong sayuran dan aku pun memilih mengupas bawang ikutan duduk di sebelah Nabila.
"Na ...Na aku kasih tahu ya! masa tadi ibu-ibu tukang sayur di pasar ngomong kalau tiga macam sayur itu bagus untuk pengantin baru, katanya bisa menambah stamina di malam pertama," ucapku berbisik pada Nabila.
"Masa?" ucap Nabila sambil menatapku penasaran.
"Yang mana sayurannya?" tanyanya lagi.
"Yang itu selada, bayam, dan daun seledri," ucapku sambil menunjukkan ketiga macam sayuran itu.
"Masa iya sih? aku baru denger, coba suruh Adnan memakannya dan praktekkan benar gak ucapan ibu-ibu tukang sayur itu, kalau benar nanti aku akan menyetok yang banyak untuk Bara," ucap Nabila.
"Ogaaaahhh," jawabku ketus.
"Lah kan tadi kamu ngomong gitu Sabila, jadi aku perlu testimoni dulu baru ikutan coba," jawan Nabila sambil cengengesan.
"Oh maaf dan terima kasih saya tidak minat jadi model testimoni! membayangkan saja sudah ngeri, kalau si Adnan nafsu terus itu sayuran beneran bawa khasiat bisa-bisa paginya auto gak bisa turun dari tempat tidur aku," ucapku sambil bergidik ngeri.
"Siapa Sa yang tidak bisa turun dari ranjang?" tanya Bunda yang tiba-tiba sudah ada di belakang kami entah sejak kapan Bunda mendengar percakapanku dengan Nabila.
__ADS_1
"Ah gak Bun ini loh si Nabila lagi minta di ajarin tata cara malam pertama katanya biar sudah pintar nanti pas malam pertama dengan Bara," jawabku sambil tersenyum.
Aku melirik Nabila dan bisa aku lihat dengan jelas kalau saat ini dia sedang menatapku dengan mata melotot lebar, rasanya aku ingin tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Nabila.