
Bunda Nirmala mengelus dada sambil terdengar beberapa kali beristighfar, mungkin dia sesak merasakan anaknya berhijab tapi kelakuannya tidak jauh berbeda dariku yang urakan, kalau kataku sih Nabila ini STMJ, sholat terus maksiat jalan.
Eh kalian jangan menuduhku yang mengajak Nabila sesat loh memang aku sesat tapi tidak pernah mempengaruhi orang untuk ikut ikutan denganku, setan kita beda server.
"Nabila cepat hubungi kekasihmu itu bilang padanya suruh dia segera datang kemari untuk melamarmu kalau dia menolak kalian putus saja," ucap Bunda tegas.
"Tapi Bunda aku tidak mau nikah muda, kita masih sama sama kuliah terus kalau kita menikah punya anak mau dikasih makan apa anak anak kita toh kita belum ada yang bekerja," ucap Nabila dengan menampilkan wajah melasnya. Ini jurus andalan Nabila saat merayu Bunda Nirmala jika dia menginginkan sesuatu.
Tapi kalau buatku wajah seperti itu sudah gak ngefek setelah aku jadi korban penipuannya.
"Kekasih Nabila anak orang kaya Bun, ayahnya seorang pemilik cafe sekaligus pemilik restoran besar di tempat kami kuliah," ucapku kembali jadi kompor.
"Diam kamu Sa!" ucap Nabila melotot ke arahku.
Aku pun menanggapinya dengan menjulurkan lidah biar dia pun segera menikah dengan Bara jadi aku ada temannya nikah muda enak saja aku sudah terikat pernikahan karena ulahnya dia malah enak enakan masih bebas gentayangan itu tidak akan pernah aku biarkan.
Aku pun menoleh ke arah Bunda Nirmala lagi
"Bun... katanya menurut agama Islam pacaran itu dosa ya?" tanyaku pada Bunda.
Dan Bunda pun menjawabnya dengan anggukan.
"Kalau begitu suruh Nabila dan Bara segera menikah saja Bun! kalau mereka terlalu lama pacaran maka terlalu banyak dosanya, dan kalau mereka sampai keblabasan kan sudah halal kalau mereka sudah menikah," ucapku kembali membujuk Bunda agar segera menikahkan Nabila dan kekasihnya.
__ADS_1
"Ihhh kamu Sa! berhenti jadi setan penghasut," ucap Nabila sambil melotot ke arahku dan aku pun menanggapinya dengan cengiran.
"Apa yang salah sih Na? yang aku katakan itu benar loh! iya kan Bun?" ucapku kembali menghasut Bunda.
"Jangan dengarkan Sabila Bun! Sabila itu setan tukang menghasut," ucap Nabila cepat.
"Eh aku setan sudah tobat ya, sudah insyaf juga sudah mualaf nyatanya sekarang aku bisa ngajakin kamu untuk mencari pahala dan menjauhi dosa, pacaran itu dosa kalau sudah nikah di pegang pegang itu pahala," ucapku lagi.
"Baru jadi ustadz dua malam kamu sudah pintar ceramah ya Sa," ucap Nabila kesal.
"Bunda jangan dengarkan si Sabila, kami belum bisa menikah di waktu dekat ini Bun kalau sudah lulus kuliah baru kami bisa, setelah lulus kuliah Bara akan mengambil ahli perusahaan milik ayahnya yang saat ini di pegang om nya, saat itu kami bisa menjadi sepasang suami istri yang sempurna, Bara sudah bekerja dan aku bisa tenang menjadi ibu rumah tangga tanpa memikirkan kekurangan uang," lanjut Nabila merayu Bunda dengan alasan yang menurutku tidak masuk akal.
"Eh jangan begitu Na! jangan takut kekurangan saat baru menikah, menunda pernikahan dengan alasan takut kekurangan uang itu salah toh rezeki sudah ada yang mengaturnya setelah menikah adalah awal rezeki baru untuk kalian, kalaupun kalian tetap memilih untuk berpacaran tidak ada jaminan kalian akan tidak berbuat macam-macam kalau sampai ke blablasan dan berakibat fatal Bunda juga yang malu loh Na," ucapku kembali mengompori. Aku pun heran dari mana juga otakku dapat kata kata mutiara yang begitu indah dan agamis itu.
"Kalau menurutmu bagaimana Adnan? betul atau tidak ucapanku itu," ucapku meminta pendapat Adnan tapi sebenarnya aku bukan meminta pendapat melainkan meminta dukungan agar niatku untuk membuat Nabila segera menikah tercapai. Ayo lah ustadz Adnan dukung istrimu ini.
Adnan pun tersenyum manis senyum yang hanya sekilas terlihat, suamiku kalau seperti itu sungguh membuatku gemas ingin rasanya aku berkata "Bang senyumnya di tambah dong! dedek merasa kurang puas lihat senyumnya," tapi itu hanya angan ku tidak bisa aku ucapkan secara langsung gengsi tahu.
"Kalau menurut pendapatku, tidak ada yang namanya pacaran secara syariah dalam islam atau pertemanan antara laki-laki dan perempuan juga sebenarnya di larang dalam agama kita karena orang ketiga diantara persahabatan itu adalah setan yang dibungkus cinta, pacaran syariah hanya tipu daya setan agar kita beranggapan pacaran itu halal menurut syariat Islam toh nyatanya tidak ada pacaran halal," ucap Adnan menjelaskan.
Aku pun bersorak gembira dalam hati saat mendengar Adnan yang tidak secara langsung mendukungku.
"Dengarkan itu Na!" ucapku sambil menaikkan sebelah alisku. Aku lihat Nabila sedang menahan emosinya agar tidak menghajarku karena aku yakin seandainya tidak ada Bunda di sini mungkin aku sudah babak belur dihajar Nabila.
__ADS_1
"Pacaran yang halal itu pacaran setelah menikah," lanjut Adnan,"Seperti aku dan Sabila sekarang,".
Mendengar ucapan yang terakhir Adnan tenggorokanku terasa kering dan aku pun terbatuk-batuk.
"Huuukkk....huuukkk,".
Bisa bisanya dia menyempatkan diri untuk menjedah ucapannya hanya untuk mengatakan kata kata yang membuatku terkaget-kaget.
"Ih Kok ujung ujungnya kita sih Bambang!" ucapku kesal. Biarin aku ganti namanya jadi Bambang kalau dia tidak terima biar demo sana.
Aku menatap mata Adnan yang meneduhkan itu ada kedamaian di sana aku yakin jika wanita lain yang menatapnya akan jatuh cinta padanya tapi itu tidak berlaku untukku karena dia bukan tipeku.
"Ya memang seperti kita, toh pernikahan kita terjadi tanpa adanya ta'aruf atau pacaran, jadi kita akan pacaran sekarang setelah kita menikah," ucapnya santai sambil tersenyum manis ke arahku.
Ini apa apaan bukannya tadi dia sedang memberikan tausiyah untuk si Nabila hitung hitung siraman rohani la ini ujung ujungnya aku juga kena kan jadi sebal.
"Tapi aku.._
"Sudah ... sudah jangan di teruskan ngebantahnya Sa! biarkan Adnan melanjutkan perkataannya hitung hitung si Nabila biar faham arti pacaran," ucap Bunda memotong perkataanku sambil mengelus punggungku penuh kasih sayang.
"Ayo Adnan lanjutkan!" ucap Bunda.
"Orang tua menikahkan anak anaknya di usia muda tidaklah salah tapi sebagai orang tua kita harus membimbing anak anak kita untuk menjalani pernikahan itu karena biasanya anak anak yang menikah di usia muda berbeda dengan yang umurnya sudah dewasa mereka lebih mengutamakan emosi dan egonya, banyak rumah tangga mereka berantakan dengan bermacam-macam alasan yang saya rasa alasan itu terlalu di buat buat," ucap Adnan.
__ADS_1
Eh ternyata suamiku ini begitu banyak pengetahuannya tentang pernikahan itu sebabnya selama dua hari ini dia bersikap sabar menghadapiku tapi jangan khawatir Sayang masih banyak hari esok yang aku gunakan untuk menguji kesabaranmu sampai kamu menyerah sendiri dan kita pun berpisah akhirnya, ternyata otakku genius sekali.