Mendadak Jadi Istri

Mendadak Jadi Istri
Pura Pura sakit


__ADS_3

Setelah aku berganti pakaian, aku pun segera berjalan menuju meja rias, seperti biasa rutinitas make up, wajahku tidak boleh tanpa make up saat keluar dari kamar wajib dan harus berdandan walaupun tidak mandi yang penting make up dan minyak wangi selalu ada.


Aku lihat bayangan diriku di cermin sudah sempurna, aku pun iseng iseng menggoda Adnan, aku pun berjalan menghampiri Adnan yang tengah duduk santai di sofa. Aku pun berdiri di depannya dengan menggunakan celana pendek sepaha juga kaos lengan pendek.


"Bagaimana aku sudah cantik Kan?" ucapku sambil berputar putar dihadapannya.


"Kalau saat bersamaku dan ada di dalam rumah kamu boleh berdandan dan berpakaian seperti ini, tapi jika kita keluar rumah usahakan pakai pakaian yang tertutup," ucap Adnan tegas.


Aku pun mencebikkan bibirku.


"Halah sok ngatur," ucapku.


Adnan mengangguk tegas dan berdiri dari sofa.


"Saya berhak ngatur kamu soal berpakaian dan lainnya karena kamu istri saya," ucap Adnan sambil melangkah menuju pintu kamar dan membukanya.


"Ya istri di atas kertas," jawabku santai sambil mengikutinya dari belakang.


Adnan pun mengurungkan kakinya melangkah keluar dia menoleh ke arahku.


"Istri di buku nikah, dihadapan penghulu, dihadapan saksi dan yang terpenting di hadapan Allah," jawabnya penuh penekanan.


"Tapi aku tidak cinta kamu," ucapku tidak mau kalah.


"Belum, nanti pasti kamu jatuh cinta," jawabnya sambil terus berjalan.


Mendengar jawaban Adnan aku jadi kesal sendiri aku kepalkan tanganku di belakang kepalanya seakan akan ingin menonjok di Adnan tapi aku tidak ada nyali untuk menonjoknya beneran.


"Siapa lagi yang akan jatuh cinta sama kamu, enggak banget orang penampilannya saja gak gaul, pakai sarung, baju Koko, celana bahan, gak modis banget," gerutuku.


Aku yakin Adnan bisa mendengarnya tapi dia lebih memilih diam saja, perutku sudah lapar di tambah lagi Adnan yang membuatku semakin kesal sukses ini perut demo minta untuk di isi.


Aku pun segera berjalan menuju meja makan untuk sarapan, aku yakin jam segini bunda dan para asistennya sudah selesai masak.

__ADS_1


Hatiku bagaikan ditusuk sembilu saat melihat pemandangan di meja makan, bunda terlihat sedang melamun menatap makanannya bahkan makanan itu tidak tersentuh olehnya, aku yakin saat ini bunda sedang memikirkan Nabila yang entah pergi kemana setelah rencananya untuk menjebakku berlangsung dan berakhir aku jadi korbannya.


"Bunda...Bunda kenapa?" tanyaku sambil menyeret kursi yang ada di samping Bunda untuk aku pakai duduk.


"Eh Sabila kamu sudah bangun Nak, ayo sarapan!" ucap Bunda mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Ada apa Bunda? coba cerita sama Sabila kan Sabila juga anak Bunda, siapa tahu Sabila bisa membantu menyelesaikan masalah Bunda," ucapku. Aku genggam tangan bunda dengan penuh kasih, rasanya aku sedang menenangkan ibuku sendiri walaupun itu tidak pernah aku lakukan.


"Bunda kepikiran Nabila, Sa! setelah acara hari itu kemarin sampai sekarang dia tidak kunjung pulang, entah pergi kemana dia, sudah makan atau belum dia Bunda sangat khawatir padanya," ucap Bunda.


Aku faham bagaimana sayangnya Bunda kepada Nabila, dia putri semata wayangnya Bunda Nirmala, setelah ayahnya meninggal dunia bunda menjadi single mom yang selalu berusaha memberikan kebahagiaan untuk putrinya tapi dasar si Nabila bisa bisanya dia membuat bunda khawatir dan cemas seperti ini.


"Aku akan menghubunginya Bunda, aku akan katakan padanya kalau Bunda sedang sakit aku yakin dia akan segera pulang, karena Nabila sangat menyayangi Bunda walaupun Nabila itu keras kepala dan jika punya kemauan tidak bisa di tolak," ucapku.


"Tapi kok kita harus bohong sih, Sa,! nanti kalau dia panik bagaimana?" ucap Bunda yang masih memikirkan keselamatan anaknya.


"Tenang saja Bun, tidak akan terjadi apa apa pada Nabila, aku yakin dia segera pulang setelah mendengar kabar Bunda sakit, nanti kalau sudah pulang kita ikat dia biar gak bisa kemana mana," ucapku cengengesan.


"Hahahaha cuma bercanda Bun! gimana Bun setuju atau tidak kalau Bunda pura pura sakit," ucapku lagi.


Bunda terlihat seperti ragu, mungkin dia tidak tega membohongi Nabila, Bunda pun menoleh ke arah Adnan yang entah sejak kapan dia duduk di depanku aku terlalu serius sama bunda hingga tidak sadar kalau Adnan sudah ada diantara kami.


Adnan pun mengangguk tanda setuju dengan usulku.


"Baiklah Bunda ngikut rencanamu saja Sa," ucap Bunda yang akhirnya setuju dengan usulku.


"Hore Bunda akhirnya setuju," teriakku kegirangan.


"Kenapa juga harus lihat suamiku dulu sih Bun buat menyetujui rencana brilianku," ucapku sambil pura pura cemberut.


Adnan yang mendengar aku menyebutnya suami, dia pun kaget sampai tersedak makanan mengakibatkan Adnan sampai terbatuk-batuk.


"Hahahaha shock Pak Ustadz? nikah sama aku harus siap mental," ucapku sambil mengerlingkan sebelah mataku.

__ADS_1


Aku segera mengambil ponsel yang aku gletakkan di meja makan tidak jauh dari tempatku duduk, segera aku cari nomor Nabila dan segera aku telepon.


Tidak menunggu lama sambungan teleponku pun segera diangkat oleh Nabila.


"Ada apa pengantin baru mau cerita soal malam pertama ya? masih pagi buta sudah telepon orang," ucap Nabila cengengesan.


"Tutup mulutmu Na! main nyerocos saja, dimana kamu sekarang Na cepat pulang! Bunda tiba tiba sakit dan aku bingung harus ngapain," ucapku pura pura cemas.


"Apa katamu Sa, Bunda sakit? jangan bohong kamu Sa kemarin Bunda baik baik saja, soal kesehatan Bunda kamu jangan coba-coba berbohong Sa bisa kualat kamu," ucap Nabila.


Dibalik kecerewetannya terdengar jelas kalau dia saat ini sedang panik.


"Untuk apa aku bohong Nabilaku Sayang, Bunda tiba tiba drop karena rencana sialan mu itu, Bunda kepikiran jadi sampai beliau sakit, untung saja aku masih hidup tidak digebukin masa karena menggantikan pengantin yang kabur, " ucapku.


"Hahahaha rezeki kamu Sa menikah dengan ustadz kan kamu bisa masuk Islam," ucap Nabila cengengesan.


"Aku kan sudah sejak lahir Islam Na, walaupun cuma Islam KTP, ah kenapa kita malah bahas itu sih Na, ayo cepetan pulang Bunda sakit ini, jangan sampai kamu menyesal loh kalau tidak segera pulang," ucapku lagi.


"Apaan sih Sa kamu kok malah membuat aku khawatir, apakah Bunda separah itu? bilang sama malaikat maut jangan datang dulu aku akan segera pulang," jawab Nabila yang masih berusaha menyembunyikan kepanikannya.


"Dasar anak durhaka kamu Na," ucapku sambil segera menutup telepon.


Bunda sejak tadi menatapku, aku yakin Bunda juga khawatir sama keadaan anaknya ini.


"Dia mau pulang kan, Sa?" tanya Bunda.


"Iya Bun, Nabila sebentar lagi pulang, sebaiknya Bunda pura pura sakit saja di kamar kalau perlu Bunda berakting sakit parah," ucapku.


"Tapi Sa Bunda tidak tega melihat Nabila panik dan mengkhawatirkan keadaan Bunda," ucap Bunda lagi.


"Sudahlah Bun jangan terlalu manjakan Nabila, sekali kali kita kasih pelajaran dia biar kapok," ucapku pada Bunda.


"Baiklah aku Ikut saja," ucap Bunda akhirnya menurut padaku.

__ADS_1


__ADS_2